Be Mine

Be Mine
Masuk Kuliah Part 1



Ketiga wanita itu tampak berdiri di depan Arthur dengan wajah takut. Mereka bahkan saling melihat satu sama lain saat Arthur memandang satu persatu wanita yang sebenarnya Arthur sudah tau tentang mereka, tapi Arthur masih diam saja karena menunggu mereka datang sendiri ke hadapannya.


"Apa maksud kalian dengan menghina istriku seperti itu? Apa mengenalnya, sehingga bisa mengatakan hal seburuk itu padanya?"


"Kami minta maaf, Pak Arthur, kami tidak tau jika dia memang istrimu, waktu itu kami hanya tidak suka saja melihat ada seorang gadis datang bersama orang yang terpandang sepertimu, apa lagi saat kami mendengar ada kabar jika gadis itu hanya gadis biasa dari kalangan orang miskin. Jadi, kami langsung tidak terima dengan hal itu."


Tangan Arthur tiba-tiba mencengkeram dagu wanita yang tadi menjelaskan semuanya. Bibi Yaya di sana agak khawatir jika Arthur akan berbuat kasar.


"Memangnya kenapa kalau istriku dari kalangan orang miskin? Siapa kalian? Kalian hanya para istri dari seorang karyawan kecil di perusahaan dan kalian juga hanya bisa menghambur-hamburkan uang suami kalian agar terlihat hidup seperti seorang sosialita. Kalian tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan istriku yang kalian hina." Arthur melepaskan cengkeramannya dengan kasar.


"Maka dari itu kami minta maaf karena sudah melakukan hal itu dan kami janji tidak akan mengulanginya lagi."


"Mas, ada apa?" Kiara tiba-tiba ada di sana dan dia sangat terkejut melihat ketiga wanita yang dia kenali sudah berbuat buruk padanya saat di pertunangan Mega.


"Kamu masih mengenali mereka, kan Sayang?"


"Untuk apa mereka ke sini, Mas?"


"Katakan pada istriku, untuk apa kalian ke sini?"


Mereka bertiga seketika mendekat secara bersamaan pada Kiara dan mereka pun menangis meminta maaf pada Kiara karena perbuatan mereka yang sudah keterlaluan pada Kiara.


Kiara yang memang baik dan tidak ingin memiliki musuh atau dendam dengan siapapun akhirnya memaafkan ketiga wanita itu.


"Aku sudah memaafkan kalian."


"Terima kasih, Kiara." Kiara terlihat tersenyum pada mereka. Pun dengan ketiga wanita itu.


"Kalau begitu kami mau izin pamit dulu karena kamu tidak mau mengganggu kalian."


"Tunggu!"


"Ada apa lagi, Mas? Biarkan saja mereka pergi."


"Siapa yang sebenarnya menyuruh kalian?"


"Ma-maksud kamu apa, Pak Arthur." Wajah ketiga orang itu seketika terkejut.


"Kalian pasti tau apa yang aku maksud?"


"Mas, maksud Mas Arthur mereka melakukan hal buruk itu padaku karena disuruh oleh seseorang?"


"Tentu saja mereka melakukannya atas perintah seseorang yang tidak suka kamu ada di sana."


"Kami tidak disuruh oleh siapapun, Pak, kami melakukannya karena seperti apa yang aku katakan tadi."


Arthur sekali lagi mencengkram salah satu wanita di sana. "Jangan bohong!"


"Mas, jangan kasar seperti itu!" Kiara segera melepaskan tangan suaminya dan memeluk pria yang tampak diliputi wajah marah itu.


"Katakan sejujurnya, atau jabatan suami kalian di perusahaan di mana suami kalian bekerja akan terancam."


Mereka bertiga langsung pucat dan melihat satu sama lain.


"Mas, sudah! Kamu tidak perlu berbuat seperti itu, kalau Mas berbuat jahat sama mereka, itu artinya Mas sama saja seperti mereka. Aku sudah tidak mau mempermasalahkan masalah ini lagi, dan aku tidak peduli mereka disuruh atau tidak oleh orang lain, aku tidak mau peduli. Sekarang aku hanya ingin hidup tenang saja."


