
Mega terlihat sangat cantik dengan gaun pengantinnya yang berwarna putih yang dipenuhi oleh Swarovski di seluruh bagian gaun.
"Mama tidak menyangka akan melihat kamu memakai gaun pernikahan ini, dan kamu tampak sangat cantik."
"Terima kasih, Ma. Aku senang akhirnya hari ini aku akan menikah dengan pria yang dari dulu sangat aku cintai."
"Iya, Elang akan menjadi milikmu selamanya dan bayang-bayang Kiara akan benar-benar hilang darinya. Mama itu sebenarnya selalu was-was jika Elang masih memiliki perasaan sama Kiara. Ingin sekali mama buat Kiara menghilang dari dunia ini agar Arthur juga bisa menikah dengan wanita yang setara dengan keluarga kita."
"Aku juga selalu takut memikirkan Elang masih mencintai Kiara, tapi setelah pernikahan ini, Kiara akan benar-benar hilang dari kehidupan Elang." Dua orang itu tersenyum licik.
Kiara dan Arthur sudah hadir di sana, begitupun para keluarga besar Mega dan Elang.
"Acara pernikahannya sangat meriah, Mas. Aku baru kali ini menghadiri acara pernikahan semewah dan semegah ini. Dulu mendiang Ibu palingan mengajakku hadir di acara pernikahan yang sederhana."
"Mama Alexa akan membuat pernikahan putri kesayangan begitu mewah karena dia ingin semua orang tau tentang putrinya."
"Mas, aku mau ke belakang dulu. Entah kenapa ini aku tiba-tiba ingin ke kamar mandi."
"Apa mau aku antar?"
"Tentu saja aku mau!" seru Kiara sembari tersenyum manis pada Arthur.
"Kalau begitu aku gendong saja kamu, supaya tidak capek jalan ke arah kamar mandi."
"Tidak perlu, Mas! Nanti kalau kamu menggendongku yang ada kamu membuat gaunku kusut dan bisa-bisa kita nanti malah yang dianggap menjadi pengantinnya karena terlewat romantis."
"Aku sangat merasa bersalah tidak bisa memberimu pernikahan yang indah. Pernikahan yang pasti setiap wanita inginkan."
"Mas ini bicara apa sih? Di sini kamu sudah memberikan hal terindah yang sangat membuatku bahagia." Kiara meletakkan tangan Arthur pada perutnya.
"Terima kasih, ya sudah menjadi wanitaku yang sangat mencintaiku."
Kiara menggoyang-goyangkan kakinya menahan sesuatu. Arthur yang melihat itu tampak tersenyum.
"Ya sudah, ayo kita ke kamar mandi, tapi jangan berlari, Kiara."
"Iya!" Arthur menggandeng tangan Kiara dan mereka berjalan menuju kamar mandi.
Kiara segera masuk ke dalam kamar mandi dan Arthur menunggu di depan. Tidak lama Kiara keluar dengan wajah leganya.
Arthur mengecup dahi istrinya itu karena gemas melihat ekspresi istrinya. "Kita kembali ke tempat acara karena ijab qobul akan segera dilaksanakan.
"Iya, Mas."
Mereka berdua berjalan menyusuri lorong dan melewati taman yang ada di belakang hotel itu.
"Kiara, tunggu!" Tangan Arthur tiba-tiba menahan tangan istrinya karena pandangannya menangkap dua orang yang sedang berpelukan di taman belakang.
"Ada apa sih, Mas?" Kiara tampak bingung dengan sikap suaminya.
"Itu Elang, kan?" Kedua alis Arthur sudah berkerut, dan wajahnya tampak marah.
"Elang? Mana?" Kiara celingukan mencari sosok Elang yang dikatakan oleh Arthur, dan seketika kedua mata Kiara mendelik melihat Elang yang berdiri dengan memakai pakaian pengantin sedang mencium dahi seroang gadis yang terlihat memakai baju kebaya hijau pupus dengan rambut di sanggul rapi.
"Siapa gadis itu?"
Kiara terkejut dan dia bisa menduga jika wanita itu pasti Karin—gadis yang tidak sengaja Elang Nodai waktu menolongnya. "Mas, itu mungkin gadis yang aku ceritakan waktu itu."
"Benar-benar keterlaluan Elang itu! Kenapa dia malah menyuruh gadis itu datang ke pernikahannya?" Kedua tangan Arthur sudah mengepal erat.