Be Mine

Be Mine
Ingin Bercerai



Arthur menjelaskan jika dia ingin mengajak Kiara tinggal di apartemennya karena Arthur tidak mau Kiara tinggal di rumahnya sendiri, apa lagi dalam keadaan seperti ini. Jika benar-benar sudah tenang, maka Kiara boleh kembali ke rumahnya.


"Kalian mungkin ingin bicara berdua, aku pulang dulu, Kiara dan nanti aku akan ke sini lagi untuk membantumu menyiapkan acara untuk mendoakan ibumu." Kiara mengangguk beberapa kali.


Sekarang di rumah itu hanya ada Kiara dan Arthur. Kedua mata Kiara menangkap balutan pada luka di tangan Arthur karena mencoba mengambil cutter dari tangan Kiara.


"Apa tanganmu baik-baik saja?"


"Iya, tanganku sudah tidak apa-apa karena tadi Tami sudah mengobatinya."


"Aku minta maaf jika sudah melukaimu."


"Aku tidak masalah Kiara, yang terpenting kamu baik-baik saja." Kiara sekarang malah tersenyum aneh. "Apa yang kamu tertawakan?"


"Seharusnya kamu menikah saja dengan Mba Tami, bukan denganku. Mba Tami sangat mengagumimu, dan kalian lebih cocok," celetuk Kiara.


"Dia memang baik, dan dia juga bisa dibilang istri idaman, tapi kamu terlanjur menjadi milikku. Jadi, aku tidak mungkin melihat orang lain." Arthur menatap Kiara dengan serius.


Kiara tampak bingung sekarang karena tatapan dari pria yang sudah menjadi suaminya itu.


"Arthur, aku harap pernikahan kita ini jangan sampai Mega dan orang lain mengetahuinya."


"Kenapa memangnya? Kamu sahabatnya Mega dan aku kakaknya Mega. Dia pasti senang mengetahui hal ini."


"Jangan Arthur! Aku mohon kita tidak perlu membuka tentang pernikahan kita ini. Aku mau lulus sekolah dulu dan memikirkan bagaimana masa depanku selanjutnya. Mungkin aku mau meneruskan toko kue milik ibu."


"Kenapa kamu memikirkan masa depanmu? Aku, nanti yang akan memikirkan semua itu. Kamu akan masuk kuliah dan boleh meneruskan toko kue itu."


"Tidak perlu, Arthur. Setelah lulus sekolah, kita akan bercerai saja, dan aku tidak akan menuntut apa-apa lagi padamu. Kamu bebas dan tidak perlu khawatir aku mengganggu kehidupanmu."


"Aku tidak mau menceraikanmu ataupun meninggalkanmu, dan kamu jangan berharap aku akan melakukan hal itu."


"Kenapa Arthur? Aku sudah membebaskanmu dan aku akan melupakan kejadian antara kita itu."


"Aku sudah berjanji bukan hanya dihadapan Tuhan, tapi juga di depan mendiang ibumu sebelum meninggal karena itu aku akan menempati semua yang aku sudah janjikan."


"Tapi aku tidak bisa menjalani semua pernikahan ini, Arthur. Aku dan kamu sama-sama tidak memiliki perasaan apapun. Apa kita bisa menjalani semua ini?"


"Kita pasti bisa menjalani semua ini. Jika, kamu mau menerima bahwa kita ini adalah suami istri yang sah, Kiara."


Kiara terdiam sejenak. Dia tidak tau harus menjawab apa karena dia masih benar-benar shock dengan semua yang sedang terjadi.


"Arthur, untuk sementara ini sebaiknya kamu tidak perlu sering ke rumah agar tidak menimbulkan banyak pertanyaan dari para tetanggaku."


Arthur berdiri dari tempatnya dan dia menatap Kiara datar. "Baiklah, aku akan menurut apa yang istriku katakan."


Arthur menunduk dan dengan cepat mengecup kening Kiara. Kiara tiba-tiba terdiam mendapat kecupan pada keningnya.


