Be Mine

Be Mine
Merayu Suami part 1



Kiara terdiam di meja makan, dia merasa bingung sama suaminya yang tiba-tiba marah dan meninggalkan dia sendirian di ruang makan.


Arthur tidak menyelesaikan makannya dan hanya bilang akan menunggu Kiara di kamar. Dia kemudian naik ke lantai atas.


"Dia itu kenapa posesif sekali, sih? Aku, kan bisa menjelaskan tentang botol termos itu. Itu milik Kiano yang tadi menolongku saat aku pingsan."


"Sebaiknya kamu segera ke kamar dan menjelaskan semuanya, Kiara, Bibi yakin suami kamu itu akan mau mengerti, dia tadi hanya cemburu saja."


"Tapi cemburunya keterlaluan, Bi. Katanya percaya sama aku, tapi tetap saja posesifnya minta ampun."


"Bawaan bayi sepertinya. Kapan hari kamu yang sangat posesif, sekarang suami kamu."


"Tapi yang hamil kan aku, bukan Mas Arthur."


"Bisa saja, Kiara. Ada orang yang hamil, tapi malah suaminya yang mengidam, dan mungkin ini salah satu yang membuat Arthur seperti itu."


"Huft! Kalau begitu aku mau ke kamar dulu dan meluruskan semua ini." Kiara beranjak dari tempatnya duduk dan dia naik ke lantau atas.


Kiara membuka pintu kamarnya dan dia melihat suaminya sedang berdiri di depan jendela dengan bersidekap membelakanginya.


"Mas, aku mau bicara sama kamu."


"Aku sudah putuskan kalau kamu tidak perlu kuliah tahun ini," ucap Arthur tegas.


"Mas! Kenapa memutuskan secara sepihak begitu? Aku bisa menjelaskan semuanya dan tidak perlu seperti itu." Kiara berjalan mendekat dan memeluk suaminya dari belakang. "Dengarkan penjelasanku dulu, Mas."


Arthur membalikan badannya dengan tatapan datar. Beda dengan tatapan Kiara yang seolah mengharap sesuatu pada suaminya.


"Kiara, kamu tidak perlu kuliah. Kalau kamu mau bekerja di sebuah perusahaan besar, kamu bisa berkerja menjadi sekretaris pribadinya di perusahaanku, tidak perlu kuliah."


"Mana bisa begitu, Mas? Aku hanya lulusan SMA, tapi bisa menjadi sekretaris di perusahaan besar. Mau diketawain banyak orang."


"Siapa yang berani menertawakan kamu?"


"Aku tidak suka mendapat pekerjaan dengan cara seperti itu, Mas. Aku mau meraih apa yang aku inginkan dengan cara yang jujur dan benar sesuai kemampuan."


"Huft! Aku melakukan itu karena aku tidak suka kamu kuliah dan dekat dengan banyak mahasiswa lainnya. Aku sangat cemburu, Kiara."


"Kiano itu yang menolongku saat aku pingsan, dia yang menggendongku ke ruang kesehatan."


"Apa? Menggendong kamu?"


"Iya, Mas, dan saat aku sadar dia memberikan teh hangat yang dia taruh di termos itu. Tidak lama dia pergi dan termosnya aku bawa agar bisa aku cuci."


"Oh God!" Arthur memegang dahinya menahan kesal.


"Dia hanya menolong, Mas. Kiano itu kakak sepupunya Momo dan dia juga ketua panitia OSPEK di sana. Aku lihat di orang yang baik dan sopan, Mas, dan dia juga yang menyuruhku pulang agar bisa beristirahat."


"Nanti lama-lama dia menaruh perasaan suka sama kamu."


"Mas ini jangan suka berpikir hal yang belum terjadi, lagi pula Mas ini kenapa sekarang posesif sekali?"


"Aku takut kamu akan meninggalkan aku tiba-tiba seperti yang Selena lakukan hanya karena pria lain. Aku benar-benar takut, Kiara. Sesak sekali di sini memikirkan kamu ke tempat kuliah dan nanti berkenalan lalu akhirnya dekat kemudian timbul rasa cinta."


Arthur duduk di tepi ranjang dan terlihat kedua rahangnya mengeras. Kiara seolah melihat jika suaminya ini ternyata masih menyimpan rasa trauma ditinggal orang yang dia cintai.


"Mas," panggilnya lirih sembari duduk dipangkuan suaminya dan tangannya melingkar pada leher Arthur.


"Aku bukannya tidak percaya sama kamu, tapi jujur saja rasa khawatir dan takut ini muncul saat kamu bilang akan masuk kuliah dan apa lagi istriku ini cantik sekali."


