
Mereka berdua menyusul Mega dan teman-temannya ke sebuah tempat yang bisa dibilang seperti pasar tradisional, tapi ini lebih sedikit tertata rapi karena terdiri dari beberapa ruko dan setiap ruko menjual beberapa hasil kerajinan tangan, ada baju, tas seperti anyaman, aksesoris dan juga ada beberapa penjual makanan hasil olahan warga di sana.
"Kak Arthur, aku membelikanmu gelang ini, apa kamu mau memakainya?" Tia tiba-tiba mendekat pada Arthur dan menyodorkan sebuah gelang berwarna hitam yang terbuat dari manik-manik.
Arthur terlihat bingung, dia harus menerima atau tidak? Takutnya kalau dia menerima, l Tia akan salah paham dari maksud baiknya, tapi kalau tidak diterima, nanti takutnya Tia tersinggung
"Tia, tidak perlu memberiku seperti ini, kamu berikan saja oleh-oleh untuk keluargamu di rumah."
"Tidak apa-apa, Kak Arthur, aku ingin memberikan gelang ini untuk kamu supaya kamu ingat denganku terus." Tia kemudian tertawa dengan senangnya. Kiara yang berada di sebelah Arthur hanya bisa terdiam
"Terima kasih atas pemberiannya, yapi aku tidak bisa menerimanya."
"Loh! Kenap, Kak Arthur tidak mau menerimanya?"
" Bukan tidak mau menerima, Tia. Mas Arthur cuma ingin menjaga perasaan kekasihnya saja, kamu tahu, kan kalau Mas Arthur sudah memiliki kekasih dan mereka akan menikah. Jadi, dia tidak enak kalau harus menerima sesuatu dari gadis baik seperti kamu," jelas Kiara.
"Kiara ini! Kenapa aku diingatkan masalah itu? Padahal setiap melihat wajah kakaknya Mega ini aku selalu lupa kalau dia akan menikah. Begini saja Kak Arthur tetap menerima gelang pemberianku ini. Ya! Anggap saja Ini hadiah dari seorang adik untuk kakaknya. Bagaimanapun juga usiaku dengan Mega, kan sama."
Arthur yang memang baik dan tidak mau menyakiti perasaan orang lain, dia akhirnya menerima gelang itu.
"Terima kasih, Tia. Jika nanti calon istriku bertanya, aku akan mengatakan kalau ini diberikan oleh seorang adik untuk kakaknya. Supaya nanti calon istriku tidak salah paham." Arthur melihat pada Kiara
"Iya deh! Begitu saja, tapi kok rasanya nyesek di dada." Tia kembali tertawa.
"Kamu itu gadis yang menyenangkan dan baik, aku yakin suatu saat kamu pasti menemukan seseorang yang baik untuk kamu."
"Andai boleh minta, aku ingin seperti Kak Arthur saja. Sudah tampan, kaya raya, baik dan benar-benar kakak itu sempurna, walaupun aku baru mengenalmu, tapi kharisma kamu itu benar-benar kuat loh, Kak Arthur," puji Tia
"Terima kasih, Tia aku senang juga bisa mengenalmu dan teman-teman Mega lainnya. Kalian anak-anak yang baik dan juga manis."
"Ya ampun, berasa melayang aku dipuji dan dia bilang manis."
Beberapa detik kemudian. Tia kembali berbalik badan dan menemui teman-temannya. Secepat kilat tangan Kiara langsung mencubit pinggang suaminya
"Kiara sakit!" Kenapa kamu mencubitku?" ucap Arthur pelan sambil mengusap-usap pinggangnya yang terkena cubitan oleh Kiara.
"Kenapa Mas itu sekarang jadi genit seperti ini?"
"Siapa yang genit? Aku hanya mengatakan hal yang sebenarnya, Tia memang gadis yang manis, teman-teman kamu juga. Mereka anak-anak yang sangat manis
"Kenapa kalau mereka manis? Semua mau dipacari? Pacar saja sama semuanya," ucap Kiara ketus.
"Kamu cemburu, ya Ara? Andai saja kita tidak di tempat-tempat seperti ini, sudah aku ***** saja bibir itu biar tidak mengerucut seperti itu."
"Mas dapat hukuman, aku tidak mau bercinta selama seminggu."
