Be Mine

Be Mine
Menjadi Maid Untuk Sang Istri part 1



Dua orang yang adalah ibu dan anak itu masih saja memikirkan cara agar Arthur bisa berpisah dari Kiara. Mega pun sangat takut jika nantinya Kiara akan menjadi kakak iparnya karena dia akan menikah dengan Elang, dan rencana untuk menjauhkan Kiara dengan Elang akan menjadi sulit.


"Hal ini akan semakin sulit untuk memisahkan mereka karena gadis tidak tau diri itu sekarang mengandung anak Arthur."


"Mereka bisa dipisahkan, Ma, jika Kiara mengalami keguguran." Mega melirik pada mamanya.


"Tapi sekarang kita tidak bisa mendekati gadis itu karena Arthur pasti akan menjaga Kiara. Aku benar-benar tidak bisa membayangkan gadis itu menjadi menantuku dan malah anaknya yang menjadi cucu pertama di keluarga Lucas. Alan pasti akan sangat senang mendengar dia akan menjadi kakek dan bisa-bisa anak dari Kiara memiliki segalanya. Seharusnya anak kamu yang mendapat semua itu karena kamu akan menikah lebih dulu, tapi ternyata gadis itu diam-diam merusak segalanya."


"Ma, nanti saja kita pikirkan untuk membuat Kakak dan Kiara berpisah karena aku mau memikirkan hal yang lebih penting untuk masa depanku."


Tangan Alexa menyikap lembut rambut putrinya. "Tentu saja, kita lebih baik sekarang memikirkan tentang pesta pertunangan kamu."


"Ma, apa Kak Arthur akan datang nantinya ke pesta pertunanganku?"


"Dia pasti datang karena ayahmu pasti akan menyuruhnya datang, tapi mama harap dia tidak mengajak gadis miskin itu. Kamu juga hubungi Kiara dan dia tidak perlu datang ke acara pertunangan kamu karena kehadirannya tidak penting."


"Iya nanti aku akan menghubunginya, Ma."


"Ya sudah, sekarang kamu beristirahat dulu untuk mempersiapkan lusa adalah hari pertunanganmu, dan kamu harus tampil sangat cantik."


Mega mengangguk dan dia mengucapkan selamat malam sembari memberi kecupan pada pipi mamanya.


Mega masuk ke dalam kamarnya dan melemparkan ponselnya dengan marah. Dia juga mengambil barang-barang pemberian Kiara yang ada di dalam tempat sampah yang ada di dalam kamarnya.


"Kenapa kamu harus menikah dengan kakakku? Rencana yang sudah aku atur sedemikian rupa untuk menjauhkan kamu dengan Elang aku kira sudah berhasil, tapi nyatanya kamu malah semakin mendekat. Aku ingin membuat kamu menderita, Kiara. Aku ingin kamu merasakan rasanya ditinggal oleh orang yang kamu cintai seperti aku kehilangan Elang saat kamu malah menerima cinta Elang. Elang itu hanya milikku. Hanya milikku."


***


Keesokan harinya Kiara tampak kaget saat tangannya tidak merasakan ada sosok pria yang sangat dia di sampingnya.


"Mas Arthur," panggilnya sembari mengedarkan kedua matanya melihat sekeliling kamarnya. Kiara seketika panik saat tidak melihat ada suaminya di sana. Dia langsung membuka selimutnya dan berjalan keluar dari dalam kamarnya.


"Mas," panggilnya sekali lagi dan dia merasa lega melihat ada Arthur yang sedang berada di dapur.


"Kiara? Sayang, kenapa kamu malah turun? Jangan sering naik turun tangga karena kata mamanya Morgan itu tidak baik." Arthur mendekat pada istrinya.


"Mas, aku tadi mengira kamu meninggalkan aku." Kiara langsung memeluk suaminya.


Arthur melihat jika istrinya ini sekarang seolah merasa takut dijauhkan darinya setelah diusir oleh mamanya waktu itu.


"Kiara kamu jangan memikirkan hal yang buruk karena aku tidak akan pernah jauh dari kamu. Sekarang kamu duduk dulu." Arthur mendudukan istrinya di ruang makan dan memberikan segelas air.


