Be Mine

Be Mine
Arthur Pergi Dari Apartemen part 2



Kiara tampak mondar mandir di ruang tamu, dia sesekali melihat ke arah pintu. "Kiara, minum dulu, kamu dari tadi tampak gelisah."


"Aku tidak mau minum, Bi. Aku mau mas Arthur. Dia ke mana sih? Kenapa dia harus pergi seperti ini?" Kiara menghapus air matanya.


"Arthur nanti pasti kembali, dia bukan tipe orang yang suka lari dari masalah. Dia bukan anak kecil Kiara."


"Kalau begitu kenapa dia harus pergi tanpa mengatakan apapun sama aku? Aku hubungi juga tidak dijawab." Tangisan Kiara semakin terdengar keras.


Bibi Yaya yang melihat hal itu juga ikut sedih. Apa lagi Kiara juga sedang hamil, orang hamil kasihan kalau selalu sedih.


Tangan wanita paruh baya itu menggandeng Kiara dan mengajaknya untuk duduk di sofa. Kiara menurut dan Bibi Yaya memberikan air minum pada Kiara agar lebih tenang.


Tidak lama pintu utama dibuka oleh seseorang dan pria yang dari tadi Kiara tunggu berdiri di depan pintu.


"Mas Arthur!" Kiara segera berlari dan memeluk erat pria yang sangat dia cintainya.


"Kiara kamu jangan berlari seperti itu! Ingat, kamu sedang hamil."


"Mas Arthur dari mana? Kenapa pergi dari sini tidak mengatakan padaku. Aku mau jelaskan semuanya sama Mas Arthur."


Kiara menangis sembari memeluk erat tubuh suaminya. Arthur pun membalas pelukan istrinya dan melihat pada Bibi Yaya.


"Kalian berdua ini hanya salah paham. Kenapa malah menjadi ribut seperti ini?" tanya bibi Yaya.


"Aku tadi benar-benar cemburu dengan apa yang Kiara katakan, Bi."


"Dengarkan aku dulu, Mas. Saputangan itu diberikan kak Kiano agar aku bisa menghapus bekas lipstik yang Kak Delia oleskan pada bibirku."


"Kenapa seperti itu?"


Kiara menceritakan semuanya. Jujur saja Arthur ingin bertemu dengan si Delia itu.


"Keterlaluan sekali! Dia harus dilaporkan terkait tindakannya yang seperti itu. Meskipun ini OSPEK, tapi tidak seperti ini caranya."


"Tidak perlu, Mas. Aku tidak mau kita membuat masalah. Dia juga sudah diperingatkan oleh Kak Kiano. Mas, aku minta maaf, tadi aku berniat menyembunyikan saputangan itu karena aku tidak mau kamu salah paham lagi."


Arthur menarik napasnya panjang. "Ok, sekarang ceritakan semua yang terjadi di OSPEK kamu hari ini. Aku janji tidak akan marah, daripada ada yang kamu sembunyikan dariku, Kiara."


Kiara tampak terdiam sejenak. "Kiara, kita ini sudah menikah dan ada anakku di dalam perut kamu. Kita harus benar-benar terbuka agar apapun nantinya yang ingin menerpa rumah tangga kita tidak akan pernah bisa."


"Tadi, aku juga tidak sengaja memeluk Kak Kiano karena ketakutan," ucap Kiara lirih dan jujur saja di dalam hati Arthur seolah ada pisau yang menancap bahkan merobeknya dengan kuat, tapi Arthur sudah berjanji tidak akan marah. Jadi, dia menahan amarahnya.


"Ketakutan kenapa?"


"Aku dihukum karena kurang satu lagi tanda tangan dari kakak angkatan, dan Kak Kiano yang takut aku pingsan seperti tempo hari coba melihatku di sana, tapi aku yang ketakutan di tempat sepi dan sudah lama tidak terpakai itu malah lari ketakutan dan menabrak Kak Kiano sampai memeluknya."


Arthur benar-benar seperti berdiri di bara api. Dia benar-benar ingin meledak marah saja. "Ada lagi yang mau kamu katakan padaku?"


