
Kiara menuju kolam renang di mana Mega sudah menunggunya di dalam air. Kiara berjalan dengan perasaan yang menahan rasa malu karena baju renang yang dia pakai.
Mega tertawa dengan girangnya. "Kamu kenapa berjalan seperti itu?"
"Aku tidak biasa memakai baju renang terbuka seperti ini." Tangan Kiara menyilang menutupi bagian dadanya. Kiara masuk ke dalam air, dan dia berdiri di sebelah Mega.
"Baju renang pilihan kamu bagus sekali. Itu baju pemberian Arthur saat aku berulang tahun dua tahun yang lalu."
"Apa? Baju ini pemberian Arthur?"
"Iya, aku sengaja memintanya saat dia berada di luar negeri dan ternyata pilihan kakakku itu bagus sekali."
Kiara melihat baju renang berwarna hitam yang dia pakai dan ada reda kecil pada bagian dadanya. Baju renang itu sangat pas dipakai oleh Kiara.
"Ara, kita balapan renang, mau? Siapa yang sampai di ujung sana, nanti harus menghabiskan satu gelas orange jus."
"Okey!"
Mereka berdua akhrinya adu renang sampai tepi kolam dan ternyata, Mega yang menang dalam lomba berenang itu. Di sana pelayan Mega sudah membawakan satu teko berukuran sedang berisi orange jus dan ada makanan kecil untuk mereka.
Kiara dan Mega naik ke permukaan, mereka duduk di bangku kayu yang ada di sana. "Kamu harus menghabiskan satu gelas orange jusnya, Kiara."
"Iya-iya aku minum, lagi pula aku juga sangat haus dan tadi aku sengaja mengalah supaya aku dapat segelas orange jus."
"Hem...! Jangan mencari alasan. Tidak akan bisa kamu mengalahkan aku dalam soal berenang, kalau soal pelajaran aku kalah sama kamu, tapi berenang tidak mungkin kalah karena aku dulu waktu SMP pernah ikut kompetisi berenang, hanya saja aku berhenti karena malas." Mega terkekeh.
"Kamu itu harus menghilangkan sifat malasmu. Coba kamu menekuni hal yang menjadi bakatmu, bisa jadi kamu menjadi atlet renang."
"Enggak, ah! Mending begini saja. Tidak capek." Mereka berdua lantas tertawa bersama.
"Mega, aku izin ke kamar mandi dulu, ya? Kebelet."
"Uh, dasar! Baru habis satu gelas penuh sudah kebelet. Kamu ke kamar mandi di sana saja. Jadi, kamu tidak perlu turun ke lantai bawah."
Kiara mengangguk dan dia segera berlari kecil menuju kamar mandi yang tidak terlalu jauh dari tempat Mega. Mega duduk bersantai dengan memakai handuk kimono dan duduk menikmati camilan yang ada di sana.
"Hai, Mega," sapa seseorang yang berjalan mendekat ke arah Mega.
"Kak Arthur? Tumben berada di sini? Kamu tidak kerja?"
"Pekerjaanku sudah selesai dan hari ini tidak ada rapat penting. Kata pelayan di sini kamu sedang berenang bersama temanmu."
"Oh iya! Ada Kiara di sini. Dia aku ajak menginap di sini selama dua hari. Kakak tau sendiri kalau aku sendirian di rumah. Mama berada di luar negeri karena ayah sedang membutuhkan bantuannya. Kamu juga tidak akan mau menginap di sini."
Arthur sebenarnya sudah tau jika Kiara berada di sana, tapi dia berpura-pura tidak tau saja.
"Aku akan menginap di sini untuk beberapa hari. Lagi pula aku sedang tidak ada pekerjaan yang penting."
"Serius? Tumben sekali?"
"Mama agak lama 'kan perginya kali ini?"
Arthur ini sebenarya kakak yang baik, saat Mega di rumah sendirian dia sering datang ke rumah hanya untuk sekadar mengetahui keadaan adiknya, tapi dia tidak menginap di sana.
