
Kiara menggandeng tangan Dean dan mengajaknya ke dapur untuk mengambil puding roti yang tadi siang dia sudah buat.
"Tante, apa Tante belum punya anak?"
"Belum, Dean. Kenapa memangnya?"
"Tidak apa-apa, Tante. Tante Kiara nanti kalau punya anak mau laki-laki atau perempuan?"
"Hm ... Tante sih inginnya perempuan, sama seperti keinginan Om Arthur."
"Wah! Kalau begitu sama seperti yang aku inginkan."
"Maksud kamu?"
"Dean juga ingin Tante Kiara nanti memiliki anak perempuan yang cantiknya sama seperti Tante Kiara."
"Oh ya? Kamu tidak ingin Tante memiliki anak laki-laki. Jadi, nanti saat kamu main ke sini bisa bermain bola dengannya."
Dean menggeleng dengan pelan. "Kalau anak Tante perempuan, nanti saat kami sudah besar, aku bisa pacaran dengannya."
Seketika Kiara tertawa dengan senangnya. "Ya ampun, Sayang! Kamu kenapa berpikirnya sampai sejauh itu?"
"Orang berpacaran itukan saling menyayangi, Tante. Aku sayang sama dia, dia juga sayang sama aku."
"Baiklah. Tante juga senang anak Tante memiliki sahabat baik seperti kamu." Tangan Kiara mencubit lembut hidung Dean. "Sekarang kita bawa puding ini ke ruang tengah."
"Okay!"
Kiara membawa nampan yang berisi puding roti dan Dean jalan di depannya membawa dua gelas susu coklat.
"Pak Arthur! Terima kasih sekali lagi karena mau menolongku dan Dean, padahal hal ini juga bisa membuat Pak Arthur dan Kiara dalam masalah." Manda yang memegang telapak tangan Arthur tampak menangis.
Kiara yang memasuki ruang tengah agak sedikit kaget melihat suaminya dan Manda yang duduk dengan tangan Manda yang memegang tangan suaminya.
"Tidak perlu berterima kasih, semua aku lakukan sangat tulus untuk kalian." Arthur menepuk-tepukkan tangannya pada tangan Manda yang ada di atas tangannya kemudian dia melepaskan dengan perlahan.
"Mami! Aku dibuatkan Tante Kiara susu coklat dan rasanya enak sekali. Ini satunya untuk Om Arthur." Dean memberikan segelas susu coklat pada Arthur.
"Terima kasih, Dean. Terima kasih, Sayang," ucap Arthur pada Kiara.
Mereka menikmati puding roti buatan Kiara, tapi tidak lama Dean mengeluh pada Kiara yang duduk di sampingnya jika badannya terasa tidak enak. Dean menggaruk-garuk tubuhnya dan merasakan beberapa bagian tubuh yang terasa panas.
"Dean, kamu kenapa?" tanya Kiara.
"Mami, tubuhku kenapa?"
Manda mencoba memeriksa keadaan putranya. "Oh Tuhan! Kamu alergi makanan."
"Alergi makanan? Dia alergi makanan apa, Mba Manda? Apa telur?"
"Jamur, Kiara."
"Jamur? Tapi tadi Kiara tidak memasak yang ada jamurnya."
"Mas, aku memakai bubuk jamur sebagai kaldunya, tapi aku tidak tau jika Dean alergi dengan jamur."
"Mami, nafasku terasa sesak."
"Oh Tuhan, Dean! Maafkan Tante." Kiara seketika menangis melihat keadaan Dean.
"Aku akan membawanya ke dokter sekarang."
Arthur segera menggendong Dean dan mereka berdua ikut Arthur menuju rumah sakit yang kebetulan di dekat apartemen Arthur ada rumah sakit besar.
"Dok, tolong anak saya sepertinya alerginya kambuh setelah tidak sengaja mengkonsumsi jamur."
"Bapak bawa dia langsung ke ruangan saya, dan segera akan saya periksa."
Dokter segera memeriksa Dean. Tidak lama perawatan juga memasangkan oksigen pada hidung Dean. Perawat juga memberikan suntikan pada Dean.
"Mas, apa Dean akan baik-baik saja?"
