
Arthur dengan wajah marah menghampiri Elang dan sebuah tonjokan tepat pada wajah Elang.
"Mas Arthur!" Kiara memegangi tangan suaminya.
"Brengsek! Kenapa kamu berani sekali berpelukan dengan wanita lain di hari pernikahanmu?"
Elang mengusap bibirnya yang mengeluarkan darah. "Mas Elang tidak apa-apa?" tanya gadis yang ada di samping Elang.
"Aku tidak apa-apa, Karin."
"Mas Arthur, kenapa tidak bisa menahan emosi? Tidak perlu memakai kekerasan seperti ini."
"Biarkan saja, Kiara, dia berhak marah padaku."
Kedua mata Arthur menatap tajam pada Elang dan gadis yang sedang memeluk lengan tangan Elang.
"Kamu benar-benar tidak tau diri, Lang! Kamu akan menikah beberapa menit lagi, tapi di sini kamu malah berpelukan dengan orang lain dan kenapa dia bisa datang ke sini?"
"Bukan Mas Elang yang menyuruhku datang ke sini, tapi aku sendiri yang ingin melihat pria yang membuatku jatuh cinta akan menikah dengan orang yang sepantasnya memang harus bersamanya karena aku mencoba untuk ikhlas menerima semuanya." Terlihat air mata Karin menetes perlahan.
"Kamu mungkin sudah mengetahui apa yang sudah terjadi antara aku dan Karin, Kak Arthur. Kamu pikir aku baik-baik saja berada di posisi saat ini. Di satu sisi aku akan menikah dengan Mega dan sisi lain aku seharusnya bertanggung jawab karena sudah menghancurkan mas depan seorang gadis yang baik ini. Bagaimana jika kamu berada di posisiku?" Tatap Elang tegas.
Arthur yang mendengar pertanyaan Elang seketika wajahnya yang tadinya marah tampak bingung.
Kiara pun menatap sedih pada Karin. Dia seolah melihat dirinya pada diri Karin. Bagaimana jika waktu itu Arthur tidak dikhianati oleh kekasihnya, tapi dia sudah menghancurkan masa depan Kiara? Apa Arthur akan tetap bertanggung jawab atau akan menutup masalah ini dengan uangnya.
"Kenapa kamu diam, Kak Arthur? Kamu tidak bisa menjawabnya?Atau mungkin kamu akan menjawab, aku harus bertanggung jawab dengan gadis yang sudah aku renggut masa depannya. Tidak, kamu tidak akan menjawab seperti itu karena gadis yang akan aku nikahi adalah adik kesayanganmu, Kak Arthur."
"Lang, seharusnya kamu setelah kejadian itu mengatakan yang sejujurnya pada Mega. Sesakit apapun nantinya, Mega harus menerimanya." Arthur melihat pada Karin yang masih meneteskan air mata memegang erat tangan Elang. Dia seolah melihat sosok Kiara di masa lalu.
"Mas Elang akan meneruskan pernikahan ini." Karin melihat pada Elang dengan kedua mata yang terdapat buliran air mata yang siap keluar.
"Lalu, bagaimana dengan kamu, Karin?" tanya Kiara.
"Aku akan tetap menjalani kehidupanku seperti biasanya. Mas Elang sebenarnya ingin bertanggung jawab dengan membiayai semua kebutuhanku, tapi aku tidak mau karena aku tidak mau Mas Elang sampai ada masalah dengan istrinya."
Dada Kiara seolah dihantam oleh sebuah benda mendengar apa yang Karin ucapkan. Dia tidak menyangka jika Karin—gadis yang usianya masih terlihat muda dari Kiara tampak begitu tegar menghadapi cobaan yang tentu saja bukan hal yang mudah. Kiara saja waktu itu hampir saja mau bunuh diri saat Arthur merenggut kesuciannya dengan paksa dan dia sampai kapan pun tidak mau memaafkan Arthur meskipun Arthur ingin bertanggung jawab.
"Aku ingin bertanggung jawab pada Karin, tapi aku juga tidak tega jika harus melukai hati Mega."
Arthur tidak bisa berkata apa-apa lagi, meskipun hubungannya dengan Mega saat ini tidak membaik karena Arthur masih teringat apa yang sebenarnya Mega lakukan pada Kiara, tapi dia tidak mungkin menghancurkan adiknya di hari bahagianya seperti ini.
Ponsel Arthur tiba-tiba berdering dan dia melihat nama ayahnya di sana.
"Arthur, kamu di mana? Acara akan segera di mulai dan Elang juga dari tadi dihubungi mamanya belum bisa."
"Aku akan segera ke sana, Yah. Elang juga karena dia juga sedang berada di dalam kamar mandi." Arthur bicara dengan menatap Elang.
"Elang mungkin sedang gerogi menghadapi pernikahan ini. Ya sudah kalau begitu, kalian segera ke sini."
"Iya, Yah." Arthur mematikan panggilannya.
"Mas, kita segera ke tempat acara saja."
"Lang, semua keputusan ada di tanganmu." Arthur berjalan pergi setelah mengatakan hal itu.