
Arthur memeluk istrinya dengan erat, tapi bukannya Kiara menjadi tenang, tangisannya malah semakin menjadi.
Kiara kesal sekali dengan apa yang Arthur ucapkan. Dia takut sekali jika dia akan dipisahkan oleh pria yang sekarang menjadi suaminya dan satu-satunya yang dia miliki di dunia ini.
"Kenapa nangisnya semakin keras, Sayang? Aku tadi hanya bercanda."
"Bercanda kamu tidak lucu, Mas," ucap Kiara terbata sembari menutup wajahnya dengan tangan.
"Aku minta maaf, aku hanya sedang menggodamu saja."
Arthur membiarkan beberapa saat istrinya itu menangis sampai lega mengeluarkan rasa kesalnya.
Saat sudah merasa lega, tangisan Kiara perlahan mulai terdengar lirih. "Apa sudah lega? Jangan menangis lagi, kalau ibuku masih hidup pasti dia akan memarahiku karena menyebabkan istriku menangis."
"Biar saja kamu dimarahi, Mas. Kamu memang menyebalkan!" Kiara memukul-mukul dada suaminya yang sekarang tepat berada di atasnya.
"Aku mencintaimu, Kiara, jangan mencurigai aku terus."
"Aku tidak mencintaimu."
Arthur malah tersenyum dan mengecup bibir Kiara beberapa kali. "Ara, apa kamu tidak lapar?"
"Kenapa? Kamu lapar? Aku tadinya lapar, tapi setelah mendapat pesanmu itu aku seketika menjadi kenyang."
"Tapi aku lapar dan melihat masakan kamu di atas meja aku jadi ingin makan."
"Aku akan menghangatkannya dan kita makan bersama."
"Ide yang bagus."
Mereka berdua berada di dapur untuk makan tengah malam. Kiara tampak menghangatkan masakan yang sudah dia buat tadi dan Arthur pun membantunya.
Arthur menceritakan semua yang dia bicarakan dengan Belinda. "Mas, kamu belum dihubungi oleh mamamu?"
"Belum, mungkin Belinda juga belum mengatakan apapun pada mamaku." Arthur tangannya sedang menyalahkan kompor untuk menghangatkan sup yang dibuat oleh Kiara.
"Bagaimana nanti kamu akan menjawab jika mama kamu bertanya tentang kekasihmu yang bahkan mau kamu nikahi?"
"Aku akan mengatakan jika aku akan memperkenalkan kekasihku secepatnya, dan setelah mamaku tau tentang kamu, baru aku akan mengatakan jika kita sudah menikah, tapi itu semua kalau kamu sudah siap."
"Aku--." Kiara tampak bingung. "Mas, bukannya aku tidak mau, tapi kita bertemu dengan mama kamu setelah acara rekreasi aku selesai saja. Bagaimana, Mas?"
"Baiklah kalau itu mau kamu."
Mereka tepat jam dua belas malam, makan malam berdua romantis di sana. Arthur pun tampak menghabiskan masakan yang dibuat Kiara.
"Kiara, siapa nama teman kamu yang mengirim foto itu?"
"Morgan. Kenapa, Mas?"
"Dia yang pernah kamu ceritakan seolah sedang mengawasimu waktu itu?"
"Iya, tapi biarkan saja, Mas." Kiara yang sedang mencuci piring dibantu oleh Arthur melihat wajah suaminya tersenyum seolah sedang memikirkan sesuatu. "Mas, apa yang sedang kamu pikirkan?"
"Tidak ada." Arthur tidak lama melihat pada Kiara yang kembali tengah mencuci peralatan makan mereka. "Sayang, aku jadi ingin bertemu dan mengajak Morgan bicara. Kamu tau? Aku kenapa sedikit kesal dia seolah ingin merusak hubungan kita."
Kiara sudah tidak enak saja perasaanya mendengar apa yang suaminya katakan. "Mas, tidak perlu berurusan dengan temanku, mereka masih terlalu muda dan pemikiran masih seperti anak kecil. Biarkan saja nanti juga akan bosan sendiri, dia itu hanya penasaran saja. Sudah! Jangan mencari masalah baru, masalah kita saja dengan mama kamu belum selesai."
Arthur akhirnya mencoba mendengarkan apa yang istrinya katakan. Dia akan diam saja, tapi jika dirasa temannya itu semakin ingin ikut campur hubungan dirinya dan Kiara, bahkan sampai membuat Kiara salah paham dengannya, Arthur tidak akan tinggal diam.
Arthur tidak tau jika Morgan hanya dijadikan boneka oleh Elang.
"Mas, sudah selesai, sekarang kita tidur saja karena aku juga sudah mengantuk." Kiara mengelap tangannya sampai kering.
