Be Mine

Be Mine
Pagi Yang Manis part 1



Elang yang juga mendengar jika Arthur akan segera dijodohkan dengan gadis pilihan mamanya tampak terlihat sangat senang. Dia seolah memiliki kesempatan sekali lagi untuk mendekati Kiara, dan nanti pada saat Kiara sedang terluka karena mendengar Arthur yang telah mengkhianatinya, dia yang akan datang untuk mengobati luka hatinya.


"Kakak kamu sangat cocok sekali dengan gadis itu, Mega." Elang malah tersenyum miring.


"Kakakku pasti menolak perjodohan itu, Lang."


"Apa dia bisa?"


"Dia melakukannya."


"Kenapa kamu tidak meniru kakak kamu untuk menolak perjodohan kita?"


Mega terdiam sejenak. Dia tidak mungkin menolak dijodohkan dengan lelaki yang sebenarnya sejak dulu ada di hatinya, hanya saja Elang tidak pernah memiliki perasaan apapun pada Mega.


"Aku tidak bisa menolaknya, Lang, aku beda dengan kakakku. Dia bisa menolak karena dia tidak perlu diatur hidupnya oleh siapapun. Kita sama, Lang."


Elang terdiam sejenak, kemudian dia beranjak pergi dari sana. Mega terlihat sangat sedih dengan sikap Elang.


Di apartemennya, Arthur yang baru saja tiba melihat Kiara yang tengah tertidur di sofa dengan televisi yang masih menyala.


"Sudah aku bilang untuk tidur dulu di kamar, kenapa dia malah tidur di sini?"


Padahal tadi Kiara bilang tidak bisa tidur sendirian, tapi dia malah ketiduran. Kiara mungkin saja capek karena dia sudah membersihkan setiap ruangan di apartemen itu untuk mencari kesibukan.


Arthur mengecup lembut bibir Kiara yang wajahnya tampak sangat menggemaskan saat tidur.


"Mas, sudah pulang?"


Terlukis senyum kecil nan manis dari bibir Arthur. "Kenapa malah bangun? Aku mau menggendongmu ke kamar."


"Aku kan putri yang sedang tertidur dan bisa dibangunkan jika dikecup oleh pangeran tampan."


Arthur sekali lagi tersenyum pada Kiara. "Kita sebaiknya tidur lagi karena aku sendiri sangat mengantuk."


Kiara mengangguk dan kedua tangannya menggelayut pada leher Arthur saat pria itu menggendongnya.


"Bagaimana acaranya tadi, Mas?"


"Acaranya berjalan dengan lancar dan aku senang di sana."


"Senang karena banyak wanita cantik ya?"


Arthur yang baru saja membuka pintu kamar tampak tersenyum mendengar pertanyaan istrinya. "Kamu kenapa selalu curiga dan posesif sekali."


"Habisnya, kamu tadi terlihat tampan sekali, aku jadi merasa cemburu saja."


Arthur sekarang meletakkan Kiara di atas tempat tidurnya dan dia pun masuk ke dalam walk in closetnya untuk berganti baju tidur.


Setelah itu dia kembali dan naik ke atas tempat tidur.


"Kemarilah."


Kiara mendekat pada suaminya dan sekarang dia berbaring pada dada bidang milik pria yang sangat dia cintai.


"Aku tadi senang karena sudah membuat Elang terdiam dan aku yakin kali ini dia tidak akan berani mengganggumu lagi."


Kiara seketika menarik kepalanya dan mendelik pada suaminya. "Apa? Kalian bertengkar di sana?"


"Untuk apa bertengkar sama dia? Aku bukan lawan bocah kecil seperti dia, Ara."


"Lantas, apa yang kamu lakukan, Mas?"


Arthur terdiam sejenak. "Kamu khawatir kalau aku melukainya?"


"Huft! Bukan seperti itu, Mas." Kiara kembali memeluk suaminya.


"Lalu? Kenapa kamu bertanya seperti orang cemas seperti itu? Mungkin yang dikatakan Elang benar, jika di hati kamu masih ada namanya."


Kiara kembali menarik kepalanya dan dia melihat serius pada Arthur. "Jadi dia bilang seperti itu? Mas, kamu percaya?" Arthur menggeleng. "Kalau aku masih mencintainya, aku tidak akan mau memiliki anak denganmu. Aku juga pasti akan meminta pisah darimu."


