Be Mine

Be Mine
Kebenaran Tentang Kejadian Buruk Itu part 1



Tampak dua orang saling berciuman di dalam kamar. Tangan wanita itu mulai menarik ke atas kaos dari pria yang sedang bercumbu dengannya.


"Mega, jangan! Kita ini sedang berada di rumah kamu, aku tidak mau dikira mama kamu sebagai pria yang tidak sopan dan kurang ajar. Kita tahan saja dulu karena sebentar lagi juga kita akan bisa melakukannya tanpa rasa takut lagi, saat kamu nanti disahkan menjadi istriku."


"Aku sangat mencintaimu, Lang dan aku ingin menjadi milikmu seutuhnya."


"Kamu akan segera menjadi milikmu seutuhnya dan aku akan sangat membahagiakan kamu nantinya." Tangan Elang mengusap lembut pipi Mega.


"Apa kamu serius dengan yang kamu ucapkan?" Mega memundurkan tubuhnya, dan melihat Elang dengan wajah penasaran.


"Tentu saja, kamu masih tidak percaya dengan apa yang aku katakan?" Elang membenarkan posisinya yang tadi sudah dibaringkan oleh Mega di atas tempat tidurnya. Dia sekarang duduk di atas tempat tidur Mega dan Mega duduk di depannya.


"Kenapa di dompetmu masih ada foto Kiara?"


"Dompet?" Elang mengeluarkan dompetnya dan dia membukanya untuk mencari foto Kiara. "Mana ada foto Kiara di sini?"


"Bukan dompet yang ini, Lang! Kamu mengganti dompetmu?"


"Oh ... maksud kamu dompet yang dulu? Aku minta maaf karena waktu itu aku terburu-buru dan salah mengambil dompet."


"Tapi di sana ada fotonya Kiara."


"Memang dompet itu ada fotonya Kiara, tapi aku mau membakarnya berserta dompetnya karena dulu dompet itu Kiara yang memilihkan untukku dan ada satu foto Kiara di sana yang aku sendiri lupa masih menyimpannya."


"Dompetnya sudah kamu bakar?"


"Sudah aku bakar dengan foto Kiara dan aku benar-benar sudah menghilangkan semua kenanganku dengan Kiara. Aku tidak mau menyakitimu."


"Apa kamu serius, Lang?" tatap Mega masih tidak percaya.


"Katakan padaku apa yang harus aku lakukan agar kamu percaya?"


Elang segera menyambarnya dan berdiri dengan memegang gunting itu. Mega yang melihat tampak terkejut.


"Lang, apa yang mau kamu lakukan?"


"Bukannya kamu membutuhkan bukti akan keseriusanku mencintaimu," ucap Elang dengan tegas dan seketika Mega melihat Elang mulai menyayat tangannya.


"Lang, hentikan!" Mega segera berjingkat dengan cepat menghentikan apa yang akan Elang lakukan. "Ya Tuhan! Lang, apa yang kamu lakukan?"


"Aduh!" Elang meringis kesakitan. Mega yang melihat hal itu langsung meminta maaf dan memeluk Elang dengan erat. Tampak senyum iblis pada bibir Elang.


"Lang, aku percaya sama kamu. Aku percaya, Lang." Mega tampak sangat ketakutan. Bagaimanapun rasa cintanya pada Elang sangatlah besar.


"Apa kamu sudah percaya?"


"Iya, aku percaya, Lang." Mega melihat tangan Elang. "Kita ke rumah sakit sekarang untuk mengobati lukamu."


"Jangan Mega, nanti yang ada mamaku akan marah sama kamu dan membatalkan pernikahan kita kalau tau kamu yang menyebabkan tanganku seperti ini. Ambilkan kotak obat saja dan segelas air karena dari tadi aku sebenarnya sangat haus."


"Iya juga, mamaku juga pasti akan marah karena sikapku yang kekanak-kanakan, tapi apa lukamu tidak akan parah."


"Kalau tadi kamu tidak menghentikan aku, pasti sekarang aku akan berada di atas langit."


"Lang, kamu jangan bicara begitu. Aku akan segera mengambilkan air minum dan kotak obat."


Elang mengangguk dan Mega segara keluar dari kamarnya.


"****! Aku terpaksa sampai melukai tanganku agar gadis sakit jiwa itu percaya dengan semua aktingku," gerutu Elang.


Elang kemudian segera pergi ke arah meja belajar Mega karena dia tadi melihat di laptop Mega yang menyala ada file dengan nama Kiara dan dia ingin tau apa itu. Elang segera membukanya karena kebetulan file itu tidak membutuhkan kata sandi.