Be Mine

Be Mine
With Suami Pokoknya



Kiara makan bersama dengan suaminya di dalam ruangan Arthur setelah Mama Alexa dan Mega pergi dari sana.


"Itu makanan, Sayang, bukan mainan. Kamu kenapa? Apa karena memikirkan ucapan mamaku tadi?"


"Apa aku memang yang membuat kamu berubah, Mas?"


"Tentu saja, kamu sudah membuatku berubah menjadi lebih baik dan lebih bahagia, dan itu sama sekali hal yang luar biasa yang aku alami."


"Bukan begitu, Mas."


"Lalu, seperti apa?" Sudahlah, Sayang. Kita akan memiliki seorang anak dan aku tidak mau ada hal yang membuat rusak kebahagian kita. Jangan memikirkan apapun, kita jalani saja hidup kita dan tidak perlu mengurusi lainnya yang tidak penting." Arthur menyuapi Kiara dan wanita itu memikirkan kata-kata suaminya. Kenapa dia harus memikirkan tentang keluarga suaminya yang tidak menyukainya. Sekarang yang terpenting suaminya sangat mencintainya dan mereka akan hidup bahagia.


Kiara tersenyum dan dia melanjutkan makannya.


"Mas, Bibi Yaya biarkan dulu libur bekerja supaya dia bisa beristirahat di rumahnya dengan baik sampai sembuh, dan pekerjaan rumah biar aku yang mengerjakannya."


"Jangan, kamu sedang hamil dan aku tidak mau kamu kecapean."


"Aku akan melakukan pekerjaan yang ringan saja, Mas."


"Nanti kita sewa orang yang bisa mengerjakan pekerjaan rumah dan biar Bibi Yaya yang mengaturnya."


"Ya sudah, terserah Mas saja."


"Lalu, kamu apa akan ikut aku ke kantor sampai Bibi Yaya kembali bekerja?"


"Kenapa? Apa Mas keberatan jika aku ikut?"


"Tentu saja tidak, aku malah senang kamu ada di sini. Jadi, aku bisa melihatmu tiap saat."


"Aku bisa di apartemen sendirian kok, Mas dan kalau ada apa-apa aku tinggal memanggil bantuan."


Arthur tampak berpikir sejenak. Coba saja mama dan adiknya tidak membenci Kiara, pasti Kiara bisa ditemani oleh mereka.


"Mas, kamu melamun apa?"


"Tidak apa-apa, Sayang. Kamu ikut saja denganku ke kantor sampai keadaan Bibi Yaya kembali pulih."


"Aku benaran tidak apa-apa di apartemen sendirian, Mas. Aku juga tidak mau terlalu sering berpergian karena pasti akan tidak baik juga untuk perkembangan bayi kita."


Arthur menjadi bingung kalau begini. "Nanti saja kita mencari solusinya, sekarang cepat habiskan makannya karena aku akan segera menyelesaikan pekerjaanku agar kita bisa cepat pulang dan--." Arthur melirik pada Kiara.


Kiara yang dilihati Arthur sampai mangap heran. Dia tidak jadi memasukkan makanan ke dalam mulutnya.


"Dan apa, Mas?"


"Dan kita bisa bersantai berdua."


"Oh ... bersantai. Iya, aku ingin sekali duduk bersandar pada dada kamu sembari menikmati suasana malam di ruang tengah."


"Kalau begitu bathubnya dipindahkan di dekat jendela saja agar kita bisa berendam berdua sambil menikmati suasana malam."


"Kenapa jadi membahas berendam di dalam bathub? Tadi katanya mau bersantai?"


"Iya, bersantai di dalam bathub dan kamu bisa bersandar pada dadaku. Tidak masalah, kan?"


"Tidak sih. Tau begitu hukumannya tidak jadi aku cabut saja."


Arthur malah tersenyum mendengar apa yang digerutukan oleh istrinya.


Arthur dan Kiara pulang ke apartemen setelah Arthur menyelesaikan pekerjaannya.


"Mas, aku ke kamar dulu untuk menyiapkan air mandi untuk kamu."


"Iya," jawab Arthur tanpa melihat ke arah istrinya karena dia sibuk mengetikkan sesuatu pada layar ponselnya.


Kiara sudah berada di dalam kamarnya dan dia sedang menyiapkan air hangat untuk suaminya dan menyalahkan aroma terapi.


Kiara duduk di atas ranjangnya sembari memijit pundaknya. Padahal dia di sana hanya duduk dan sesekali berbaring, tapi kenapa begitu saja rasanya capek? Masih enakan di apartemen walaupun juga tidak melakukan apapun.


