Be Mine

Be Mine
Paket Misterius



Mereka berdua datang ke acara pernikahan mba Tami dan banyak tetangga yang membicarakan Kiara yang datang dengan seseorang yang usianya terlihat lebih matang dari Kiara.


Kiara pun tak canggung memperkenalkan Arthur sebagai calon suaminya pada para tetangganya dulu.


Mba Tami sangat senang Kiara dan Arthur bisa menghadiri acara resepsi pernikahan mereka.


Kiara dan Arthur duduk di kursi undangan, dan makanan diberikan pada Kiara dan Arthur. "Kita makan ini, Ara?"


"Tentu saja, Mas." Kiara tersenyum lebar karena dia merasa gemas melihat wajah suaminya yang terlihat bingung dengan acara pernikahan di sana. Makhlum, Arthur biasanya datang ke acara pernikahan di gedung mewah dan semua makanannya bisa di ambil sendiri.


"Orang-orang melihat ke arah kita, Ara."


"Biarkan saja, Mas, mungkin mereka bingung kenapa aku bisa berkenalan, dan bahkan akan menikah dengan pria setampan kamu." Kiara malah terkekeh.


"Apa benar aku tampan? Pantas saja gadis yang memakai baju merah itu dari tadi melihatku terus."


Kiara langsung mencari di mana gadis yang di maksud oleh Arthur, dan akhirnya matanya tertuju pada seorang gadis muda yang usianya sepantaran dengan Kiara sedang duduk sambil menikmati es buahnya.


"Oh itu! Dia seorang janda di usia yang masih terbilang muda. Sekolah pun belum lulus. Kasihan dia, dia menikah karena dijodohkan oleh kedua orang tuanya, tapi ternyata suaminya malah pergi meninggalkan dia karena selingkuh dengan mantannya. Dia juga sudah memiliki dua anak balita."


"Padahal dia cantik, tapi kenapa malah ditinggal oleh suaminya?"


"Cantik juga tidak menjamin seseorang untuk setia." Kiara seketika melirik ke arah suaminya dengan mata menyipit. "Dilihatin terus. Kenapa? Suka? Sana ajak kenalan!" seru Kiara kesal.


"Beneran boleh?"


"Mas!" Kiara berseru pelan, tapi menekankan.


"Kenapa marah?"


"Nanti malam aku tidak mau tidur sama kamu," ucap Kiara pelan.


"Bukannya kamu yang menyuruhku berkenalan, kenapa sekarang kamu yang marah?"


"Aku, kan hanya bercanda."


"Aku juga bercanda, Sayang. Kamu ini kenapa beberapa hari ini meledak-ledak?"


"Tidak tau." Kiara malah membuang mukanya. Arthur hanya tersenyum kecil melihat tingkah istrinya.


Acara di tempat mba Tami sudah selesai. Kiara dan Arthur yang sudah kembali ke apartemen mereka terlihat sangat lelah. Kiara yang baru saja keluar dari kamar mandi melihat suaminya yang berdiri sembari bicara dengan seseorang di telepon.


"Mas Arthur sedang bicara dengan siapa? Kenapa kedengarannya serius sekali?" Kiara meletakkan tubuhnya di atas ranjang karena dia sangat lelah hari ini.


"Jaga mereka baik-baik dan laporkan segera jika ada hal penting tentang mereka. Kamu paham, kan?"


Arthur mematikan panggilannya dan Kiara semakin penasaran saja dengan apa yang dia dengan.


"Mas, kamu sedang bicara sama siapa? Dan siapa yang harus dijaga?"


"Manda dan Dean. Kiara, aku menyuruh salah satu orang kepercayaanku untuk menjaga keselamatan Manda dan Dean."


"Keselamatan Mba Manda dan Dean? Memangnya kenapa degan mereka berdua, Mas?"


Arthur menceritakan semua yang tadi di restoran katakan padanya. Kiara tampak sangat terkejut dan entah kenapa dia sekarang malah ikut khawatir juga dengan Manda dan Dean.


"Mas, apa mereka nantinya baik-baik saja?"


