Be Mine

Be Mine
Wanita di Kehidupan Arthur



Mobil Arthur berhenti di tempat biasa dia menurunkan Kiara, tapi gadis itu tidak sadar karena masih sibuk membaca bukunya.


"Kiara sudah sampai."


Kiara mengedarkan pandangannya melihat sekitarnya dan ternyata dia memang sudah sampai di dekat sekolahnya


"Aku benar-benar cemas dengan ujian hari ini, entah kenapa aku merasa tidak yakin bisa mengerjakannya nanti."


"Cobalah tenang Kiara, kamu tidak perlu terlalu memikirkan hal ini terlalu berat dan yakin kalau kamu pasti bisa karena kata Mega kamu adalah murid yang pandai. Jadi, kamu pasti bisa mengerjakannya dengan baik."


"Andai ibuku ada di sini, mungkin aku akan lebih tenang."


"Ibumu selalu mengawasimu, tapi tidak di sini. Kiara yakinlah kamu akan bisa menyelesaikan ujian ini dan mendapatkan nilai yang baik."


"Ya sudah kalau begitu, aku mau masuk ke sekolah dulu." Kiara menarik tangan Arthur dan kemudian mengecupnya.


"Kiara, tunggu!"


"Ada apa lagi, Arthur? Aku sudah mencium tanganmu."


Arthur mendekatkan tubuhnya kemudian dengan lembut mengecup dahi Kiara. "Semoga kamu berhasil untuk menghadapi ujiannya."


Kiara tanpa terdiam, kemudian dia mengangguk kecil dan turun dari mobil Arthur


Kiara berjalan menuju gedung sekolahnya dengan perasaan yang tidak karuan. Entah kenapa dia merasa apa yang Arthur lakukan padanya adalah hal yang tulus?


Kiara berjalan menuju kelasnya, di sana dia melihat Mega baru saja keluar dari kelas Elang. Mega pun melihat Kiara kemudian berlari kecil dan langsung memeluk sahabatnya itu.


"Hai, Kiara, bagaimana perasaanmu hari ini? Ini ujian terakhir kita dan setelah ini kita akan lulus."


"Perasaanku baik dan semoga aku bisa mengerjakan ujian hari ini. Kamu baru saja dari kelas Elang?"


"Iya, Kiara, mamaku menitipkan sesuatu untuk mamanya Elang dan aku baru saja memberikannya."


Kiara sebenarnya ingin menanyakan kabar Elang, tapi dia tidak semestinya bertanya akan hal itu. Dia harus belajar melupakan Elang karena dia dan Elang juga tidak akan mungkin bisa bersama lagi.


"Kiara, kamu melamun apa? Apa kamu merindukan Elang?"


Kiara menggeleng pelan. "Aku sudah melupakan Elang dan semoga dia juga bisa melupakan aku, apa lagi dia akan dijodohkan dengan gadis yang pastinya sangat baik untuknya."


Kiara berjalan masuk dan Mega yang melihatnya tampak merasa sedih.


Ujian hari ini di mulai, Kiara tampak memejamkan kedua matanya dan dia sedang berdoa.


"Ibu, aku akan menjadi anak kebanggan ibu. Doakan Ara juga Bu."


Kertas ujian dibagikan oleh guru yang mengawasi ujian di kelas kiara. Anak-anak lainnya tampak terlihat tegang menghadapi ujian kali ini.


Di kantornya, Arthur terlihat sedang duduk dan memandang keluar jendela kaca besar yang ada di sana. Jujur saja dia juga merasakan kecemasan saat ini.


"Semoga dia bisa menghadapi ujiannya. Istriku itu gadis yang cerdas," Arthur bermonolog sendiri.


Tok ... tok ...


Tak lama terdengar suara ketukan pada pintu ruangan Arthur. Sekretaris Arthur masuk dan memberitahu jika ada yang ingin bertemu dengan Arthur.


"Siapa? Setahuku, aku tidak ada janji pertemuan dengan siapapun."


"Hai, Baby," sapa seseorang wanita yang tiba-tiba menyelonong masuk.


Arthur tampak agak kaget melihat siapa yang datang ke kantornya. "Selena, ada apa kamu ke sini?"


Selena melihat pada sekretaris Arthur dan wanita yang menjadi sekretaris Arthur itu tau jika tugasnya sudah selesai, dia akhirnya undur diri dari sana.


