Be Mine

Be Mine
Arthur VS Elang



Pagi itu Kiara yang sudah bangun dari tidurnya, segera Bersiap untuk pergi ke sekolah. Di meja makan, ternyata mba Tami sudah membuatkannya sarapan pagi.


"Mba Tami, kenapa repot seperti ini?"


"Tidak repot, aku hanya membuat omelete sederhana. Sekarang kita makan saja dulu dan kamu segera berangkat sekolah."


"Aku bingung, motor aku kenapa belum selesai diperbaiki, dan nanti pasti biayanya akan tambah mahal. Arthur itu benar-benar menyebalkan."


Muka Kiara ditekuk kesal sembari menyendokkan makanan ke dalam mulutnya.


"Benci Itu adalah tunas cinta yang akan segera tumbuh," ledek mba Tami.


"Kenapa Mba Tami ini ingin sekali aku bersama dan bahagia dengan Arthur? Kalau aku bercerai dengan Arthur, Mba Tami punya kesempatan loh. Bukannya Mba Tami suka sama Arthur? Kalian pasti cocok dan Arthur sangat mujur bisa memiliki istri yang baik seperti mba Tami."


"Jangan bicara seperti itu, Kiara karena itu bukan ucapan yang baik. Apa kamu tidak takut jika suatu hari nanti jatuh cinta pada Mas Arthur, tapi ada wanita yang juga menyukainya? Atau parahnya kamu akan ditinggalkan karena sikap kamu itu."


"Aku akan bilang pada cupid cinta supaya tidak menembakkan panah cintanya padaku."


Mba Tami malah terkekeh pelan. "Memangnya kamu kenal sama cupid cintanya?"


"Nanti aku kenalan." Kiara segera menghabiskan makanannya dan beranjak pergi dari sana. "Bercandanya sudah dulu ya, Mba, aku mau pergi ke sekolah karena tidak mau terlambat. Menunggu angkutan umum itu 'kan bisa lama sekali."


"Kamu itu. Siapa yang bercanda?"


Kiara hanya tersenyum kecil dan berjalan keluar rumahnya setelah berpamitan pada Mba Tami. Kiara sengaja tidak meminta tolong mba Tami untuk diantar karena dia tidak mau lebih menyusahkan mba Tami.


Kiara memperlambat jalannya karena dia melihat ada mobil berhenti di depan rumahnya. Kedua mata Kiara mendelik, saat melihat siapa yang turun dari dalam mobil itu.


"Hai, Kiara. Aku antar kamu ke sekolah. Mau, kan?"


"Elang? Kamu kenapa datang ke sini?"


"Aku minta maaf jika salah sama kamu, Kiara. Kiara, aku mohon bisa tidak kita bicara berdua? Aku ingin kita bisa menyelesaikan masalah yang kita hadapi ini dengan hati yang lebih tenang." Elang memegang tangan Kiara. "Aku merindukan kamu, Sayang," ucap Elang lirih.


Belum sempat Kiara bicara, mobil berwarna hitam yang Kiara kenal berhenti di sana. Pria dengan baju kemeja hitamnya lengkap dengan suit dan penampilannya sangat rapi keluar dari dalam mobil. Dia berjalan mendekat ke arah Kiara dan Elang yang melihat ke arahnya juga.


"Arthur?" Kedua alis Kiara mengkerut. Dalam hatinya, Kiara bingung melihat kenapa Arthur bisa ada di sini? Dahal Kiara mengatakan agar Arthur tidak sering datang ke rumahnya.


"Kiara, aku akan mengantarkan kamu ke sekolah." Arthur melirik pada tangan Kiara yang dipegang oleh Elang. "Kita pergi sekarang saja." Arthur menggandeng tangan Kiara dan membawanya menuju mobil miliknya.


"Hei!" Elang berjalan dengan menggunakan tongkatnya mengejar Kiara dan Arthur.


"Arthur!" Kiara memegang tangan suaminya itu.


"Kalian bukannya sudah putus? Kamu tidak berpikiran akan kembali padanya, kan?" Arthur menatap Kiara dengan tajam.


"Kekasih? Bukannya kalian sudah putus?" Tatapan Arthur masih saja tajam.