"Ya sudah, kalau begitu aku akan menginap di sini untuk menemani kamu dan Kiara."
"Asik! Kalau begitu nanti aku akan minta Kiara menginap lebih lama lagi saja di sini, pasti dia mau."
Tidak lama gadis yang sempat mereka bicarakan keluar dari kamar mandi dan berjalan dengan santainya menuju kolam renang. Kiara tidak mengetahui jika Arthur ada di sana.
Sampai pada akhirnya, kedua mata Kiara mendelik saat dia sadar dilihat oleh pria yang adalah suaminya.
"A-Arthur? Ke-kenapa dia ada di sini?" Kiara seketika bingung harus bagaimana, dia merasa malu dengan penampilannya saat ini.
Arthur. Pria itu berdiri terpaku melihat penampilan istrinya yang baginya saat ini terlihat seperti seorang bidadari yang sangat cantik.
"Cantik," ucapnya lirih.
Mega yang berada di sebelah Arthur dan dia ternyata mendengar suara lirih Arthur terkejut sampai kue yang dia makan tersembur. "Apa? Kamu tadi baru saja mengatakan Kiara cantik?" Mega melihat kaget pada Arthur.
Arthur wajahnya biasa saja, dia sama sekali tidak tampak panik. "Iya, Kiara memang cantik, apa lagi dengan penampilannya yang seperti itu."
"Iya juga sih! Tapi kamu tidak pernah memuji seseorang, baru kali ini aku mendengar kamu memuji seseorang. Biasanya kakak kalau aku tunjukkan wanita cantik, hanya mengatakan biasa saja."
"Mega, aku pinjam handuknya." Kiara yang berdiri di depan Arthur tampak mukanya cemas.
"Tidak perlu memakai handuk, kita akan berenang lagi." Mega malah melepaskan handuk kimononya dan menarik tangan Kiara menuju ke arah kolam.
Kiara akhirnya masuk kembali ke dalam air, setidaknya dengan begitu dia tidak akan malu tubuhnya terlihat oleh Arthur.
"Arthur, apa kamu tidak mau berenang sekalian? Ayo ke sini! Cuaca di luar sangat panas dan lebih enak berendam di sini."
Kedua mata Kiara mendelik mendengar apa yang Mega katakan. "Mega, kenapa kamu malah menyuruh kakak kamu ikut berenang bersama dengan kita?"
"Memangnya kenapa? Dia itu hobinya berenang, tapi sudah lama dia tidak pernah berenang karena sibuk dengan pekerjaannya."
"Aku malu, Mega." Kiara mendelik pada sahabatnya itu.
"Malu sama Arthur? Kamu tenang saja, kakakku itu bukan pria brengsek yang pikirannya suka kotor saat melihat seorang wanita berpakaian sexy atau terbuka. Aku saja dulu bingung, dia itu normal atau tidak, tapi dia normal. Apa lagi saat tadi dia mengatakan kalau kamu terlihat cantik." Mega terkekeh.
"Apa? Dia mengatakan itu?"
"Iya, aku serius, dahal dia itu anti sekali memuji wanita cantik. Aku tunjukkan wanita cantik saat dia luar negeri saja dia bilang biasa saja, dahal jika aku jadi pria, pasti aku akan katakan wanita itu seperti bidadari, tapi bagi Arthur biasa saja."
Kiara yang sibuk bicara dengan Mega tidak sadar jika Arthur sudah berganti baju dan melompat ke dalam kolam renang.
"Aku kira kamu akan menolak untuk berenang, Kak."
Arthur sudah berada di dekat dua gadis itu. Kiara tampak mendelik melihat pria yang adalah suami itu hanya memakai celana pendek renang.
"Benar apa kata kamu, cuaca seperti ini paling enak jika bisa berendam." Arthur melirik pada Kiara. Kiara merasa sangat malu saat ini di depan Arthur.