Be Mine

Be Mine
Botol Termos



Kiara kemudian bercerita jika melihat sikap Elang sudah banyak berubah, bahkan Elang menunjukan jika dirinya mencintai Mega.


"Lalu, bagaimana sikap Mega sama kamu?"


"Dia--?"


"Dia masih terlihat marah sama kamu?" Kiara mengangguk.


"Ya sudah, kalau begitu kamu biarkan saja dulu. Dia butuh waktu untuk menerima semua dan kamu tidak perlu memikirkannya."


"Iya, Mas. Mas tidak kembali ke kantor?"


"Sepertinya tidak, aku akan menemani istriku makan siang, tapi sebelum kita makan siang, aku mau mandi dulu karena rasanya badanku tidak enak setelah dari tadi harus memimpin rapat, langsung pergi meeting, kemudian ketempat pihak berwajib untuk menyelesaikan masalah waktu itu."


"Oh ... soal salah satu karyawan Mas yang dituduh mencuri uang perusahaan?"


"Iya, walaupun aku sudah mencari jalan damai, laporannya sudah masuk ke pihak berwajib dan tadi semua sudah diselesaikan dengan baik."


"Suamiku memang orang yang sangat baik. Aku tidak salah jatuh cinta sama kamu." Kiara memeluk suaminya dengan erat.


"Apa tidak ada hal lain lagi yang bisa kamu lakukan untuk memujiku?"


"Maksud, Mas?"


"Kalau memuji jangan hanya diberi pelukan atau ciuman. Aku ini suamimu, loh! Dan kamu bisa melakukan apapun padaku karena aku adalah milikmu."


"Maksud, Mas apa sih? Kenapa terdengar menakutkan begitu?" Kiara melepaskan pelukannya.


"Apanya yang menakutkan? Aku tampan begini dibilang menakutkan."


Kiara perlahan-lahan berjalan mundur dan saat mendapat kesempatan dia berlari kecil ke arah kamar mandi dan segera masuk. Kiara juga secepat kilat mengunci pintu kamar mandinya.


"Kiara, jangan berlarian begitu!" seru Arthur dengan keras.


"Habisnya! Mas itu membuat orang takut saja, dan aku tau apa yang Mas maksud. Aku mau segera mandi, lalu makan siang. Perutku sudah lapar, Mas."


"Aku juga mau mandi, Kiara! Kenapa pintunya dikunci?" Arthur mengetuk pintu kamar mandi.


"Mas mandinya tunggu aku saja, kalau Mas masuk, yang ada malah aku tidak mandi."


Arthur tersenyum mendengar ucapan Kiara. Dia kemudian berjalan pergi dari sana. Kiara yang tidak mendengar suara suaminya perlahan mendekatkan telinganya pada daun pintu.


"Sepertinya Mas Arthur pergi. Hm ...! Tumben sekali dia menyerah begitu saja, apa mungkin dia merasa tidak punya cara lain untuk memaksaku membuka pintu? Padahal aku kira dia akan mendobrak pintunya." Kiara terkekeh sendiri.


Dia kemudian melepaskan bajunya dan masuk ke dalam ruang shower untuk mandi. Baru saja dia mengusapkan sabun ke seluruh tubuhnya, pendengarannya menangkap bunyi benda jatuh, dan tidak lama terdengar suara pintu terbuka.


Kiara membuka gorden mandinya dan kedua matanya membulat melihat siapa yang ada di depan pintu kamar mandinya sekarang.


"Hai, Sayang! Cuacanya sangat panas, jadi pasti enak kalau kita mandi berdua."


"Mas? Bagaimana kamu bisa masuk?" Kiara melihat kunci kamar mandinya yang jatuh ke lantai.


"Kamu lupa jika apartemen ini sebelum menjadi milik kamu, tempat ini adalah milikku dan aku orang yang pintar dalam segala hal."


Arthur yang hanya memakai handuk untuk menutupi bagian bawahnya berjalan dengan santai mendekat ke arah Kiara.


"Mas, aku tidak mau kita bercinta di sini. Aku mau cepat-cepat menyelesaikan mandiku dan makan. Aku sudah lapar, Mas." Kiara menunjukkan wajah melasnya.


"Siapa yang mau mengajak kamu bercinta? Memangnya kalau mandi bersama itu artinya harus bercinta? Aku hanya akan membantumu mandi saja."


Arthur mendudukkan Kiara pada toilet duduk dan dia memberikan shampo pad rambut Kiara, memijitnya dengan lembut membuat Kiara tampak menikmati pijatan suaminya.


