
Kiara melihat pria di depannya itu. Dia tidak tau maksud dari ucapan pria tersebut, tapi dia merasa jika pria di depannya ini bukanlah pria baik-baik.
"Aku tadi melihatmu di sana, kamu pemenang dansa terburuk dengan Arthur bukan? Dan Mega ingin memberimu hadiah sepeda motor miliknya. Kamu gadis yang cantik dan manis, aku sangat menyukai gadis muda sepertimu. Aku bisa memberimu banyak uang jika kamu mau menemaniku malam ini di kamarku." Pria itu berjalan mendekat pada Kiara.
Seketika kedua alis Kiara mengkerut, dia melihat marah pada pria yang sebenarnya lebih pantas menjadi ayahnya. "Jaga bicara, Om. Aku bukan gadis yang suka menjual dirinya pada pria seperti Om."
"Tunggu!"
Tangan pria itu dengan cepat mencekal tangan Kiara yang hendak pergi dari sana. Kiara terkejut dan berusaha melepaskan pegangan tangan itu, tapi pegangan tangan pria itu malah semakin erat mencengkram tangan Kiara.
"Kamu jangan munafik gadis manis, aku tahu banyak gadis seusiamu yang masih berseragam putih abu-abu rela menjual dirinya hanya untuk mendapatkan barang-barang mewah yang bisa digunakan atau dia pamerkan kepada teman-temannya, dan banyak sekali gadis-gadis muda sepertimu yang mau menjadi sugar baby om-om kaya raya sepertiku, atau kamu sudah memiliki Om yang memeliharamu sehingga kamu bisa berpenampilan cantik dan memakai gaun mewah itu."
"Om jangan berbicara hal kurang ajar seperti itu. Aku sudah katakan kalau aku bukan seperti gadis yang ada di pikiran Om. Gaun ini diberikan oleh suamiku. Jadi, jaga bicara, Om!"
"Suami? Kamu menjadi simpanan maksudmu." Pria itu malah tertawa menghina.
"Lepaskan! Aku tidak mau bicara dengan pria tidak tau diri seperti, Om."
Kiara mencakar tangan pria itu sampai om tidak tau diri itu melepaskan tangan Kiara karena kesakitan.
Kiara segera berjalan pergi dari sana, tapi ternyata pria yang tidak terima dengan perbuatan Kiara itu mengejarnya sampai dia berhasil menarik lengan tangan Kiara.
"Lepaskan!"
Plak!
Sebuah tamparan keras mendarat tepat di pipi pria kurang ajar itu. Semua yang ada di sana sontak mengalihkan pandangan mereka pada Kiara dan pria yang mengejarnya.
"Kiara? Dia kenapa?" Mega melihat heran pada sahabatnya itu.
Kiara tidak sadar jika dia sudah berada tidak jauh dari tempat Mega dan keluarganya berkumpul.
"Berani sekali kamu menamparku, Gadis murahan!" seru pria itu marah dan mengeluarkan kata-kata hinaan.
"Tuan Jhon?" Alexa yang melihat salah satu rekan bisnis suaminya mendapat tamparan dari Kiara seketika marah. "Gadis itu kurang ajar sekali!" Alexa berjalan menghampiri Kiara dan Jhon.
"Om yang kurang ajar, tidak tau diri!" Kiara membalas menghina pria paruh baya itu.
"Kiara! Jaga mulut kamu! Kamu tau sudah berurusan dengan siapa?" Bentak Alexa marah. Kiara kaget melihat ada mamanya Mega di sana.
"Gadis ini memang tidak tau diri Alexa. Dia pura-pura menabrakku agar bisa berkenalan denganku, tapi dia malah yang seolah aku ingin menggodanya."
"Tuan Jhon, maafkan dia. Apa Tuan Jhon baik-baik saja?"
"Aku baik, hanya saja aku tidak menyangka putrimu akan memiliki teman seperti dia."
Kiara yang mendengar tuduhan bohong pria itu sangat tersayat hatinya, apa lagi Alexa juga seolah menyalahkan dirinya.
Elang yang berada di sana ingin mendekat pada Kiara, tapi tangannya malah ditahan oleh mamanya. "Kamu mau ke mana? Mau membela gadis tidak tau diri itu?"