"Kami benar-benar minta maaf, tidak seharusnya kami menurut dengan apa yang Tante Kella suruh."


"Apa? Tante Kella?"


"Sudah kuduga. Suami kalian bekerja di perusahaan suaminya dan dia pasti yang menyuruh kalian dengan menggunakan kekuasaannya."


"Sekali lagi kami minta maaf, Kiara."


"Pergi kalian dari sini," usir Arthur tegas.


Mereka bertiga berjalan pergi dari sana. Kiara melihat pada suaminya, di mana wajah Arthur masih menampakkan kekesalan.


Kiara mengajak suaminya masuk ke dalam dan diikuti oleh Bibi Yaya. Kiara mengambilkan air minum untuk Arthur dan pria itu dengan cepat menghabiskannya dengan sekali teguk.


"Aku akan memberi peringatan pada Tante Kella karena sudah berani mengusik kehidupanku. Mamaku juga pasti ikut andil dalam hal ini."


"Jangan menuduh mama kamu seperti itu karena belum tentu mama kamu juga ikut menyuruh mereka, dan aku tidak mau Mas mencari masalah dengan Tante Kella. Mega dan Elang akan segera menikah, aku tidak mau nanti Mega akan semakin membenciku."


"Benar apa yang dikatakan oleh Kiara, Arthur. Kalau kamu sampai menemui mamanya Elang, hal itu bisa akan menjadi masalah baru."


"Huft! Kenapa aku harus menjadi satu keluarga dengan orang seperti keluarganya Elang?" Arthur melihat pelipisnya.


***


Hari berlalu dengan cepat, hari ini Kiara akan masuk kuliah setelah dia mengikuti ujian untuk bisa diterima di kampus di mana dia mendapatkan undangan karena nilainya yang sangat bagus.


Arthur yang baru saja bangun menatap istrinya dari tempat tidurnya. Dia melihat Kiara yang sedang berdiri di depan cermin merapikan kemejanya.


"Cantik sekali. Rasanya aku tidak rela kalau kamu masuk kuliah karena pasti banyak lelaki yang nanti menggodamu."


"Kenapa Mas pikirannya negatif negatif begitu? Mereka kuliah karena ingin lebih memperoleh pendidikan yang lebih tinggi, dan aku juga ingin kuliah karena ini salah satu impianku dan mendiang ibuku, Mas. Lagi pula mana ada yang suka sama wanita yang sudah menikah dan apa lagi sedang hamil?"


Arthur menyikap selimutnya dan berjalan mendekat pada istrinya. Arthur menarik pinggang istrinya sehingga tubuh mungil Kiara itu mendekat padanya.


"Mereka pasti terpesona sama kamu karena kamu terlihat manis, dan aku tentu saja cemburu." Tangan Arthur sekarang malah membuka satu persatu kancing kemeja Kiara yang baru saja Kiara kancingnya.


"Mas, kenapa malah membuka kancing kemejaku?"


"Aku ingin bercinta dengan anak kuliahan," ucap Arthur berbisik pada telinga Kiara.


"Tapi kata Tante Mauren waktu itu--."


"Iya, aku ingat. Kita boleh melakukan asal pelan-pelan dan hati-hati. Aku akan melakukannya dengan sangat pelan dan hati-hati. Jadi, bayiku dan kamu akan baik-baik saja."


"Kamu merusak penampilanku saja, padahal aku sengaja bangun pagi agar dapat memilih baju yang pantas untuk aku pakai di awal aku masuk kuliah."


"Semua tidak pantas. Jadi, tidak perlu masuk kuliah." Arthur menggendong tubuh Kiara dan membawanya ke atas tempat tidur.


"Enak saja! Aku sudah belajar dengan tekun agar dapat menghadapi ujian supaya bisa diterima di sana, dan Mas dengan enaknya bilang tidak perlu masuk kuliah." Bibir Akira mengerucut.


"Ya sudah, boleh kuliah asal jangan menghiraukan kalau ada yang mengajak kenalan, apa lagi seorang pria." Kiara mengangguk.