"Sayang, kamu tenang saja. Dean akan baik-baik saja dan kamu jangan khawatir." Arthur mencoba menenangkan istrinya dengan memberi pelukan hangat.
"Mami, badanku tidak enak," ucap Dean lirih.
"Kamu akan baik-baik saja, Sayang. Mami ada di sini." Manda mencoba menenangkan putranya.
Dokter mengatakan jika Dean harus dirawat di sana sampai keadaannya membaik, dan Arthur yang merasa bertanggung jawab akan membiayai dan memberikan perawatan yang terbaik untuk Dean.
Malam itu Dean dipindahkan di kamar VIP dan Manda menemaninya di sana. Wajah Manda tampak sedih melihat keadaan putranya yang baru beberapa hari keluar dari rumah sakit dan sekarang harus menginap lagi di rumah sakit.
"Mba Manda, apa boleh aku bicara sama Dean?"
"Silakan, Kiara, tapi jangan lama-lama supaya dia bisa beristirahat." Wajah Manda tampak datar.
Kiara mengangguk dan dia kemudian duduk di samping ranjang Dean, tangan Kiara menggenggam tangan bocah kecil yang tampak masih lemas itu.
"Dean, Tante Kiara mau minta maaf sama kamu."
"Tante tidak salah, kok."
"Tante benar-benar tidak tau jika masakan Tante sampai membuat kamu seperti ini."
"Tante Kiara jangan menangis, dan ini semua bukan salah, Tante. Masakan Tante enak sekali, kok."
"Terima kasih." Kiara mengecup kening Dean."
Arthur sedang berdiri bicara dengan Manda. Arthur meminta Manda pulang untuk mengambil kebutuhan Dean selama di sana dan nanti dia dengan Kiara akan menjaganya.
"Pak, besok pagi saja saya pulangnya dan meminta perawat menjaga Dean sebentar karena ini juga sudah malam, saya tidak berani mengendarai mobil malam hari seperti ini."
"Mas, kamu antar saja Mba Manda untuk pulang. Biar aku yang menjaga Dean di sini."
"Tapi apa kamu tidak apa-apa, Sayang?"
"Tidak apa-apa, Mas. Ini juga sudah malam, tidak baik Manda naik mobil sendirian."
Arthur akhirnya mengantar Manda pulang ke rumah. Sedangkan Kiara menunggu Dean yang sekarang sedang tertidur.
"Kepalaku kenapa pusing lagi seperti ini?" Kiara kembali memijit kepalanya. Dia tidak mau mengatakan pada Arthur jika dia dari tadi siang merasakan sakit kepala karena tidak mau membuat suaminya khawatir.
Di rumah, Manda mengambil beberapa baju Dean dan mainan yang mungkin Dean akan menanyakannya. Setelah semuanya dia masukkan ke dalam tas, Manda kembali ke mobil di mana Arthur sudah menunggunya.
"Apa tidak ada yang terlupa?"
"Semua sudah saya bawa, Pak. Pak, besok saya mau izin lagi untuk tidak masuk kerja."
"Iya, tidak apa-apa karena semua ini bukan salah kamu. Oh ya, Manda. Aku minta maaf karena sudah membuat Dean harus dirawat lagi di rumah sakit."
"Ini semua bukan salah Pak Arthur. Seharusnya saya tadi bertanya pada Kiara tentang masakan yang dia buat memakai bubuk apa karena dulu Dean juga pernah seperti ini saat aku ajak makan di luar, dan dari situ saya tau dia alergi jamur."
"Dean, akan baik-baik saja, kamu tenang saja Manda."
"Iya, Pak." Arthur menjalankan mobilnya menuju rumah sakit.
Mobil Arthur berhenti sejenak karena lampu rambu lalu lintas menunjukkan warna merah. Arthur melihat pada Manda yang tengah menangis.
"Manda, kamu kenapa?"
"Tidak apa-apa, Pak." Manda sebenarnya sedang memikirkan sesuatu yang mengganggunya selama ini, tapi dia tidak mau menceritakan semua itu pada siapapun.
"Pria brengsek! Bisa-bisanya kamu berduaan dengan wanita lain malam-malam begini," ucap seseorang yang berhenti tepat di samping mobil Arthur di mana waktu itu Arthur membuka kaca jendelanya.