Be Mine

Be Mine
Sosok Arthur Di Mata Mega



Malam itu di rumah Kiara diadakan pengajian untuk mendiang ibu Kiara. Mega juga ada di sana diantar oleh supirnya untuk datang dan membantu Kiara.


"Ra, besok aku jemput kamu supaya kita bisa berangkat ke sekolah sama-sama."


Deg


Kiara bingung harus alasan apa ini dengan Mega? Apa lagi besok Arthur juga pasti akan menjemputnya.


"Mega, aku besok diantar sama Mba Tami saja, Ya?"


"Kamu itu menyusahkan Mba Tami nantinya. Aku saja yang menjemput. Eh, atau kamu berangkat sama Arthur. Bagaimana?"


Kiara melihat pada Mba Tami, dan Mega malah menangkap hal lainnya.


"Kamu takut Mba Tami cemburu, Ya? Mba Tami jangan cemburu kalau Kiara berangkat sekolah dengan kakakku karena rumah Arthur yang dekat dari sini."


"Aku tidak cemburu. Lagi pula aku juga tidak suka pada kekasih orang lain."


Kedua alis Mega mengkerut. "Kekasih orang lain? Maksud Mba Tami apa?"


"Em ...!" Mba Tami jadi bingung sendiri, dia hampir saja keceplosan.


"Kakak kamu itu 'kan pasti punya pacar. Jadi, Mba Tami tidak mungkin menyukai kakakmu, Mega," terang Kiara berusaha agar mba Tami tidak mengatakan tentang pernikahan Kiara dan kakaknya.


"Iya, itu maksud aku. Kakak kamu ganteng, kaya, dan mapan. Tidak mungkin dia tidak memiliki kekasih."


"Oh ... soal itu. Dia memang memiliki seorang kekasih yang sangat cantik dan bisa dibilang sempurna, tapi mereka sudah putus. Aku dengar jika kekasihnya memilih meninggalkan kakakku dan kembali pada mantannya."


"Oh ya?" Mba Tami Kaget.


"Kenapa begitu?" tanya Kiara heran.


Mega duduk di lebih mendekat pada Kiara karena suasana di sana sudah sepi, acara pengajian juga sudah selesai.


"Arthur itu tipe suami idaman. Dia saja sangat sayang padaku walaupun aku bukan adik kandungnya. Dia tidak pernah suka berganti wanita karena dia sangat setia. Arthur bahkan akan rela melakukan apapun untuk orang yang dia cintai. Pokoknya, aku yakin jika si Selena itu pasti akan menyesal sudah mencampakkan kakakku," ucap Mega dengan wajah serius bin kesal.


"Wah! Benar-benar tipe pria idaman," puji Mba Tami. Namun, Kiara wajahnya hanya datar saja.


"Makannya, aku setuju saja jika Mba Tami bisa dekat dengan Arthur. Sukur-sukur bisa dicintai oleh kakakku itu karena pasti si Selena itu tidak akan memiliki waktu untuk mendekati dia lagi kalau nanti menyesal."


"Kiara," ucap mba Tami lirik sembari lengannya menyenggol pada lengan Kiara.


Kiara yang melihat tampak mengkerutkan kedua alisnya. "Apa sih, Mba?"


Mega yang baru saja berbalik badan mengambil air minum agak bingung melihat tingkah dua orang di depannya itu.


"Kalian berdua kenapa?"


"Tidak ada apa-apa. Mba Tami ini sukanya usil," terang Kiara.


"Pokoknya besok biar Arthur yang menjemput kamu saja, Kiara. Pulangnya kamu bisa sama aku saja karena Arthur tidak mungkin bisa pulang sama kamu. Dia pulang dari kantornya sore."


"Tidak perlu, Mega. Aku bisa pulang dan pergi sendiri ke sekolah."


"Mba Tami tidak akan cemburu. Lagi pula Mba Tami pasti tau kalau kamu itu susah sekali jatuh cinta. Cinta kamu hanya sama Elang."


Kiara hanya terdiam karena memang apa yang Mega katakan itu hal yang benar. Cinta pertama yang menyakitkan hanya karena beda status sosial.