"Aku merindukan kamu, Baby." Selena berjalan perlahan mendekat pada meja Arthur.


"Selena, bukannya kamu sudah menikah? Seharusnya yang kamu rindukan adalah suamimu."


"Aku baik, Selena. Bahkan sangat baik."


Selena mendekatkan wajahnya pada Arthur. "Apa kamu sudah memiliki kekasih?" tanya Selena terdengar serius.


"Apa aku harus mengatakan hal pribadiku sama kamu?"


Selena kembali menarik wajahnya. "Aku yakin kalau kamu belum memilik kekasih. Arthur, aku sangat mengetahui siapa kamu. Kamu tidak akan mungkin bisa dengan mudah menyukai wanita lain."


"Jangan terlalu yakin, Selena. Kalau kamu berpikiran seperti itu, kamu ternyata belum mengenal siapa aku. Selena, sebaiknya kamu pergi dari sini karena pekerjaanku masih banyak. Lagi pula kamu sudah menikah dan akan tidak baik jika kamu berada di sini."


"Kamu mengusirku, Arthur?"


"Aku tidak mengusirmu, hanya saja aku sedang sangat sibuk di sini. Aku ingin segera menyelesaikan pekerjaanku dan segera pergi untuk menjemput kekasihku."


"Apa? Kekasih? Kamu pasti sedang berbohong. Kamu hanya ingin membuat aku cemburu, kan?"


"Menurutmu? Silakan." Arthur menunjuk letak pintu ruangannya.


Wanita yang dikira Arthur akan pergi dari ruangannya, tapi dia malah duduk pada pangkuan Arthur.


"Selena, jaga sikapmu."


"Arthur, aku nanti malam akan pergi ke Paris bersama dengan suamiku dan mungkin kamu akan menetap sangat lama di sana. Apa hari ini kamu tidak ingin menemaniku?"


Arthur terdiam sejenak. "Maaf, aku tidak bisa menemani kamu karena ada hati seseorang yang harus aku jaga."


"Arthur." Selena malah memeluk leher Arthur. "Aku benar-benar merindukan kamu. Soal kekasihmu atau siapapun dia, aku tidak peduli. Kita hanya pergi sebentar dan aku ingin berdua denganmu hari ini."


Tidak lama ponsel milik wanita cantik yang sedang memeluk Arthur itu pun berdering. Selena lalu melepaskan pelukannya.


"Your Husband."


"Arthur, dia sedang sibuk."


"Selena, lebih baik kamu jawab panggilannya dan silakan pergi dari sini." Arthur memindah tubuh Selena agar pergi dari pangkuannya.


Selena yang terlihat kesal, lantas berjalan pergi dari sana.


"Selena? Kamu--." Gio tampak bingung saat berpapasan dengan Selena yang baru saja berjalan keluar dari ruangan Arthur.


"Pak Gio, selamat pagi," sapa wanita manis sekretaris Arthur.


"Pagi, Cantik. Apa wanita tadi dari tadi di dalam ruangan Arthur?"


"Dia tidak terlalu lama di dalam sana. Dia Mba Selena kekasihnya Pak Arthur, kan?"


"Mantan, Cantik. Dia itu mantan Arthur karena Arthur sekarang sudah memiliki kekasih yang baru."


"Apa kekasih Pak Arthur yang pernah di bawa ke sini itu, ya?" Wajah sekretaris Arthur tampak sedang berpikir.


"Kamu sedang melamun apa?"


"Tidak ada, Pak Gio. Pak Gio kalau mau bertemu dengan Pak Arthur silakan saja karena hari ini beliau tidak ada jadwal yang penting."


"Terima kasih, Cantik." Gio mengedipkan salah satu matanya dan berjalan masuk ke dalam ruangan Arthur.


Gio mengetuk pintu dan Arthur menyuruhnya masuk. Gio tampak mengedarkan pandangannya seolah dia sedang mengamati sesuatu.


"Kamu sedang apa? Aku itu ada di depanmu, kenapa kamu seolah sedang mencari sesuatu?"


"Aku hanya ingin memastikan jika tidak ada benda berharga milik Selena yang tertinggal di sini." Gio terkekeh dan Arthur tau apa yang dimaksud oleh sahabatnya itu.


"Damn, you!"