"Aku pergi ke kantor dulu dan mungkin aku beberapa hari tidak akan ke sini supaya kamu merasa lebih tenang tidak mendapat pertanyaan dari para tetanggamu." Arthur berjalan keluar dari dalam rumah Kiara.


Sore itu Kiara menyiapkan acara doa untuk mendiang ibunya. Para tetangga yang ingin


datang untuk membantu, tapi ditolak oleh Mba Tami. Mba Tami mengatakan jika semua kue untuk acara sudah dia pesankan. Sebenarnya Arthur yang mengaturnya agar Kiara tidak perlu repot memikirkan tentang masalah ini.


Mereka semua tetangga yang baik dan tau balas akan kebaikan keluarga Kiara selama ini. Mereka terus memberi semangat dan support untuk Kiara.


Mba Tami dan Kiara melihat beberapa snack box yang baru saja tertata rapi di sudut kamar mendiang ibunya dan itu semua Arthur yang memesannya.


"Huft! Kalau acara doa untuk ibu seperti ini, bisa-bisa mereka curiga kenapa aku bisa mengadakan acara dengan kue semewah ini." Kiara duduk malas di atas ranjang ibunya.


"Mau bagaimana lagi, Kiara? Suami kamu orang kaya raya dan dia pasti tidak akan memesan sesuatu yang biasa saja. Suami kamu keren, Loh!" senggol mba Tami pada lengan Kiara.


"Nanti aku hubungi saja dia agar tidak perlu menyiapkan acara doa untuk ibuku seperti ini dan biar kita saja yang mengurusnya."


"Kiara, kalau boleh mba tau, kamu dan Arthur itu, kan terlihat sangat tidak suka, tapi kenapa kalian bisa menikah, dan anehnya Tante Kinan yang malah meminta hal itu?"


Kiara melihat pada mba Tami dan dia ragu harus bercerita atau tidak. "Karena mba Tami sudah mengetahui tentang pernikahanku itu, maka aku akan bercerita pada mba."


"Kalau tidak mau cerita juga tidak apa-apa, Walaupun sebenarnya aku benaran penasaran. Huft! Pria yang sangat aku kagumi malah menikah dengan gadis muda yang sudah aku anggap sebagai adik."


"Aku minta maaf jika sudah membuat Mba Tami kecewa dan marah denganku."


"Aku hanya kecewa, tapi aku tidak marah sama kamu. Jodoh itu rahasia Tuhan yang tidak satu pun manusia ketahui. Aku senang kamu bisa menikah dengan orang yang baik dan mapan seperti Arthur. Hidup kamu pasti bisa terjamin."


"Dia bukan orang baik, Mba."


Kedua alis mba Tami mengkerut. "Maksud kamu apa?"


"Andai kejadian aku dan Arthur itu tidak terjadi pasti aku tidak akan pernah menikah dengannya, dan andai ibu juga tidak menyuruh Arthur menikahiku, kami juga tidak akan menikah."


"Tunggu! Kejadian? Memangnya ada kejadian apa?"


Kiara tampak masih ragu-ragu untuk menceritakan kejadian buruk antara dia dan Arthur.


"Apa ada kejadian yang sangat buruk terjadi sama kamu? Kalau memang tidak mau bercerita, aku juga tidak akan memaksa." tangan Mba Tami menepuk beberapa kali tangan Kiara.


"Arthur sudah mengambil dengan paksa hal yang paling berharga dalam hidupku, Mba."


"Apa?" Wajah Mba Tami sangat terkejut mendengar apa yang dikatakan oleh Kiara.


"Aku tidak mau mengingat lagi sebenarnya kejadian itu. Kejadian itu benar-benar menjadi mimpi buruk bagiku, Mba."


Tangan gadis manis itu mengusap lengan tangan Kiara dengan lembut. "Tapi bagaimana hal itu bisa terjadi, Kiara? Sedangkan yang aku dan Tante Kinan lihat Arthur adalah orang yang sangat baik mau menolong kita waktu itu."


Kiara tersenyum miring. "Itu untuk membayar kehormatanku yang sudah dia ambil waktu itu, Mba."


"Jujur saja ya, Kiara. Aku benar-benar melihat Arthur bukan seperti pria yang tidak memiliki hati.