Arthur malah mengangkat tubuh Kiara dan mendudukkannya di atas meja dapur.
"Mas, mau apa? Ayo kita ke kamar karena aku sudah mengantuk."
"Apa kamu tidak mau mencoba bercinta di dapur?"
"Apa?" Kedua mata Kiara mendelik mendengar apa yang suaminya baru saja katakan.
"Mas, kamu pasti sudah mengantuk karena itu bicaranya melantur."
"Aku masih sangat sadar dengan apa yang aku ucapkan, Kiara." Jemari tangan Arthur perlahan berjalan menelusuri lengan tangan istrinya. Kiara sekali lagi mendelik melihat ke arah lengan tangannya di mana jari jemari sang suami bermain di sana.
"Mas, kalau mau kita melakukan di kamar saja." Arthur menggelengkan kepalanya beberapa kali. "Mas, kalau di sini bagaimana kita melakukannya?"
Arthur membuka kedua kaki Kiara dan dia masuk ke tengahnya agar bisa semakin dekat dengan wajah Kiara. Kiara menatap datar pada suaminya.
"Kamu diam saja dan ikuti permainanku," bisik Arthur lirih tepat di telinga Kiara.
Setelahnya Arthur memberi kecupan kecil pada leher Kiara yang terekspose karena rambut sang istri dikuncir sembarangan ke atas.
Kiara tampak membuka mulutnya merasakan geli, tapi nikmat pada lehernya. Arthur kembali memberinya kecupan di sana, bahkan pria itu memberikan tanda kepemilikannya di leher Kiara.
Kiara masih menikmati ciuman bertubi-tubi pada lehernya, membuat dia merasakan tubuhnya yang tidak karuan.
Tangan Arthur pun sekarang menelusup perlahan di dalam kaos polos yang dipakai oleh Kiara. Sentuhan dingin dari tangan Arthur membuat dirinya semakin terasa melayang.
"Mas," ucap Kiara lirih. Dia seolah sudah merasa tidak karuan saja saat Arthur mulai memainkan tangannya pada bagian indah milik seorang wanita.
"Nikmati saja, Ara."
Ara mencoba mengatur napasnya dan menerima semua yang dilakukan oleh Arthur.
Arthur sendiri yang pada akhirnya tidak kuat mulai membuka baju istrinya.
"Mas, yakin mau melakukan di sini?" tanya Kiara ditengah rasa sadarnya akan apa yang baru saja Arthur lakukan.
"Kenapa tidak?"
Malam indah itu mereka habiskan di dapur hingga Arthur akhirnya membopong tubuh Kiara yang terlihat kelelahan.
Arthur membawa Kiara ke dalam kamar dan menidurkannya perlahan. "Selamat malam, Istriku." Arthur mengecup kening Kiara dan menutup tubuh Kiara dengan selimut.
Dia pun akhirnya berbaring di samping istrinya dengan wajah tampak lelah.
Pagi harinya, Kiara yang terbangun karena bunyi suara ponsel dari Arthur melihat ke arah suaminya yang masih tampak nyenyak dalam tidurnya. Kiara melihat masih pukul enam pagi.
"Siapa yang menghubungi Mas Arthur sepagi ini?"
Kiara mencoba meraih ponsel suaminya yang ada di meja dekat suaminya tidur. Kiara perlahan menjulurkan tangannya agar tidak membangunkan suaminya itu.
"Mama Alexa!" Kedua mata kiara membulat melihat siapa yang menghubungi suaminya. "Bagaimana ini? Apa aku bangunkan saja Mas Arthur?"
Arthur yang mendengar suara ponselnya akhirnya terbangun sendiri. Dia melihat Kiara dengan ponsel miliknya di tangannya.
"Sayang, siapa yang menghubungi?"
"Mama kamu, Mas." Kiara memberikan ponselnya pada Arthur.
"Mama?" Arthur segera beringsut bangun dan duduk pada tepi ranjang.
"Pasti mama kamu mau bertanya soal Belinda."
Arthur melihat pada istrinya dan dia tampak berpikir sejenak, sampai akhirnya Arthur menjawab panggilan mamanya.
"Halo, Ma, ada apa?"
"Arthur, mama ingin bicara sama kamu, apa kamu bisa nanti menemui Mama di rumah?"
"Aku nanti akan ke rumah untuk menemui Mama sebelum berangkat ke kantorku."
"Ya sudah kalau begitu, Mama akan menunggu kamu."
"Iya, Ma, nanti aku akan ke rumah." Arthur mematikan panggilan teleponnya. Dia mengusap wajahnya kasar.
Kiara yang melihat hal itu tau jika suaminya sedang banyak yang harus dia selesaikan. Belum masalah dengan mamanya dan kemarin ditambah lagi masalah dengan karyawannya.