Be Mine

Be Mine
Perasaan yang Bercampur



Kiara terlihat terdiam saat Arthur mengatakan akan makan siang dengan Manda.


"Sayang, kamu kenapa diam? Cemburu?"


"Tidak! Siapa yang cemburu? Ya sudah, nanti jangan lupa makan siang yang banyak, biar kuat nanti malam tidur di luar karena aku mau tidur sendiri di dalam kamar."


Terdengar suara tawa Arthur dari seberang telepon. "Tidak ada yang lucu, Mas!"


"Ara, aku makan siang tidak berdua dengan Manda, di sana ada Gio juga dan nanti ada rekan kerjaku juga."


"Iya, silakan makan siang, Mas Arthur. Aku mau kembali ke Mega."


"Sayang, nanti malam aku akan mengajakmu makan malam yang romantis. Apa kamu mau?"


"Tidak mau, aku mau menonton film romantis nanti malam."


"Ya sudah, aku nanti akan menemani kamu melihat film yang kamu sukai. I Love You More."


"Too. Bye, Mas." Kiara mematikan panggilan teleponnya. "Kenapa aku selalu cemburu saat dia menyebut nama mba Manda? Padahal, Mba Manda juga tidak terbukti ada hubungan dengan suamiku. Huft! Aku mungkin terlalu posesif."


Kiara berjalan malas menuju mejanya di mana ada Mega yang tengah menunggunya.


"Lama sekali! Apa kamu sedang mengantri atau menelepon kekasih gelap kamu itu?"


"Dia bukan kekasih gelapku. Kalau kekasih gelap kedengarannya seperti selingkuhan." Kiara kembali menghabiskan minumannya.


"Kiara, kamu masih ingin di sini atau pulang?"


"Memangnya kenapa? Kamu masih mau di sini?" Mega mengangguk. "Kamu masih mau berbelanja lagi?"


"Aku mau membelikan sesuatu untuk Elang."


"Oh ... ya sudah! Kamu mau membeli apa?"


"Tidak tau, dia sukanya apa, Kiara?"


Kiara terdiam sejenak memikirkan pertanyaan Mega. "Dia suka sekali miniatur mobil. Semuanya yang ada gambar mobil atau sesuatu tentang mobil dia suka."


"Kalau begitu kita cari saja." Mega dengan cepat menggandeng tangan Kiara. Mereka mencari baju dengan gambar mobil, kemudian masuk ke aksesoris mencari sesuatu yang berbentuk mobil dan terakhir di toko mainan.


"Mega, sebenarnya tidak perlu seperti ini. Kamu itu harusnya mencoba membuat Elang simpati sama kamu. Elang memang kadang agak ketus kalau dia sedang kesal atau tidak suka akan suatu hal, tapi hatinya tidak tegaan."


"Makannya, aku mau mencoba memberi dia hadiah yang dia sukai, siapa tau aku bisa menjadi dekat dengannya."


Kiara mengangguk beberapa kali. Mega sudah membeli yang dia cari, dan jam juga sudah menunjukan pukul lima sore, tidak terasa mereka berdua keluar jalan-jalan sangat lama.


"Hai," sapa seseorang yang baru saja datang menghampiri Kiara dan Mega yang berdiri mengantri membeli minuman.


"Kakak ini lama sekali."


"Maaf, tadi di jalan agak macet, jadi aku agak terlambat datang ke sini. Apa mau pulang sekarang?"


"Iya, pulang sekarang saja. Kakak mau beli minuman juga?" Arthur menggeleng. "Ya sudah kalau begitu kakak bayar dulu minumanku dan Kiara." Mega meringis.


"Iya, adikku." Arthur mengeluarkan dompetnya dan membayar minuman kedua gadis yang dia sayangi.


Mega setelah menerima minumannya berjalan lebih dulu di depan karena dia mau mencari toilet.


"Mas, kenapa bisa ke sini?"


"Mega yang memintaku menjemputnya." Arthur menyeruput minuman Kiara dan dengan cepat dia mengecup kening istrinya.


"Mas! Jangan seperti itu, nanti dilihat Mega," ucap lirih Kiara dengan nada penuh penekanan. Arthur hanya menanggapi dengan tersenyum.


