
Arthur mencoba mengajak pulang istrinya itu setelah dia menjelaskan kenapa dia datang terlambat.
Di restoran tadi, saat Arthur akan berangkat menjemput Kiara, dia dihubungi oleh salah satu pegawai di sana jika Manda mengalami insiden, yaitu terjatuh dari anak tangga restoran.
Arthur yang sebagai pemilik tempat itu wajib bertanggung jawab dan langsung menuju ke arah restoran untuk melihat keadaan Manda. Arthur akhirnya membawa Manda pergi ke rumah sakit.
"Memangnya tidak ada yang bisa membawa manager barumu itu ke rumah sakit selain kamu?"
"Aku yang kebetulan dekat arah ke sana. Jadi, aku langsung ke sana. Ini juga salah satu tanggung jawabku, Ara."
"Jangan memanggilku Ara, aku sudah katakan sama kamu." Wajah Ara ditekuk kesal melihat ke arah suaminya.
Arthur mendekat dan menundukkan sekali lagi tubuhnya agar wajahnya sejajar dengan wajah istrinya. "Cemburunya bisa ditunda dulu? Kita pulang sekarang, hari sudah mulai gelap."
"Arthur! Dengar, Ya! Aku tekankan sekali lagi kalau aku tidak cemburu sama manager Baru kamu itu. Di sini yang aku kesal kan karena kamu bilang sendiri ingin menjalani kehidupan pernikahan pada umumnya, tapi apa seperti ini pernikahan pada umumnya harus ada wanita lain?" Sekarang wajah Ara semakin ditekuk saja dengan bibir mengerucut.
Arthur malah mengecup dengan cepat bibir Ara yang baginya terlihat menggemaskan. Sontak saja membuat gadis itu kaget sampai dia tidak bisa berkata-kata.
"Arthur!"
Ara yang kesal mendorong tubuh suaminya. "Jangan mencium orang seenaknya."
"Kamu istriku, bukan orang lain. Sudah, kita pulang sekarang ya? Bukannya kita mau menghadiri ulang tahun Mega."
Kiara baru ingat akan ulang tahun Mega. "Memangnya kita mau datang bersama? Apa kamu mau membuat orang-orang di sana gempar melihat kita datang berdua? Sebaiknya kamu pulang saja dulu, aku masih mau di sini dan nanti aku akan berangkat sendiri dari sini. Lagi pula aku juga belum mengambil bajuku untuk aku pakai ke acara ulang tahun itu."
Kiara membalikkan badannya lagi tidak mau melihat pada Arthur.
"Keras kepala."
Tiba-tiba tubuh Kiara diangkat oleh Arthur ala bridal style. Kiara langsung saja panik, mencoba untuk memberontak, tapi Arthur tidak membiarkan istrinya itu lepas dari gendongannya.
"Arthur! Kamu mau apa sih?"
"Membawa pulang istriku," jawabnya santai dengan berjalan menuju mobilnya.
Di perjalanan Kiara hanya diam saja tidak mengatakan satu kata pun. Sampai akhirnya mereka tiba di apartemen Arthur.
"Kiara kamu ganti baju dulu, lalu turunlah karena aku akan menunggumu untuk makan siang."
"Aku tidak mau makan siang, kalau mau makan, makan saja sendiri."
"Kalau kamu tidak mau turun, aku juga tidak mau makan."
"Terserah. Lapar itu urusan kamu sendiri." Kiara berlari kecil menaiki anak tangga.
Dia berjalan menuju kamar tidurnya untuk berganti baju. Kiara masih sebal memikirkan tentang Arthur yang tidak menjemputnya tadi, tapi malah bersama wanita lain.
"Ini kotak apa?"
Kiara bingung melihat ada kotak berukuran besar di atas tempat tidurnya. Dia berjalan mendekat dan melihat ada sebuah kartu ucapan di atasnya.
"Untuk istriku? Apa ini dari Arthur? Kiara bodoh, tentu saja ini dari Arthur. Bukannya dia suami kamu," Kiara berceloteh sendiri.
