Be Mine

Be Mine
About Mengidam part 2



Sekali lagi Bibi Yaya hanya bisa terkekeh. Dia tidak pernah melihat Arthur tampak bingung seperti ini karena biasanya Arthur selalu bersikap tenang dan selalu bisa menyelesaikan masalahnya dengan mudah, tapi saat berhadapan dengan wanita yang dia cintai, dia bingung.


"Apa yang kamu alami ini masih belum seberapa, Arthur. Dulu saat ibu kamu mengandungmu, ibumu malah ingin naik roller coaster padahal sebelumnya ibumu takut naik itu, apa lagi ayahmu, tapi demi menuruti apa yang diinginkan ibumu, akhirnya ayahmu menutup taman bermain yang ada roller coaster untuk dia sewa beberapa jam, dan karena tidak ingin membahayakan kamu serta ibumu, ayahmu menyuruh agar menjalankannya pelan saja. Bibi sendiri tidak tau apa lagi yang ayahmu lakukan, tapi sekarang bibi yakin anakmu akan mirip seperti kamu. Ya! Kamu bersabar saja menghadapi istrimu yang sedang mengidam."


"Oh God!" Arthur hanya bisa menghela napasnya panjang. Bagaimanapun dia menginginkan bayi yang selama ini dia impikan. Jadi, dia harus siap dengan semuanya.


Arthur yang membuka pintu kamarnya, melihat istrinya sedang berbaring membelakanginya dan dia tau jika istrinya itu sedang bersedih.


"Aku akan membelikan kamu durian, walaupun aku tidak menyukai baunya, tapi untuk kamu dan bayi kita, aku akan membelikannya."


Kiara yang seketika mendengar suara suaminya bangun dan duduk di tepi ranjang. Arthur berjalan mendekat dan duduk berjongkok di bawah kaki istrinya.


"Jangan bersedih terus, kasihan bayi kita nanti dia jadi anak yang suka menangis."


"Apa itu berpengaruh?"


"Tentu saja bisa karena saat mengandung ibunya bersedih terus, jadi anaknya ikut sedih juga di dalam perut."


"Anakku itu pasti menjadi anak yang baik, manis dan kuat seperti ayahnya." Tangan Kiara melingkar pada leher suaminya.


"Tentu saja, asal jangan keras kepala seperti ibunya saja."


"Memangnya kenapa kalau dia keras kepala seperti aku?" Dengan cepat Kiara menarik tangannya.


"Tidak apa-apa." Arthur segera beranjak dari tempatnya, dia tidak mau membuat masalah lain lagi dengan istrinya. Jadi, dia lebih baik izin pergi ke kantor saja.


Arthur mengecup kening Kiara dan Kiara mengecup punggung tangan suaminya. "Aku pergi ke kantor dulu, ya Sayang."


"Hati-hati, Mas. Nanti jangan lupa beli durian. Aku janji cuma makan sedikit, kok."


"Iya, nanti aku belikan."


Arthur turun ke lantai bawah lebih dulu karena Kiara bilang ingin menghubungi Mba Tami.


"Bi, aku sudah bercerita dengan Bibi tentang mamaku yang waktu itu datang ke sini. Tolong, kalau nanti dia datang ke sini, segera hubungi aku dan jangan biarkan dia melakukan hal buruk pada istriku."


"Kamu tenang saja, Arthur. Bibi tau apa yang harus bibi lakukan nantinya."


"Aku percaya dengan Bibi. Aku pergi dulu, Bi." Arthur mengecup punggung tangan Bibi Yaya.


***


Arthur yang sudah sampai di kantornya langsung menuju ke lantai ruangannya. Saat dia membuka pintu ruangannya Arthur terkejut melihat seseorang berdiri di sana.


"Hai, Sayang. Aku membawakan kamu sarapan pagi."


Selena yang berdiri di sana dengan kedua tangan membawa kotak makan berukuran sedang.


"Aku membawakan kamu makan pagi seperti saat aku masih menjadi kekasihmu dulu. Ayo! Kita makan pagi bersama karena aku juga sudah lapar sekali."