Mba Tami yang melihat dua orang yang saling berhadapan itu tampak takut dan cemas. Mba Tami tidak mau kalau sampai Kiara mendapat masalah di kampungnya karena Arthur dan Elang bersitegang.


Dia berjalan mendekat ke arah mereka bertiga. "Kiara, kenapa belum berangkat ke sekolah?" tanya Mba Tami ingin mengalihkan situasi yang tegang itu.


"Mega yang menghubungiku agar aku menjemputmu ke sekolah karena apartemenku tidak jauh dari rumahmu, Kiara. Aku juga sekalian mau ke kantor."


"Biar aku yang mengantar Kiara, Kak Arthur karena ada hal penting yang harus aku selesaikan dengan Kiara."


Arthur menatap pada Kiara dengan tatapan yang jujur saja Kiara agak takut. Arthur seolah memberi isyarat jika Kiara tidak boleh pergi dengan Elang, atau mungkin Arthur akan mengatakan dia adalah suaminya.


"Elang, kita sudah tidak ada yang perlu dibicarakan lagi, dan sebaiknya kamu jangan ke rumahku lagi, atau nanti kamu bisa terkena masalah dengan mamamu."


Sekali lagi tangan Elang memegang tangan Kiara. "Kiara, kita bisa berpacaran backstreet dari mamaku dan kedua orang tuaku tidak akan pernah tau tentang hubungan kita ini nantinya."


Kiara melepaskan genggaman tangan Elang dan melihat pada Arthur. "Arthur, kita berangkat sekolah sekarang saja, aku tidak mau sampai terlambat. Elang, aku minta maaf tidak bisa menerima keinginan kamu itu."


Kiara masuk ke dalam mobil Arthur. Pun pria itu juga masuk ke dalam mobilnya.


"Kiara! Sampai kapanpun aku tidak akan pernah menganggap hubungan kita ini putus karena aku tidak mau kamu jauh dariku!" teriak Elang, tapi mobil Arthur malah berjalan pergi dari sana.


Mba Tami menepuk pundak Elang dan mencoba memberitahu jika Elang seharusnya menghormati apa keputusan Kiara dan tidak perlu mengejar Kiara lagi karena hal itu akan membuat Kiara dalam masalah.


"Aku mencintai dia, Mba, dan aku pastikan dia tidak akan mendapat masalah dengan mamaku. Aku masih mencoba meyakinkan mamaku agar mau menerima Kiara sebagai kekasihku."


"Hal itu pasti tidak semudah yang kamu harapkan, Elang. Kiara sudah pernah mendapat penghinaan dari mama kamu dan jangan membuatnya dia dihina lagi. Sebaiknya kamu lupakan dia karena itu hal terbaik yang bisa kamu lakukan untuk Kiara." Mba Tami berjalan pergi dari sana. Pun dengan Elang akhirnya juga berjalan pergi dari sana.


Di perjalanan Kiara yang duduk di samping Arthur menangis memikirkan ucapan Elang tadi. Andai semua hal tidak serumit ini, dia pasti tidak akan mau putus dengan Elang dan bersikap tega pada Elang.


"Apa kamu sangat mencintai Elang, Kiara?" Kiara tidak menjawab pertanyaan Arthur. "Apa yang membuatmu jatuh cinta padanya?"


"Semuanya. Semua hal yang ada pada dirinya yang membuat aku mencintainya."


"Tapi sekarang kamu harus melupakan dia, Kiara karena ada aku yang sekarang adalah suamimu."


"Kamu memang suamiku, Arthur, tapi apa kamu lupa? Kita menjadi suami istri karena apa?"


"Aku tidak peduli tentang hal itu, Kiara Tizania. Sekarang, kamu adalah istriku dan milikku seutuhnya." Arthur menatap Kiara dengan serius. Arthur ini sebenarnya sangat kesal karena melihat Kiara menangisi mantan kekasihnya. Kiara harus sadar jika dia sekarang adalah istri seseorang dan alangkah tidak pantasnya hal itu dilakukan oleh Kiara meskipun Arthur tau jika melupakan seseorang memang tidak semudah membalikkan telapak tangan.


Mobil Arthur sudah berhenti didepan gedung sekolah, Kiara. Kiara sedikit kesal karena Arthur malah berhenti di dalam gedung skolah, dahal tadi Kiara menyuruh Arthur berhenti di tempat biasanya.