Kiara langsung menghabiskan segelas air dari Arthur. "Mas, nanti jangan masuk kerja dulu ya?"


Sebenarnya hari ini Arthur ada rapat penting, tapi karena Kiara menginginkan dirinya, Arthur memilih untuk menunda rapat itu.


"Aku akan berada di sini bersama kamu."


"Benar ya, Mas?"


"Iya, Sayang. Sekarang kamu harus mandi dulu kemudian kita makan pagi bersama."


Arthur menggendong istrinya dan dia membawa Kiara ke dalam kamar mandi. Arthur menyiapkan air hangat ke dalam bathub dan dia menyuruh istrinya bersantai di dalam bathub karena Arthur akan membantu Kiara mandi.


"Mas, apa kamu yakin mau menggosok tubuhku dengan sabun?"


"Tentu saja, hari ini aku akan melayani ibu dari calon anakku dengan sebaik-baiknya. Aku tidak akan membiarkan kamu kecapean."


Arthur memberikan sabun pada seluruh tubuh Kiara dan Kiara tampak memperhatikan apa yang dilakukan suaminya itu.


"Mas, usia kandunganku masih sangat kecil dan kata Tante Maura nanti saja kita bisa melihat bayi kita jika usia kandunganku masuk di bulan ketiga."


"Aku tidak sabar ingin segera melihat bayi kecil yang ada di sini." Tangan Arthur mengusap lembut perut Kiara.


"Sabar, Mas."


"Iya, Sayang." Arthur kembali mengusap tubuh Kiara dan bahkan dia memberi pijitan lembut pada pundak istrinya. "Apa kamu merasa nyaman?"


"Nyaman sekali." Kiara mengangguk.


Di tengah pijitan itu Artur tiba-tiba merasakan hal yang tidak ingin dia rasakan saat ini, tapi perasaan itu muncul tanpa bisa dia kontrol.


"Mas, kenapa berhenti?"


"Sebentar Kiara." Arthur mencoba mengatur napasnya dan dia memejamkan kedua matanya.


"Aku kan sudah bilang kalau Mas jangan mencoba uji nyali," celetuk Kiara.


Arthur seketika membuka kedua matanya dan tersenyum mendengar ucapan Kiara. "Padahal aku sudah berusaha untuk tidak terdengar aliran listrik dari kamu, tapi ternyata tidak bisa."


"Sekarang bagaimana?"


"Ciuman saja, ya?" Kiara mengangguk perlahan.


Ciuman manis pun tercipta. Ya setidaknya bisa menurunkan tegangan tinggi yang dirasakan oleh Arthur.


Sekarang mereka berdua makan pagi bersama. Kiara tampak terlihat hanya memakan sedikit masakan yang dibuatkan oleh suaminya.


"Kenapa makannya sedikit, Kiara? Kamu harus banyak makan karena ada bayi di dalam perut kamu."


Kiara menggeleng perlahan. "Ini juga sudah cukup, Mas. Perutku tidak enak, nanti kalau aku makan banyak malah muntah."


"Apa yang ini kamu makan? Biar aku yang mencarikan."


Kiara sekali lagi menggeleng. "Tidak ada, aku hanya mau duduk dan bersandar di dada kamu."


"Hah?" Arthur agak sedikit terkejut. "Kenapa kamu sekarang jadi ingin bersandar di dadaku terus?"


"Tidak tau, Mas."


"Ya sudah, nanti setelah kita sarapan, aku akan menemani kamu melihat televisi dan kamu bisa bersandar pada dadaku. Bagaimana?"


"Setuju," jawab Kiara cepat.


"Kalau begitu kamu makan dulu sedikit lagi."


"Tidak mau, Mas."


"Huft!" Arthur ini khawatir jika istri dan anaknya asupan makanannya kurang, tapi mau bagaimana lagi, dia tidak mau memaksakan karena dia tidak merasakan apa yang sedang istrinya rasakan.


"Sudah ya, Mas? Aku mau muntah."


"Ya sudah tidak apa-apa. Aku akan menghabiskan makan pagiku dulu." Kiara mengangguk.


Beberapa detik kemudian terdengar suara bel pintu berbunyi. Kiara dan Arthur saling melihat. "Siapa yang datang, Mas? Apa itu kedua orang tuamu?"