"Aku capek, Mas dan ingin memijit pundakku."


Arthur menunduk dan mendekatkan wajahnya pada wajah Kiara. "Kita berendam saja dan aku akan memijit tubuh kamu," ucapnya lembut.


Kiara menatap suaminya dengan lekat. "Tidak mau," jawabnya singkat.


"Kenapa?"


"Nanti aku tambah capek kalau masuk ke dalam kamar mandi sama kamu."


Arthur malah memberikan senyum manisnya. "Kamu tidak rindu sama aku?"


"Mas ini! Kita itu sering bertemu dan tidak jarang juga melakukan hal romantis."


"Tapi aku ingin setiap saat dan setiap waktu melakukan hal romantis sama kamu karena aku tidak bisa jauh darimu." Arthur mendekatkan hidungnya pada hidung Kiara.


Tangan Kiara melingkar pada leher suaminya dan Arthur tau maksud istrinya. Dia membawa Kiara masuk ke dalam kamar mandi.


"Nanti kalau bayi kecil ini lahir, pasti kita lebih sedikit memiliki waktu untuk bersama karena akan fokus sama dia."


"Benar. Makannya, sebelum dia menjadi prioritas utama kita, kita habiskan dulu waktu berdua."


"Aku mencintaimu, Mas."


"I love you more, Kiara."


***


Dua hari berlalu dan selama dua hari ini Kiara ikut Arthur ke kantornya. Di kantor pun Kiara sering minta diajari Arthur tentang bisnis. Bagi Kiara pekerjaan Arthur memang sangat memusingkan, dia mending membuka toko kue saja dari pada harus mengurusi banyak sekali surat-surat dan dokumen yang isinya bisa membuat pusing kepala.


Hari ini adalah hari libur, Kiara belum bangun karena semalaman dia nonton film ditemani suaminya, lebih tepatnya Arthur menemani sambil tidur.


"Mas, di mana suamiku? Dia pasti sudah bangun dan turun ke dapur." Kiara bangun dan masuk ke dalam kamar mandi. Tidak lama dia turun ke lantai bawah dan berjalan menuju dapur, dan benar saja di sana sudah ada suaminya.


"Oh my God!" Arthur tampak terkejut melihat penampilan istrinya yang ternyata menggenakan kemeja miliknya yang jika Kiara pakai malah menjadi mini dress, apa lagi Kiara tidak memakai celana pendek


"Bau masakannya harus sekali."


"Apa maksudnya memakai kemejaku seperti itu?" Arthur bertanya dengan senyum yang menawan.


"Kenapa, Mas? Tidak boleh kalau aku pinjam kemeja kamu?"


"Tentu saja boleh, tapi maksudku, kenapa pagi-pagi begini kamu terlihat sangat menggodaku? Kamu sengaja? Tadi malam aku ajak tidak mau, malah minta nonton film."


"Siapa yang menggoda kamu? Aku lagi ingin saja tampil cantik seperti wanita yang aku lihat kemarin malam di film. Mas, aku lapar. Apa masakannya sudah selesai?" Kiara melihat di meja makan sudah ada beberapa menu makanan.


"Sudah, Sayang." Arthur mematikan kompornya dan berjalan menuju meja makan dengan membawa sepiring ikan gurame asam manis.


"Wah ...! Terlihat enak semua. Mas, ayo makan sekarang, kamu pasti juga lapar karena semalam kamu lebih banyak nyemil kue yang dibuatkan oleh Bibi Yaya untukku." Kiara mengerucutkan bibirnya.


"Aku lapar. Sangat lapar," ucap Arthur sembari melihat terus pada istrinya.


"Ya sudah, duduk sini, biar aku yang mengambil peralatan makannya." Kiara berjalan menuju lemari piring dan dia mengambil dua buah piring serta sendok untuknya dan suaminya.


"Kiara, kenapa wanita di film itu memakai kemeja seperti yang kamu pakai?"


"Dia memakai kemeja suaminya karena dia lupa membawa handuk saat sudah masuk ke dalam kamar mandi, dan dia tidak mau keluar tanpa handuk, di sana hanya ada kemeja suaminya, akhirnya dia memakai itu."


"Apa suaminya melihat hal itu?"


"Iya, suaminya melihat." Kiara meletakkan piring Arthur tepat di depan meja suaminya.


"Lantas, apa yang suami wanita itu lakukan melihat penampilan istrinya?"


"Dia memujinya dan--." Seketika Kiara melirik ke arah Arthur yang berada duduk di sebelahnya.