Be Mine

Be Mine
Di Apartemen Arthur



Mereka bertiga bicara tentang pekerjaan yang akan dikerjakan oleh Manda. Manda akan menjadi manager di salah satu restoran terbesar di kota itu. Dan Arthur percaya akan kemampuan Manda setelah mendengar pengalaman kerja dan CV yang sudah Arthur baca.


"Manda, senang sekali bisa bekerja sama denganmu."


"Saya juga sangat senang bisa mengenal Pak Arthur. Oh ya, apa saya nanti boleh melakukan perubahan sedikit pada restoran ini?"


"Tentu saja boleh. Lakukan apa yang menurut kamu benar dan membawa manfaat untuk kemajuan restoran ini."


"Terima kasih, Pak." Wanita itu tersenyum manis pada Arthur.


Mereka berdua tidak tau jika Gio dari tadi memperhatikan Manda yang pandanganya tidak lepas melihat pada Arthur.


"Semoga aku tidak menimbulkan masalah setelah ini," gerutunya.


"Gio, kamu bicara apa? Kenapa menggerutu seperti itu? Apa ada yang ingin kamu sampaikan?"


"Tidak ada, Arthur, semua sudah jelas dan aku menyetujui semua keputusanmu."


"Ya sudah, kalau begitu aku mau permisi pergi dulu." Arthur beranjak dari tempatnya dan izin pergi dari sana.


"Iya, Pak Arthur."


Kedua mata Manda masih menatap terus pada punggung pria yang baru saja berkenalan dengannya.


Gio sekali lagi melihat hal itu. Dia sepertinya bisa menebak jika Manda tertarik dengan Arthur sejak pandangan pertama. Gio tidakg667 terkejut jika setiap wanita yang melihat Arthur, pasti akan tertarik dengan cepat pada sosok Arthur yang memang memiliki sejuta pesona dan karismatik.


"Manda, aku juga mau pergi dulu, kamu bisa memulai pekerjaanmu hari ini. Dan nanti aku akan ke sini lagi."


"Apa Pak Arthur juga akan ke sini lagi?"


"Sepertinya tidak karena dia banyak pekerjaan di kantornya."


***


Siang itu Kiara bohong sekali lagi pada Mega. Dia bilang pulang naik angkutan umum, padahal dia sudah ditunggu Arthur di tempat biasa.


"Bagaimana dengan ujian kamu hari ini?"


"Berjalan dengan lancar, apa lagi ini ujian mata pelajaran yang aku sukai. Bahasa Indonesia."


"Oh ... aku kira kamu suka pelajaran matematika."


"Itu suka, tapi aku lebih menyukai pelajaran bahasa Indonesia karena pelajaran matematika kadang membuatku bingung."


Arthur tersenyum kecil. "Ya sudah, kalau begitu kita pulang saja sekarang, tapi sebelumnya kita membeli makan siang dulu karena kamu pasti lapar."


"Di apartemen kamu tidak ada makanan?"


"Ada, tapi hanya bahan makanan yang aku sudah siapkan beberapa hari yang lalu."


"Kita memasak sendiri saja."


"Memangnya kamu bisa memasak?"


"Tentu saja bisa. Aku bisa membuat sup ayam dan hari ini entah kenapa aku mau membuat sup ayam. Apa kamu tidak suka sup ayam?"


"Tentu saja aku menyukainya, tapi kalau memasak, apa kamu tidak capek? Kamu baru saja pulang sekolah." Kiara menggeleng. "Kalau begitu kita pulang sekarang saja."


Mereka berdua menuju apartemen milik Arthur. Arthur membawa Kiara naik ke lantai atas apartemen miliknya dan saat pintu apartemen dibuka. Mata Kiara membulat sempurna melihat apa yang ada di dalam apartemen itu.


"Ini apartemenmu?"


"Iya, kenapa?"


"Bagus sekali, dan aku baru pertama kali melihat ruangan seindah ini."


Arthur menggandeng tangan Kiara masuk lebih dalam apartemennya. "Ini juga akan menjadi milikmu, Kiara. Apartemen ini milik kita berdua."


"Ini bukan milikku, Arthur. Aku sudah bilang sama kamu kalau aku tidak akan menuntut apapun saat kita bercerai nanti."