"Iya, kamu harus membantu mereka karena sekarang mereka dalam situasinya yang tidak aman, apa lagi Mba Manda di sini tidak memiliki saudara atau keluarga."


"Iya, Sayang." Arthur kemudian melirik pada Kiara. Kiara yang merasa dilihat secara aneh tampak bingung. "Sayang, kamu tidak cemburu aku perhatian pada Manda dan Dean?


"Untuk apa cemburu? Mas, aku cemburu kalau situasinya kamu menolong karena kamu suka sama Mba Manda, tapi ini menyangkut nyawa seseorang dan aku sangat egois jika harus cemburu masalah itu."


"Aku jadi lebih tenang kalau kamu mengatakan hal seperti itu."


Arthur mendekat ke arah istrinya dan mendekap wanita itu dengan erat. "Mas, entah kenapa aku jadi kepikiran juga dengan Dean. Mba Manda tidak seharusnya menyerah untuk memberikan warisan papi Dean pada adiknya itu. Bukan aku gila akan harta, tapi mendiang papi Dean sudah mempersiapkan itu semua untuk masa depan putranya dan di situ ada cinta dari kedua orang tua Dean. Mas, apa kamu tidak bisa membantu agar Dean bisa mendapatkan hak warisnya dengan aman?"


Arthur tampak berpikir sejenak. "Aku akan mencari tau siapa yang aku hadapi nantinya." Wajah Arthur tampak serius.


***


Pagi itu Kiara melakukan tugasnya seperti biasa. Setelah sarapan, Arthur izin pergi ke kantor.


"Mas, nanti jangan pulang telat karena kita ada janji mengundang Mba Manda dan Dean makan malam."


"Iya, kemarin aku sudah mengatakan pada Manda dan nanti akan aku ingatkan dia lagi. Kamu bersemangat sekali hari ini." Arthur melihat banyak bahan masakan yang Kiara sudah keluarkan dari dalam lemari es


"Iya, entah kenapa aku sangat ingin bertemu dengan pria kecil itu."


"Dia kemarin mengatakan ingin aku menjadi papi dengan menikah dengan maminya."


"Aku tidak menyalahkan akan hal itu karena sosok pria yang seperti papinya dan yang dekat dengannya hanya kamu. Dia mungkin setiap hari selalu merindukan sosok ayahnya. Aku saja yang sudah menikah ini, kadang masih kangen ayah dan ibuku, Mas."


"Tapi aku sudah memberikan pengertian sama Dean, dan dia pasti paham akan apa yang aku katakan."


"Iya, Mas, dia anak yang pintar."


Arthur izin pergi ke kantornya dan Kiara mulai menyiapkan beberapa bahan makanan yang nanti malam tinggal dia olah. Kiara menyibukkan dirinya dengan membuat beberapa kue juga karena dia ingin membuat Dean senang.


Tidak lama pintu apartemen Kiara ada yang mengetuknya, dan Kiara yang baru saja selesai dengan kegiatannya tampak bingung karena selama ini dia tidak pernah menerima tamu di sana.


"Siapa yang datang?"


Kiara naik dan membuka pintunya, ternyata itu penjaga yang memang bertugas di apartemen itu.


"Mba Kiara, ini ada paket untuk Mba yang dititipkan di ruangan saya kemarin malam."


"Paket?"


Kiara yang melihatnya dia membaca tidak ada nama pengirimnya di sana.


"Kata sepupu saya yang kemarin malam bertugas, dia katanya teman Mba Kiara, tapi karena sudah malam. Jadi, dia menitipkan di ruangan keamanan."


"Oh, ya sudah kalau begitu terima kasih, Pak."


Kiara membawa masuk kotak berukuran sedang dengan pembungkus berwarna toska yang adalah warna kesukaan Kiara.


"Temanku? Siapa? Kalau Mega itu tidak karena dia tidak tau aku tinggal di sini dan tidak ada yang tau aku tinggal di sini."


Kiara benar-benar heran dengan kado yang ditujukan atas namanya.


Kiara meletakkan paket itu dan menatapnya beberapa menit. Dia berpikir tentang siapa orang yang memberikannya?