Kiara tersenyum malu karena mendapat pujian dari suaminya. "Aku sangat mencintaimu, Mas. Hatiku sudah penuh dengan nama kamu dan tidak bisa diisi nama lain. Aku tau ucapan memang mudah, dan kita tidak tau ke depannya, tapi aku yakinkan jika Kiara Tizania ini hanya milik Mas Arthur." Kiara mengecup dahi suaminya.


Untuk beberapa menit mereka berdua saling berpandangan. Arthur berpikir jika dia benar-benar tidak mengizinkan Kiara kuliah, pasti Kiara akan sedih dan ini bisa berpengaruh pada bayi di dalam kandungan Kiara, tapi kalau Arthur tetap memperbolehkan Kiara kuliah dia yang harus terus was-was dan untuk menghilangkan perasaan posesif itu tidak mudah, tadi saja sudah mencoba menghilangkan, tapi saat ada botol termos di tas istrinya dan itu milik seorang pria, darah Arthur langsung mendidih.


"Mas, aku masih boleh kuliah, kan?"


"Kok hm sih, Mas! Bolehkan?" rengek Kiara.


"Hm!" sekali lagi Arthur hanya menjawab dengan deheman.


"Nak, ayah kamu sedang marah sama Ibu, padahal ibu sangat mencintainya, tapi ayah kamu tetap saja bersikap curiga. Kalau cintai itu harusnya bisa percaya."


"Iya aku percaya, tidak perlu curhat sama bayi kecil kita. Dia itu belum tau apa-apa." Tangan Arthur mengusap lembut perut Kiara.


"Kata siapa belum tau? Justru dia tau perasaan yang sedang dirasakan oleh ibunya. Dia akan tau ibunya sedang sedih atau bahagia."


"Kalau begitu aku harus selalu membahagiakan kamu supaya bayi kita juga bahagia."


"Memang seharusnya begitu."


"Ya sudah! Kamu boleh tetap kuliah, dan besok biar aku yang mengembalikan botol termos pada ada si Pinokio itu."


"Hah? Pinokio? Mas! Namanya Kiano. Jangan mengganti nama orang seenaknya, nanti kalau ibunya marah bagaimana?"


"Aku kan memang lupa namanya."


"Kan bisa bertanya padaku."


"Kenapa? Marah aku menyebutnya Pinokio?"


"Tidak," jawab Kiara tegas, tapi terkesan kesal pada suaminya. Kiara beranjak dari tubuh Arthur dan berbaring karena dia mau tidur siang saja.


Arthur membuka kaosnya dan dia berbaring juga di atas tempat tidur. Arthur menarik pelan tubuh Kiara dan mendekapnya dengan hangat.


Kiara tersenyum dalam dekapan suaminya.


***


Kiara yang bangun, tidak mendapati suaminya berada di sampingnya. Dia beranjak dari tempat tidurnya dan menuju kamar mandi.


Setelah selesai mandi, Kiara bersiap untuk turun. "Sore, Bi. Oh ya! Apa Bibi tau Mas Arthur di mana?"


"Suami kamu ada di ruang kerjanya, sepertinya ada pekerjaan kantor yang sedang dia kerjakan karena tadi saat turun, bibi mendengar dia berbicara dengan seseorang dan kemudian masuk ke dalam ruangan kerjanya."


"Oh begitu, padahal aku mau mengajak Mas Arthur membeli atribut yang mau aku pakai besok di sekolah."


"Atribut? Memangnya kamu disuruh memakai apa?"


Kiara mengeluarkan selembar kertas di mana dia sudah mencatat ulang apa saja yang harus dia beli untuk tugas besok di kampus.


"Ini, aku disuruh memakai kalung dari kaleng bekas dan rambut dikuncir hari pertama tiga buah, besoknya enak dan seterusnya kelipatan tiga. Memakai sepatu hitam putih, memakai name tag dengan nama yang aneh."


"Nama aneh? Kamu pakai nama apa?"


"Tidak tau, Bi, aku masih bingung. Bibi ada ide?"


"Um ...!" Bibi Yaya tampak berpikir. "Bagaimana kalau Upik Abu saja. Dia kan Cinderella."


"Bagus! Aku setuju. Kalau begitu aku beli yang dibutuhkan di toko dekat apartemen saja."


"Kamu sendirian?"


"Tentu saja, Bi. Mas Arthur sedang sibuk dan aku tidak mau mengganggunya."


"Kalau begitu biar bibi yang antar, tapi izin dulu sama suami kamu."


"Bibi tidak apa-apa pulang malam?"


"Tidak apa-apa. Sana! Kamu berpamitan pada suamimu."