"Aku minta maaf kalau begitu."


"Tidak perlu minta maaf. Kalau begitu aku akan membantumu memasak."


"Aku mau ganti baju dulu. Oh ya! Mana tasku?"


"Aku sudah menatanya di dalam walk in closetku. Aku lupa belum menunjukkan di mana kamar kita."


"Kamar kita." Kiara tampak terkejut.


Arthur menggandeng tangan Kiara dan mereka masuk ke dalam ruangan dengan pintu berwarna putih berukuran tidak terlalu besar.


"Ini kamar kita, Kiara."


Kedua mata Kiara kembali membulat tatkala melihat ruangan yang disebut kamar tidur itu. Pintu ruangan itu kecil, tapi ternyata ruangan itu sangat besar, dan ada ranjang yang juga berukuran besar serta ada kamar mandi berkaca transparan di sana. Kiara juga dapat melihat ada bathtub berukuran tidak terlalu besar.


"Kamarmu bagus sekali."


"Apa kamu menyukainya?"


"Semua yang ada di sini sangat indah, Arthur."


"Aku senang kalau kamu menyukainya karena aku harap kamu betah tinggal di sini."


Kiara melihat pada Arthur. "Apa di sini hanya ada satu kamar tidur?"


"Tentu saja, memangnya kenapa?"


"Lalu, aku tidur di mana nanti?"


"Tentu saja kamu tidur di sini."


"Denganmu?"


"Iya, Kiara. Kiara kita ini suami istri dan sepantasnya kita tidur berdua. Bukankah untuk menimbulkan suatu chemistry kita harus bersikap layaknya seperti suami istri pada umumnya."


"Tapi ...."


"Kamu tenang saja, aku masih ingat untuk tidak meminta hakku sebagai seorang suami. Aku akan menunggu sampai kamu sendiri yang memberikannya."


Kiara terdiam sejenak. "Apa kamu yakin akan bisa menahan untuk tidak melakukan hal itu saat kita tidur satu ranjang?"


Arthur gantian yang terdiam sekarang. Apa dirinya bisa menahannya? Apa lagi saat mengingat benda indah milik Kiara itu. "A-aku bisa, kamu tenang saja. Sekarang kamu bergantilah baju dan aku akan menunggumu di bawah." Arthur segera berjalan turun ke lantai bawah dengan menggulung kedua lengan kemejanya.


Kiara mengedarkan pandangannya melihat sekeliling kamar itu. Kiara tidak menyangka jika Arthur pria yang sangat rapi dan bersih terlihat dari tempat tinggalnya.


"Bajuku di mana?"


Kiara melihat ruangan yang berisi banyak baju dan aksesoris lainnya. Matanya kemudian tertuju pada lemari kaca dan di sana ada baju yang dia kenali.


"Ini bajuku dan--." Kiara terdiam sejenak. "Dia menata semua bajuku, itu berarti dia melihat pakaian dalamku." Kiara memejamkan kedua matanya karena malu. "Arthur itu!"


Kiara segera berganti baju dan dia segera turun ke lantai bawah karena ada hal yang harus segera dia luruskan dengan suaminya itu.


Kiara turun dan berjalan dengan cepat menuju dapur karena dari kejauhan dia baru saja melihat Arthur masuk ke arah ruangan yang terlihat seperti dapur.


"Ini ruangan apa? Apa ini sebuah kamar? Tapi kenapa tadi Arthur bilang di sini hanya ada satu kamar?"


Arthur terlihat sedang mengupas sayuran di meja dapur. "Aku sudah mengupas semua sayurannya, Kiara."


"Arthur, di sana ada sebuah pintu. Itu ruangan apa? Apa itu kamar tidur?"


"Pintu yang di sana, itu ruangan untuk menyimpan barang-barang yang tidak berharga, bisa disebut sebagai gudang. Memangnya kenapa?"


"Oh ... kalau itu sebuah kamar, aku mau tidur di sana saja."


"Itu gudang yang memang aku siapkan untuk menyimpan barang-barang yang tidak ingin aku buang karena bagiku masih sangat berharga. Kamu kalau tidak percaya buka saja, tapi hati-hati karena aku takut akan ada barang yang jatuh nantinya."