Di dalam kotak itu juga ada sepasang sepatu berwarna putih. Tema ulang tahun Mega ini bernuansa hitam putih dan Arthur sudah menyiapkan itu semua.
Kiara turun ke lantai bawah dengan membawa gaun serta sepatu itu. Dia melihat suaminya berada di dapur tengah sibuk dengan penggorengannya.
"Arthur, untuk apa kamu membelikan aku semua ini?"
Arthur seketika menoleh ke arah Kiara yang menunjukan gaun dan juga sepatunya. "Tentu saja untuk kamu pakai di acara ulang tahun Mega, Kiara."
"Aku tidak mau memakainya, Arthur. Lagi pula aku memiliki baju yang pantas untuk datang ke pesta itu. Kamu tidak perlu membelikan aku ini semua."
"Itu ada tempat sampah. Buang saja kalau kamu tidak mau memakaianya," ucap Arthur santai sembari kembali membalikkan badannya berkutat lagi dengan penggorengan.
Kiara melihat tidak percaya setelah mendengar apa yang pria itu katakan. "Dasar orang terlalu kebanyakan uang, sampai tidak menghargai suatu benda.
Arthur yang sudah selesai dengan masakannya, dia menatanya di atas meja makan, dan sesekali melirik pada Kiara yang masih berdiri di sana.
"Arthur, aku tidak mau memakai karena memiliki alasan yang kuat. Ini baju dan sepatu mahal. Kalau aku memakai di pesta ulang tahun Mega, dan semua orang melihatnya, terutama juga Mega, pasti mereka akan terkejut dan bertanya-tanya. Darimana aku bisa membeli gaun dan sepatu semahal itu? Nanti dikira aku kencan atau menjadi simpanan Om-Om genit."
Arthur berjalan mendekat pada Kiara. "Kalau begitu kamu bilang saja jika itu pemberianku, sekalian saja kita akui tentang pernikahan ini."
"Apa? Jangan bicara yang tidak-tidak, Arthur!" Seketika Kiara mendelik mendengar apa yang Arthur baru saja katakan.
"Aku serius, Kiara! Sampai kapan pernikahan kita ini mau disembunyikan? Aku tidak malu atau takut jika orang lain mengetahui kalau kamu adalah istriku."
Dia melihat jika Arthur ini sudah tidak takut atau memikirkan tentang reputasinya, tapi Kiara masih belum siap akan hal ini.
"Lebih baik tidak ada yang mengetahui tentang hal ini karena aku belum siap sama sekali."
"Apa yang kamu takutkan? Takut Elang akan mengira kamu mengkhianatinya dengan menikah denganku?"
"Tidak hanya itu, Arthur. Ada banyak hal lagi lainnya."
Kiara berjalan naik ke atas kamarnya dengan pikiran yang sangat banyak di dalam kepalanya.
"Waktu pasti akan membuat semuanya menjadi lebih baik, Ara, dan aku tetap berharap kamu bisa berada di sisiku."
Kiara turun dan makan siang bersama dengan Arthru. Namun, di meja makan tidak ada pembicaraan yang berarti. Mereka hanya menghabiskan makanan dan kemudian Kiara kembali ke kamar.
Arthur sedang bicara dengan mamanya di telepon. Mamanya ingin mengetahui di mana putranya itu, dan kenapa tidak berkumpul di hotel di mana acara ulang tahun adiknya akan di selenggarakan.
"Aku pasti datang, Ma, tapi aku tidak bisa berada di sana untuk saat ini karena aku masih ada urusan bisnis yang tidak bisa aku tunda."
"Mama tau kalau kamu itu orang yang sangat sibuk, tapi ini hari ulang tahun adikmu dan ayahmu juga sudah datang ke sini."
"Iya, Ma, aku tau dan aku sudah bicara dengan Mega sebelumnya. Aku nanti pasti datang ke sana."
"Ya sudah kalau begitu kamu jangan datang terlambat."
"Iya, Ma. Sampaikan salamku pada Mega dan ayah." Arthur mengakhiri panggilannya.