Be Mine

Be Mine
Kiara Sakit Part 2



Tante Maura tampak senang melihat Kiara yang wajahnya sudah tidak pucat seperti pada saat baru datang.


"Kamu mau melihat bayi kecilmu?" tanya wanita paruh baya yang masih terlihat cantik itu?"


"Aku mau Tante Maura!" seru Kiara senang.


"Kalau begitu kita akan pergi ke ruang USG. Mo, tolong bantu mama."


Morgan yang memang tadi dipesan oleh mamanya agar hari ini membantunya di klinik karena ada wanita yang melahirkan, jadi dia tidak pergi dengan teman-temannya.


"Iya, Ma. Hai, Kiara! Lama kita tidak bertemu."


"Halo, Morgan, bagaimana kabarmu?"


"Aku baik, senang melihat kamu dan Arthur di sini." Morgan berbicara dengan tangan mendorong keluar ranjang Kiara.


"Kekasihmu dari kampus mana?" celetuk Kiara yang langsung membuat Morgan terkekeh.


"Aku masih jomblo yang menunggu jodoh pilihan mamaku."


"Mama itu hanya mencoba mencarikan calon istri yang baik untuk kamu, tapi semua itu ada di tangan kamu keputusannya."


"Kalau aku menolak, nanti mama sakit hati, dan lebih parahnya, aku berbuat jahat sama gadis itu."


"Kalau tidak cocok juga tidak apa-apa, namanya juga coba perkenalan."


"Dia itu anak orang, Ma. Bukan hal yang bisa dicoba-coba. Aku saja kenalan sama seorang gadis kalau dia respon dan mau jadi pacar aku, kita jalani, tapi kalau tidak aku juga tidak memaksa. Bahkan ada yang ingin jadi pacar aku, dan aku bilang sudah punya pacar, dia tetap mau, ya sudah aku jalani juga."


"Maka dari itu gelar playboy disematkan sama kamu."


"Betul. Menjalin hubungan itu harus saling membuat nyaman keduanya. Makannya, aku takut jika dijodohkan, takut dia sebenarnya tidak suka, tapi karena takut, dia jadi menerima. Seperti aku ini."


"Ya sudah, nanti mama akan bicara sama anak teman Mama itu setelah berkenalan dengan kamu, apa dia setuju atau tidak, kalau tidak mau ya bilang jujur. Kamu juga, Mo."


"Aku sudah menolak, tapi Mama tetap saja menyuruh bertemu dulu." Morgan memutar bola matanya jengah.


"Siapa tau nanti kamu suka dan cocok sama dia, Mo," ucap Kiara.


"Mungkin bisa, kalau dia seperti kamu." Morgan terkekeh kecil.


"Sudah kuduga," celetuk Arthur melihat pada Morgan.


"Aku memang suka tipe gadis seperti istrimu, Arthur, Kiara tipe gadis yang bisa dijadikan seorang istri dan ibu, tapi bukan berarti lainnya tidak, hanya saja yang aku lihat dari sekian gadis yang aku kenal, hanya Kiara yang bagiku seperti itu."


"Terima kasih sudah memuji istriku dan apa yang kamu katakan memang benar."


"Jaga dia baik-baik dan jangan menyakitinya karena dia bidadari langka. Bye, Kiara!"


Morgan yang sudah mengatur tempat tidur Kiara di dekat alat untuk USG langsung berjalan pergi dari sana.


"Kamu tidak tau bagaimana perjuanganku mendapatkannya. Jadi, tidak mungkin aku dengan bodohnya melepaskannya," Arthur bermonolog sendiri.


"Mas." Kiara menggenggam tangan suaminya.


Tante Maura segera membuka baju Kiara dan mulai mengoleskan gel di atas perut Kiara. Pada layar besar di depan mereka mulai tampak gambaran sebuah manusia kecil.


"Itu bayiku, Tante."


"Iya, dan dia terlihat sangat sehat." Tante Maura menghentikan gambarnya dan mulai memeriksa semuanya dengan mengotak-atik mesin USG itu, Tante Mauren ingin tau apa perkembangan bayi Arthur dan Kiara itu sesuai usia kandungannya agar bisa mencatat pada buku pemeriksaan.