Selena menarik tangan Arthur dan mengajaknya duduk di ruang tamu mini yang ada di sana.


"Kamu makan saja sendiri, tapi tidak di sini karena aku masih banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan pagi ini."


"Arthur, aku ingin makan pagi bersama kamu. Ini masakan kesukaanmu yang aku beli tadi di restoran favorite kita."


"Aku tadi sudah makan dengan istriku. Jadi, sebaiknya kamu pergi dari sini karena aku mau bekerja."


Arthur beranjak dari tempat duduknya, dia hendak berjalan menuju kursinya, tapi dengan cepat ditahan oleh Selena. Wanita itu memeluk Arthur dari belakang.


"Arthur, aku mohon maafkan aku." Selena mengeratkan pelukannya.


Arthur terdiam sesaat. Dia kemudian perlahan melepaskan tangan Selena yang melingkar pada pinggangnya, dan seketika wajah Selena tampak terkejut. Selena tidak menyangka jika Arthur akan menolaknya.


"Selena, tidak ada yang perlu aku maafkan dari kamu. Soal kamu mengkhianatiku dan memilih menikah dengan orang lain itu hal yang harusnya aku syukuri karena jika hal itu tidak terjadi, aku mungkin tidak akan bertemu dengan Kiara. Aku mengenal apa itu cinta sebenarnya dari Kiara. Jadi, kamu tidak perlu meminta maaf karena berkat apa yang kamu lakukan, hidupku jauh lebih bahagia sekarang."


"Tapi Arthur, kamu akan lebih bahagia jika bisa bersama denganku. Aku sangat menyesal sudah meninggalkan kamu waktu itu dan aku mendapat hukuman yang sangat berat karena hal itu." Selena menangis memeluk Arthur.


Arthur sekali lagi menjauhkan tubuh Selena darinya. Dia menatap Selena datar. "Kamu bisa memperbaiki semuanya, tapi bukan denganku, Selena karena aku sudah memiliki keluarga yang bahagia dan aku tidak mau membuat keluargaku yang bahagia ini menjadi tidak baik hanya karena kehadiranmu."


"Arthur, apa kamu benar-benar sudah melupakan aku dan semua yang sudah terjadi di antara kita?"


"Tidak ada yang perlu aku ingat tentang kita karena bagiku sekarang, hal itu hanya masa lalu dan saat ini aku hanya ingin hidup bahagia dengan Kiara serta bayi yang ada di dalam kandungan istriku."


"Arthur, aku baru sadar jika aku masih sangat mencintaimu dan aku ingin sekali memperbaiki semuanya."


"Tidak ada yang perlu diperbaiki di antara kita. Aku sudah memaafkan kamu dari dulu, tapi aku minta maaf kita tidak bisa kembali seperti dulu. Sekali lagi aku harap kamu bisa mengerti."


"Arthur, aku mau menjadi yang kedua. Aku juga berjanji jika gadis itu tidak akan mengetahui hubungan kita ini."


"Maaf, tapi aku tidak membutuhkan seseorang lagi dalam hidupku. Selena, kamu masih cantik dan karir kamu sebagai model juga sangat bagus, dan aku yakin kamu akan bisa mendapatkan seseorang yang baik untukmu. Aku masih ada rapat hari ini. Jadi, aku mau pergi ke ruang rapat dulu, kalau kamu mau pergi, kamu tau jalannya, kan?"


Arthur mengambil dokumen di atas mejanya dan dia berjalan keluar dari ruangannya karena dia tidak mau menghabiskan banyak waktunya dengan bicara dengan Selena.


Selena yang masih berdiri di ruangan Arthur tampak menghapus air matanya dan dia berjalan menuju pohon hias yang ada di sana. Selena mengambil sesuatu di sana.


"Aku akan membuat gadis miskin itu pergi dari hidupmu, Sayang karena bagiku dia tidak pantas berada di sisimu."


Selena berjalan pergi dari ruangan Arthur dan menuju suatu tempat.


Di ruang rapat Arthur tampak sedang memikirkan sesuatu. Dia tau siapa Selena, dan Selena akan bisa melakukan apapun untuk mendapatkan keinginannya.