"Aku percaya padamu, Ara." Arthur sekali lagi memeluk erat istrinya itu. "Hidupku terasa sempurna saat memelukmu seperti ini."


"Aku menunjukkan foto saat kita berciuman, dia 'kan tidak pernah melakukan hal itu sama kamu, dan akulah pemenangnya."


"Kamu serius, Mas?"


"Tentu saja, Ara. Aku senang melihat wajahnya yang tampak kalau seperti itu, dan aku berharap dia tidak akan berusaha mendekatimu lagi."


"Aku sudah memblokir nomornya dari ponselku karena aku juga harus menjaga perasaan Mega."


"Mega mencintai Elang dari mereka sejak kecil."


Kiara sekali lagi dibuat terkejut dengan apa yang dikatakan oleh Arthur.


"Maksud kamu, Mas?"


"Mamaku yang mengatakan jika Elang adalah teman masa kecil Mega dan Mega pernah ditolong Elang, dari situ Mega menyukai sosok Elang dari kecil."


Kiara teringat tentang foto yang pernah dia temukan di kamar Mega yang Mega menyembunyikan sosok yang ada di foto itu. Sekarang Kiara tau siapa sosok itu, dan ternyata itu Elang.


Kiara tidak menyangka jika Elang adalah pria yang dari kecil dicintai oleh Mega. Kiara merasa kasihan sekarang dengan Mega karena pasti Mega menahan perasaannya saat melihat kedekatan dirinya dengan Elang.


"Mas, jika tau Mega dari kecil sudah mengenal Elang, mungkin aku dulu tidak akan mau menjadi pacarnya Elang. Elang juga tidak pernah membahas masalah dirinya dengan Mega, bahkan Mega juga."


"Mungkin kenangan masa kecil itu tidak berarti bagi Elang, dan Mega juga mungkin tidak mau membahasnya, apa lagi dia tau Elang menyukaimu."


"Aku jadi merasa bersalah, Mas."


"Kiara, yang lalu biar saja berlalu, yang terpenting sekarang kamu sudah menjadi milikku dan semoga saja perjodohan itu bisa membuat Mega dan Elang saling jatuh cinta seperti kita."


"Iya, Mas, aku sangat berharap hal itu."


Arthur akhirnya mengajak istrinya tidur karena waktu sudah menunjukkan pukul dua belas tepat.


***


Pagi itu Kiara yang sudah bangun melihat di sampingnya tidak ada suaminya. Kiara bingung karena tumben sekali suaminya itu tidak membangunkannya jika mau pergi.


"Apa dia sedang menyiapkan sarapan pagi?"


Kiara merapikan tempat tidurnya dan setelah itu dia mencari di mana suaminya.


"Mas ... Mas Arthur," Kiara mencoba memanggil suaminya tapi tidak ada jawab sama sekali. "Ke mana dia? Ini masih jam enam pagi."


Kiara mencoba menelusuri setiap ruangan dan tidak lama ponselnya berdering.


"Halo, Sayang, kamu sudah bangun?" Arthur menghubungi Kiara lewat video call.


"Mas, kamu di mana?" Kiara melihat sekeliling ruangan di mana Arthur berada. "Kamu di ruang gym?"


"Iya, aku di ruang gym. Kemarilah! Kita berolahraga berdua sebelum aku berangkat bekerja."


"Hem ...!" Kedua alis Kiara mengerut.


"Kenapa ekspresinya seperti itu?"


"Tentu saja ekspresiku begini karena aku curiga sama kamu, Mas."


"Curiga apa?"


"Olah raga yang seperti apa yang mau kamu ajarkan padaku?"


"Kemarilah, dan kamu nanti akan mengetahuinya. Kalau bisa kamu pakai lingerie satunya lagi yang belum aku sobek."


"Hah? Olah raga macam apa harus memakai lingerie? Dasar!" Kiara mematikan panggilannya.


Arthur di tempatnya malah tertawa dengan senangnya.


Tidak lama Kiara masuk ke dalam ruang gym dan dia melihat suaminya sedang latihan bergelantung di atas tiang.


Entah kenapa saat melihat tubuh suaminya yang berkeringat membuat sesuatu dari dirinya merasa ada yang bangkit.