"Apa bayi kamu sehat, Dok? Tidak ada masalah, kan?" tanya Arthur sekali lagi guna memastikan keadaan bayinya.


"Baik, Arthur, bayi kalian sangat sehat, tapi untuk malam ini kalian menginap dulu di sini sampai besok pagi aku periksa lagi, dan kalau memang tidak ada masalah, lusanya kalian boleh pulang."


"Iya, Tante, kami ikuti saja apa yang Tante Maura sarankan."


"Mas, aku besok waktunya masuk kuliah, apa boleh izin lagi?"


"Itu urusanku, Sayang. Nanti aku yang akan menyelesaikan masalah itu. Sekarang kamu istirahat saja dulu dan fokus untuk sembuh." Arthur mengecup kening Kiara.


Malam itu Arthur menemani Kiara di klinik dan Bibi Yaya dihubungi oleh Arthur. Arthur meminta tolong agar Bibi Yaya datang ke klinik di mana Kiara dirawat dan membawakan keperluan Kiara di sana.


Bibi Yaya tentu saja terkejut mendengar hal itu, dia segera datang ke sana setelah mengambil beberapa baju Kiara dan Arthur.


Malam itu di sana sudah malam, hanya Arthur dan ada dokter Maura serta tiga asisten dokter Maura yang berjaga di sana karena baru saja ada yang melahirkan. Jadi, mereka masih harus melakukan pemeriksaan ibu yang baru melahirkan.


"Arthur, Kiara mana?" tanya bibi Yaya yang baru saja datang dan dia bertemu Arthur sedang duduk di lorong dekat kamar Kiara


"Dia baru saja tidur setelah tadi mendapat suntikan obat. Bibi, aku minta maaf sudah merepotkan Bibi malam-malam begini."


"Bibi sama sekali tidak direpotkan. Arthur, Bibi juga bawakan camilan untuk Kiara karena kadang tengah malam dia merasa lapar dan mencari camilannya."


"Terima kasih, Bi. Bibi jangan khawatir, Kiara dan bayi keadaannya baik-baik saja." Arthur mengusap pundak Bibi Yaya yang wajahnya terlihat cemas.


"Arthur, kenapa Kiara bisa sampai seperti ini? Bukannya tadi dia pergi dalam keadaan baik-baik saja?"


Arthur mengatakan apa yang dokter Maura katakan. Bibi Yaya yang mendengar sampai menghela napasnya panjang.


"Arthur, boleh tidak bibi bicara suatu hal sama kamu?"


"Tentu saja boleh, Bi. Memangnya Bibi mau bicara apa? Kenapa terdengar serius?"


"Bibi jujur saja tidak setuju kamu membawa Kiara tinggal di rumah utama dengan Alexa dan Mega," terang Bibi Yaya terdengar serius.


Arthur langsung terdiam melihat serius pada Bibi Yaya.


"Bi, aku sudah bicara dengan Kiara dan dia setuju. Lagi pula ini mamaku yang meminta sendiri karena dia ingin menjalin hubungan baik dengan Kiara."


"Bibi tidak bisa percaya dua orang ibu anak itu berubah dan tulus menerima Kiara. Pikirkan apa yang bibi ucapkan. Menjalin hubungan baik dengan mama kamu tidak harus mengajak Kiara tinggal di sana. Jangan bawa Kiara masuk ke dalam rumah utama, Arthur." Entah kenapa bibi Yaya seolah sudah tidak peduli atau takut jika dirinya dianggap mulai berani ikut campur urusan keluarga Arthur.


"Bibi tenang dulu." Arthur memegang kedua pundak wanita yang sudah dia anggap ibunya sendiri.


Bibi Yaya mencoba mengambil napasnya panjang. Dia akhirnya memilih duduk di bangku panjang yang ada di sana.


"Entah kenapa bibi sangat tidak ingin kamu membawa Kiara masuk rumah utama itu. Arthur aku tau kamu pria yang sangat baik dan ingin bersikap hormat pada orang tuamu. Kamu juga sangat menghormati mama sambungmu itu, tapi sekali lagi bibi mohon agar kamu memikirkan tentang semua ucapan bibi ini." Tangan Bibi Yaya menggenggam erat kedua telapak tangan Arthur.