Kiara menggeleng pelan. Bibi Yaya yang melihat hal itu ingin ketawa, tapi juga ingin tersenyum melihat pasangan yang bisa dibilang menggemaskan ini.


"Aku sudah jujur. Mas jangan marah lagi." Kiara memeluk kembali suaminya.


"Aku tidak akan marah, tapi mulai besok kamu tidak perlu mengikuti OSPEK di kampus kamu lagi."


"Hah? Tidak bisa begitu, Mas!" Kiara yang kaget dengan ucapan Arthur segera menarik tubuhnya melihat kaget pada suaminya.


"Tentu saja bisa," jawab Arthur santai.


"Jadi, maksud Mas Arthur, aku tidak boleh kuliah?"


"Kamu akan tetap kuliah, tapi tidak perlu mengikuti OSPEK."


"Mas, jangan karena kecemburuan yang tidak beralasan seperti itu membuat aku harus berhenti kuliah."


Arthur menggandeng tangan Kiara dan mengajaknya untuk duduk di sofa karena Arthur tidak mau istrinya itu kecapean.


"Mas."


"Dengarkan aku dulu, Sayang. Kamu tetap akan kuliah, hanya saja kamu tidak perlu mengikuti OSPEK. Alasan pertamaku karena kamu sedang hamil, dan kegiatan di OSPEK itu bisa membuat kamu kelelahan dan aku tidak mau sampai ada apa-apa dengan bayi kita. Kedua karena aku tidak mau selalu takut memikirkan kamu dan Kiano itu."


"Aku tidak ada apa-apa dengan Kak Kiano, Mas! Aku juga sudah bilang berkali-kali."


"Iya, aku percaya kamu tidak ada apa-apa dengan Kiano, hanya saja setiap kejadian selalu ada nama dia, dan aku sangat cemburu, Kiara! Apa kamu tidak paham dengan perasaanku?"


"Mas tidak percaya padaku?"


"Bukan tidak percaya, tapi rasa yang aku rasakan ini beda. Kiara, aku bahkan menolak kerja sama dengan rekan bisnisku karena dia juga mengajak Selena bekerja sama dengannya. Jika aku menerimanya, aku harus selalu bertemu dengan Selena, tapi aku tidak mau menerimanya karena aku tidak mau membuat kamu cemburu ataupun tidak tenang membayangkan aku selalu bertemu Selena."


Kiara hanya bisa terdiam dan dia mengakui apa yang dikatakan oleh suaminya itu memang benar. Kiara pasti akan merasa curiga terus jika tau suaminya bekerja sama yang melibatkan Selena.


"Lalu, apa boleh kalau aku tidak mengikuti OSPEK?"


"Aku tadi sudah bicara dengan Rektor di kampus kamu, Kiara dan aku sudah mengatakan semuanya tentang keadaan kamu."


Kiara langsung melongo mendengar apa yang baru saja suaminya itu katakan. "Aku tadi pergi karena aku ingin bertemu dengan rektor di kampus kamu dan aku sudah memintakan izin kamu untuk tidak mengikuti acara OSPEK itu karena aku tidak mau terjadi apa-apa dengan bayi di dalam kandunganmu."


Bibi Yaya yang mendengar itupun tersenyum senang. "Dia persisi sekali seperti Tuan Besar Alan. Arthur bisa melakukan apapun untuk menjaga orang yang sangat dia cintai," dialog Bibi Yaya sendiri.


"Mas serius melakukan hal itu?"


"Tentu saja. Jadi, mulai besok kamu di rumah saja sampai nanti kegiatan belajar mengajar dimulai, kamu baru bisa mengikutinya." Arthur beranjak dari tempatnya dan menggendong istrinya.


"Mas, aku--."


"Aku tidak suka dibantah kali ini. Kalau kamu masih mau kuliah, ikuti perintahku," ucap Arthur tegas dan wajahnya pun tampak serius.


Kiara tidak bisa berkata-kata lagi kali ini, apa lagi dia melihat wajah serius dari suaminya daripada nanti timbul masalah lagi dan dia tidak akan boleh kuliah. Lebih baik menurut.