
Arthur mengantar mereka pulang ke rumah Kiara. Saat sampai, ternyata Mega sudah ketiduran di bangku sebelah Arthur duduk.
"Mas Arthur, terima kasih karena sudah mau mentraktirku."
"Sama-sama, Tami."
Mba Tami melihat pada Arthur dan Kiara, dan dia tau harus apa. "Em, kalau begitu aku permisi dulu. Kiara, aku tunggu kamu di dalam."
"Aku juga mau turun, Mba Tami."
"Tunggu, Kiara!" seru Arthur cepat, dan sontak saja membuat Kiara menahan kakinya yang mau melangkah dari sana.
Mba Tami yang mengerti posisinya langsung keluar dari dalam mobil.
"Mba Tami! Arthur, ada apa?" Arthur tidak menjawab, tapi dia malah menjulurkan tangannya pada Kiara. "Tangan kamu kenapa? Apa masih sakit?" tanya Kiara polos.
"Kamu tidak mau mencium tangan suamimu sebelum pulang?"
"Apa? Mencium tangan kamu? Untuk apa aku harus mencium tangan kamu? Aneh!" Kiara malah menggelengkan kepalanya tidak percaya.
"Kamu tidak tau, ya? Seorang istri itu biasanya akan mencium punggung tangan suaminya saat pulang atau mau pergi ke suatu tempat."
"Aku tau, tapi itu dilakukan oleh pasangan suami istri yang normal selayaknya orang berumah tangga."
"Kalau begitu biar aku saja yang akan mengecup keningmu di depan rumahmu?"
"Apa?" Langkah Kiara yang sudah membuka pintu mobil sekali lagi terhenti karena mendengar kata-kata indah yang baru saja diucapkan oleh Arthur. "Arthur! Kamu itu benar-benar menyebalkan!" Kiara dengan cepat mengecup punggung tangan Arthur dan berjalan keluar dari dalam mobil pria yang adalah suaminya.
Kiara berjalan dengan wajah marahnya masuk ke dalam rumah melewati Mba Tami yang bertanya dia kenapa, tapi oleh Kiara tidak dijawab. Kiara malah menyelonong masuk saja ke dalam kamarnya.
Tidak lama mba Tami melihat mobil Arthur pergi dari sana, dan mba Tami segera pergi masuk ke dalam rumah Kiara karena memang Mba Tami akan menginap di sana sampai acara doa untuk ibu Kiara selesai.
Tok... Tok...
"Masuk saja, Mba."
Mba Tami melihat Kiara yang sedang duduk di atas tempat tidurnya membaca buku pelajaran. "Kamu besok sebaiknya masuk sekolah saja dan biar aku yang mengurusnya di sini."
"Aku tidak masalah meminta izin lagi ke sekolah, Mba."
"Jangan begitu, sekolah itu juga sangat penting dan kalau kamu tidak masuk lagi, nanti pasti banyak tertinggal pelajarannya, sedangkan kamu sebentar lagi mau ujian. Lulus adalah salah satu impian ibu kamu, Kiara."
"Iya, aku tau, Mba. Aku merasa berat sebenarnya, tapi bagaimana lagi, aku harus lulus dengan nilai yang bagus agar ibuku bisa bangga denganku."
"Benar sekali. Sekarang kamu tidur saja dulu karena ini sudah sangat malam."
"Iya, Mba." Kiara menganggukkan kepala.
Mba Tami berjalan kembali menuju pintu keluar, tapi sebelum keluar dia kembali lagi menoleh pada Kiara. "Ara, aku hanya ingin mengingatkan kembali akan suatu hal. Cobalah membuka hati kamu untuk menerima semua kenyataan yang sudah terjadi, terutama tentang pernikahan kamu dengan Arthur. Aku yakin jika kamu bisa menerimanya, maka semua akan berjalan lebih tenang dan nyaman untuk kamu jalani hidup ini." Mba Tami berjalan keluar dari kamar Ara.
Ara meletakkan buku yang dari tadi dia pegang dan terdiam seolah dia sekarang bingung harus melakukan apa.
"Andai ucapan itu semudah dengan apa yang ingin kita lakukan. Aku harus benar-benar menyembuhkan luka yang sangat dalam yang pernah Arthur berikan padaku, Mba," Kiara berdialog sendiri.