"Kak, aku titip sebentar barang-barangku!" Mega segera memberikan belanjaannya dan segera masuk ke dalam toilet.


"Dia belanja apa saja? Tas belanjaannya lumayan banyak."


"Apa?" Arthur tentu saja terkejut mendengar itu.


"Mega ingin bisa dekat dan mendapat sikap baik dari Elang. Dia ingin menjalani hubungan dengan Elang, Mas."


"Aku mengira Mega akan menolak mati-matian acara pertunangan itu."


"Dia dan Elang tidak bisa mundur, makannya


Mega akan menjalani semua ini dengan baik dan senang."


"Awas saja kalau si Elang itu sampai berani menyakiti Mega, aku tidak akan tinggal diam."


"Semoga saja hal itu tidak terjadi, Mas. Elang pasti nanti akan bisa menerima Mega dengan baik juga."


Tidak lama Mega keluar dengan wajah leganya. Dia kemudian mengajak Arthur dan Kiara pulang.


"Kakak kenapa dari tadi melihati Kiara terus?" goda Mega yang duduk di sebelah Kakaknya.


"Tidak apa-apa, memangnya kenapa? Kiara saja tidak marah aku melihatnya." Arthur melihat Kiara dari spion yang ada di atas kepalanya.


"Jangan melihat terus seperti itu pada temanku karena dia sudah memiliki kekasih, tapi aku tidak tau itu benar atau tidak karena Kiara masih menyembunyikannya."


"Kalau begitu aku rebut saja Kiara dari kekasih tersembunyinya itu."


"Hem! Memangnya Kakak berani melakukan hal itu?"


"Tentu saja berani, Mega, untuk apa aku takut jika harus mendapatkan apa yang aku inginkan?"


"Lantas, kenapa dulu Kakak tidak mengambil lagi saja Kak Selena dari tangan pacarnya?"


Arthur terdiam sejenak dan di belakang, Kiara juga sedang menunggu jawaban dari Arthur.


"Aku tidak merebut kembali Selena karena dia mengkhianatiku dan bagiku seorang pengkhianat tidak bisa dimaafkan. Lagi pula aku juga tidak benar-benar merasakan apa itu cinta."


"Jadi, dengan Kiara, Kak Arthur merasakan cinta?"


Arthur hanya tersenyum menanggapi pertanyaan adiknya.


"Kamu itu kenapa suka sekali mengusili Kakak kamu sih, Mega? Jangan bertanya hal yang membuat orang pusing." Kiara mencoba mengalihkan pembicaraan.


Arthur mengantar Mega pulang, tapi Arthur tidak masuk ke dalam rumah karena tidak mau nanti malah membuat masalah dengan mamanya. Mega pun tau akan hal itu.


Tadi sebenarnya Mega tidak bilang kalau dia pergi dengan Kiara, dia hanya bilang mau jalan-jalan dengan salah satu teman sekolahnya.


"Bagaimana makan siangnya? Apa makanannya enak?" tanya Kiara yang sekarang duduk di samping Arthur dengan tangan bersidekap.


"Masih enakkan makan kamu."


"Aku sedang tidak bercanda, Mas." Wajah Kiara tampak serius.


"Aku sangat menyukai jika kamu cemburu seperti itu, tapi jangan terlalu berlebihan sayang, nanti yang ada kamu sendiri yang sakit."


"Huft! Entah kenapa aku tidak bisa menahan kekesalan bila ada nama wanita lain dikaitkan sama kamu, Mas. Manda, dan tadi Selena-- mantan kamu."


"Dia masa lalu, Kiara, dan kamu masa depan aku."


Kiara memandang suaminya dengan tatapan serius dan dalam.


Mereka sudah sampai di apartemen. Kiara langsung masuk ke dalam kamar tidurnya guna untuk menyembunyikan lingerie yang tadi dia beli di mall karena dia tidak mau Arthur melihatnya.


Arthur masih mengambil air minum di dapurnya. Jadi, di kamar Kiara masih mempunyai waktu untuk menyembunyikan lingerie miliknya.


"Sebaiknya aku menaruh di mana lingerie ini? Aku tidak mau Mas Arthur langsung menyuruhku memakai ini malam ini karena jujur saja aku masih belum siap." Kiara tampak bingung sendiri melihat suasana di dalam kamarnya.