"Mas, terima kasih," ucap Kiara yang sedang menutup kedua matanya menikmati pijatan lembut dari suaminya.


"Terima kasih untuk apa?"


"Untuk semua yang Mas sudah lakukan untukku. Mas sangat baik dan memperlakukan aku seperti seorang ratu."


"Kamu memang adalah ratuku, Kiara. Aku ingin selalu bisa membahagiakan kamu dan calon anak kita."


Kiara dan Arthur sudah selesai mandi dan mereka sudah siap untuk turun makan siang. Mereka ini benaran hanya mandi, ya, dan tidak melakukan apapun.


Di meja makan, Bibi Yaya sudah menyiapkan makan siang. Arthur menarik kursi agar Kiara bisa duduk.


"Masakan Bibi terlihat enak semua dan sepertinya bayiku menyukainya."


"Kalau begitu makan yang banyak, agar kamu dan calon cucu Bibi tambah sehat. Mau bibi ambilkan?"


"Biar aku ambil sendiri, Bi, aku juga mau mengambilkan punya Mas Arthur.


Kiara mengambil piring suaminya dan mengambilkan makanan untuk Arthur.


"Terima kasih, Sayang."


Mereka berdua makan bersama, sedangkan Bibi Yaya mengurusi dapur karena setiap diajak makan bersama, Bibi Yaya selalu tidak mau dan memilih makan saat semua sudah makan.


"Kiara, apa kamu sudah berkenalan dengan teman-temanmu di sana? Siapa saja mereka?"


"Aku baru berkenalan dengan satu orang dan dia sangat menyenangkan seperti Tia. Nama dia Momo."


"Momo? Dia laki-laki?"


"Bukan, Mas, dia seorang gadis. Nama aslinya Margin, tapi dia lebih suka dipanggil Momo."


"Lucu sekali panggilannya."


"Iya. Dia gadis yang baik dan pemberani. Aku saja dibela sama dia saat kakak panitia OSPEK sedang marah padaku."


"Kenapa kamu dimarahi?" Kedua alis Arthur bertaut."


Kiara menceritakan semuanya kenapa dia sampai dimarahi oleh Delia. "Kalau dia terlalu menekan kamu, katakan saja padaku, Kiara. Aku akan bicara pada rektor di sana."


"Tidak apa-apa, Mas. Aku sadar kalau ini masih masa orientasi. Dulu waktu pertama masuk SMA juga begitu, tapi memang tidak seseram ini."


"Kalau dia sudah keterlaluan walaupun itu hanya sebuah ucapan, hal itu juga tidak bisa dibiarkan."


"Iya, Mas. Mas sendiri waktu SMA dan kuliah apa tidak pernah mendapat moment seperti itu?"


"Tidak pernah?" jawab Arthur singkat.


"Apa karena dulu Mas sangat pendiam? Mungkin kakak angkatan kasihan melihat wajah Mas." Kiara terkekeh.


"Bukan karena itu, Kiara. Aku memang dulu tidak pernah mendapat perlakuan seperti kamu dan anak lainnya dapatkan selama masa orientasi. Aku malah mendapat perlakuan sangat baik dan manis, terutama oleh Kakak kelas dan Kakak angkatan cewek karena mereka rata-rata menyukaiku." Arthur memberikan smirknya pada Kiara.


Kiara memutar bola matanya jengah. "Sepertinya aku tadi salah pertanyaan. Anggap saja aku tadi tidak bertanya sama Mas."


Arthur terkekeh mendengar ucapan istrinya, dan Kiara pun tidak mau membahas lagi masalah masa orientasinya Arthur.


"Kiara, apa tadi tidak ada mahasiswa baru atau kakak angkatan laki-laki yang mengajak kamu berkenalan?"


"Mas tenang saja karena aku tidak memiliki pesona seperti Mas Arthur dulu, jadi tidak ada laki-laki yang mengajak kenalan aku. Mulai kan posesifnya."


"Bagus kalau begitu."


"Kiara, ini milik siapa? Kenapa bibi menemukan ada di dalam tas kamu?" Bibi Yaya menunjukan termos berwarna tosca.


Kiara ingat tentang termos milik Kiano yang tidak sengaja dia bawa.


"Tadi Bibi mengambil bekal makanan kamu dan ada termos ini."


"Apa itu punya teman kamu yang ketinggalan Kiara? Punya Momo?"


"Bukan, itu punya Kiano," jawab Kiara lirih.


"Apa? Kiano?" Arthur seketika kaget.