"Kenapa tiba-tiba ada hukuman seperti itu?" Kedua alis Arthur mengkerut.
"Biar saja!" Kiara bersidekap, lalu berjalan meninggalkan Arthur yang masih berdiri bingung di tempatnya.
"Oh my God! Aku hanya memuji seperti itu saja dia sudah marah. Kenapa dia jadi sensitif sekali? Apa dia mau datang bulan ya?"
Arthur memilih menemui adiknya terlebih dahulu agar tidak curiga kalau dia harus mengikuti Kiara.
"Kiara mana, Kak? Apa dia tidak sama Kakak?"
"Iya, dia datang denganku, tapi dia pergi ke toko baju, aku tidak tahu .ungkin ada yang ingin dia beli di sana."
"Kalau begitu aku nanti sama Elang tidak perlu masuk ke toko baju supaya tidak bertemu dengan Kiara."
Dalam hati Arthur dia juga setuju dengan usulan Mega, tapi Arthur memilih diam dan tidak menanggapi ucapan Mega supaya adiknya itu tidak curiga."
Kiara juga sepertinya tidak ingin terlalu dekat dengan Elang. Dia pernah mengatakan hal itu padaku.
"Kak, aku sudah menghubungi Mama dan mengatakan jika Elang ingin mempercepat pertunangan kami."
"Lalu, kamu bagaimana?"
"Tentu saja aku menyetujuinya, Kak, aku senang sekali kalau akhirnya Elang mau menerima semua ini, tapi aku akan menikah setelah Kak Arthur nanti menikah."
"Kalau kami ingin menikah, kau menikah saja tidak perlu menungguku menikah lebih dulu, Mega."
"Loh! Bukannya Kak Arthur pernah bilang akan menikah dengan gadis pilihan yang kakak cintai itu, sampai Kakak tidak mau dijodohkan dengan Belinda. Apa Kakak putus dengan gadis itu?"
"Justru hubunganku dengan calon ibu dari anak-anakku sangat baik, tapi aku tidak tahu kapan pernikahanku dengannya bisa terlaksana? Tapi pasti akan segera dilaksanakan, hanya saja mungkin aku akan menikah tanpa harus ada pesta yang mewah karena dia gadis yang sederhana."
"Maksud Kak Arthur, Kak Arthur akan menikah diam-diam dengan? Tanpa memberitahu keluarga kita?"
"Mega, Kakak sudah dewasa. Sangat dewasa malahan, apa lagi Kakak anak laki-laki. Mama yang bisa saja tidak menyukai calon istriku, tapi mungkin aku tidak bisa menuruti apa keinginan mama, kalaupun aku menikah diam-diam dengannya hal itu tidak akan menjadi masalah. Ayah, kamu dan mama pasti akan aku beritahu, tapi aku tidak meminta kalian menerimanya karena ini adalah hidupku, aku yang akan menjalani kehidupanku kedepannya dengan pilihanku, dan aku yakin jika pilihanku ini tidak akan salah. Kamu bisa paham maksudku, kan Mega?"
"Ya, Kak aku paham dengan maksudmu, aku hanya ingin semoga Kakak dan mama tidak sampai berselisih dan akhirnya membuat keluarga kita tidak harmonis lagi hanya karena kehadiran calon istrimu itu."
"Semoga saja tidak, dan aku nanti yang akan menjelaskan kepada mama agar mama dapat menerima semua keputusanku."
"Iya, Kak. Kak, aku mau ke Elang dulu. Dia katanya ingin memberikan hadiah untuk mamanya, dan aku akan membantu dia memilihkannya."
Arthur mengangguk dan Mega berlari kecil menuju tempat Elang yang sedang mencari aksesoris yang bagus.
"Lang, ini cocok untuk mama kamu." Mega membawa kalung dari kerajinan kayu yang diukir kecil-kecil dan dimasukkan ke dalam senar agar bisa dibentuk bulat.
"Ya sudah, kita akan membelikan ini. Kamu apa mau membeli sesuatu?"
Mega menggelengkan dengan cepat kepalanya.
"Tapi kalau aku membelikan kamu ini. Kamu mau, kan?"
Kedua mata Mega mendelik kaget melihat apa yang ada pada tangan Elang.
"Satu set ikat rambut?
"Iya karena aku senang melihat saat rambutmu dikuncir. Kamu terlihat cantik," bisik Elang.