"Ma, aku yakin Kiara bukan gadis seperti yang orang itu katakan."
"Jangan sok yakin kamu, Elang. Dia itu suka mendekat pria kaya agar bisa mendapatkan hidup yang lebih baik."
Elang bingung harus menjelaskan bagaimana lagi pada Mamanya, jika Kiara ini bukan gadis yang seperti mereka tuduhkan.
"Kiara, apa yang terjadi? Kenapa kamu menampar Paman Jhon?" Mega yang mendekat juga pada Kiara tampak bingung.
"Mega!" Kiara tampak menangis.
"Ada apa ini?" Arthur yang baru saja kembali ke tempat acara tampak bingung melihat adanya keributan di sana. Dia melihat pada istrinya yang terlihat menangis.
"Arthur, gadis ini membuat masalah dengan Tuan Jhon. Katanya tuan Jhon mencoba merayunya, padahal Kiara yang pura-pura menabraknya agar bisa berkenalan dengannya," jelas Alexa sembari menatap tajam pada Kiara.
Kiara tidak bisa berkata apa-apa dia hanya menangis sembari menggeleng-gelengkan kepalanya untuk memberitahu jika hal itu tidak benar.
Arthur sudah tau siapa yang bersalah di sana. Darahnya seketika mendidih dan tanpa aba-aba dia mencengkram kra kemeja pria bernama Jhon dengan kasar
Bruk!
Pria itu tersungkur ke tanah dengan keras, setelah mendapat pukulan yang sangat keras dari Arthur.
Semua yang ada di sana tampak mendelik melihat apa yang dilakukan oleh Arthur. Arthur menarik sekali lagi tubuh pria itu sehingga pria itu sekarang dalam posisi berdiri dengan wajah lebam.
"Apa yang sudah kamu katakan pada gadis itu? Jawab!"
"Arthur? Apa yang kamu lakukan pada Tuan Jhon?" Alexa tampak bingung.
"Sekali lagi aku tanya, apa yang sudah kamu katakan padanya?"
"Arthur! Kamu tau siapa Tuan Jhon, kan? Dia tidak mungkin berbuat buruk pada gadis itu. Kiara sendiri yang sudah mencari masalah." Alexa mencoba melepaskan tangan Arthur yang mencengkram kra baju Jhon.
Arthur melepaskan cengkraman, tapi kakinya menendang keras pada perut pria itu sampai sekali lagi pria itu jatuh tersungkur.
Gio yang melihatnya malah tertawa dengan ekspresi terkejut. "Dia tidak bisa dihentikan jika mengenai orang yang dia cintai."
"Rasakan itu, brengsek! Aku tau siapa kamu dan Kiara tidak mungkin merayumu."
Alexa sekarang mencoba membantu Tuan Jhon bangun. Pria itu tampak mengeluarkan darah pada tepi bibirnya.
"Tuan Jhon, maafkan putraku, dia mungkin salah paham akan semua ini."
"Arthur, aku tidak terima dengan apa yang kamu lakukan padaku malam ini. Kontrak kerja sama kita yang ayahmu berikan akan aku batalkan!"
"Tapi, Tuan Jhon --."
"Aku tidak peduli karena aku juga tidak mau bekerja sama dengan pria pemilik moral yang buruk seperti dirimu." Arthur menatap tajam pada Jhon.
"Arthur!" Alexa melihat tidak percaya pada putra sambungnya.
"Akan aku kirimkan pembatalan kerja sama kita, Jhon," timpal Alan yang berada di sana.
"Alan!" Sekarang Alexa melihat tidak percaya juga pada suaminya.
"Aku pastikan perusahaan kamu yang akan mengalami kehancuran kali ini, Jhon," ancam Alan. "Arthur, sekarang antarkan Kiara pulang."
Arthur melihat pada ayahnya. Arthur berjalan mendekati pada Kiara yang matanya terlihat sembab.
"Ayo kita pulang." Arthur menggandeng tangan Kiara dan berjalan
keluar dari hotel itu.
"A-aku tidak merayu om itu sama sekali, Arthur," jelas Kiara dengan suara terbata.
"Aku tau. Sekarang hapus air matamu dan kita akan pulang."