Be Mine

Be Mine
Kita dan Perasaan Ini



Kedua mata Kiara tampak membulat, tubuhnya pun terpaku di tempatnya. Arthur--pria yang saat ini tengah menciumnya masih tidak mau melepaskan ciumannya pada bibir Kiara. Kiara pun seolah tidak dapat menolak ciuman itu, dia sendiri tidak tau kenapa tubuhnya malah membeku di tempatnya?


"Kiara, kamu--. Ups! Maaf." Mba Tami yang nyelonong masuk langsung membalikkan badannya.


"Wow!"


"Banni!" Mba Tami juga membalikkan tubuh pria yang datang bersamanya. "Jangan melihat," ucapnya pelan.


Arthur menarik ciumannya dengan santai. Dia melihat datar pada Kiara.


Kiara yang baru saja kembali ke bumi melihat bingung pada Arthur.


Bruk


Kiara menabrakkan kardus yang dia bawa pada tubuh Arthur. "Kenapa malah menciumku?" ucapnya kesal, dan dia berjalan dengan menahan malu melewati mba Tami dan Mas Banni.


Mba Tami mencoba menahan tawanya melihat Kiara berjalan keluar toko.


"Kamu menciumnya, Mas Arthur?"


Arthur berdiri tegak dengan salah satu tangan masuk ke dalam saku celananya. "Iya, aku kesal sekali dengannya, dari pada aku marah, lebih baik ak cium saja dia."


"Gantian nanti Ara yang akan marah."


"Biarkan saja. Aku mau melihat dia mau marah seperti apa denganku."


"Kalian itu lama-lama dilihat lucu juga."


"Lihat saja, setelah acara pengajian ibunya selesai aku akan mengajaknya tinggal di apartemenku, kalau dia tidak mau, aku akan menculiknya dan membawanya ke sana."


"Menculik?" Kedua alis Banni mengkerut. "Tunggu-tunggu! Kamu ini siapa berani menculik Kiara? Dengar ya, Walaupun Kiara itu sudah tidak punya kedua orang tua, tapi jangan pernah berpikir bisa menyakitinya karena aku sebagai tetangga baiknya tidak akan membiarkan hal itu." Banni tiba-tiba sok jagoan.


Arthur hanya memandang datar pada Banni. "Aku suami, Kiara. Apa salah, jika aku mengajak istriku tinggal denganku?"


"Hah ... Suami? Serius?" Mata Banni melihat pada Tami dan Tami langsung mengangguk beberapa kali.


"Dia suaminya Kiara."


"Kok bisa? Kiara itu 'kan masih sekolah dan kapan mereka nikahnya?" Muka Banni yang bingung tampak lucu.


"Nanti aku jelaskan semua sama kamu, Banni, asalkan kamu tidak akan mengatakan hal ini pada lainnya.


Kiara yang di luar toko terdiam di depan tempat sampah. Dia bingung antara masuk ke dalam atau tetap di luar saja.


Jujur saja jika saat ini Kiara merasa sangat malu dengan ciuman yang dilakukan Arthur padanya.


"Dia sudah berani berbuat hal yang lebih padaku hanya karena dia adalah suamiku. Aku benar-benar akan meminta berpisah darinya setelah aku lulus sekolah dan kali ini dia akan serius."


Kiara akhirnya berani masuk ke dalam tokonya. Dia melihat Arthur yang sedang membersihkan debu-debu yang ada di atas meja.


Entah kenapa Kiara merasa ada perasaan yang aneh saat melihat pria dengan kemeja yang kedua lengannya digulung ke atas itu, tampak tidak jijik atau takut kotor melakukan hal itu? Dahal, Arthur itu orang kaya dan tidak pernah melakukan hal itu.


"Kiara, suami kamu rajin juga," celetuk mba Tami.


"Sebentar lagi dia bukan suamiku."


"Masih memikirkan ingin bercerai dengannya? Menyesal kamu nanti." Mba Tami melengos pergi dari sana.


"Tidak akan pernah."


Kiara berjalan mendekati Arthur yang sedang membersihkan laci besar di sana. "Arthur aku mau bicara sama kamu."


Arthur yang membelakangi Kiara tidak menoleh sama sekali. Dia sepertinya sedang serius melihat sesuatu. "Arthur, aku--."


"Apa?" Kiara agak terkejut melihat foto masa kecilnya, apa lagi ada beberapa foto yang memperlihatkan Kiara memakai kostum putri duyung. Kiara dulu kecilnya suka sekali melihat film putri duyung.


"Kamu mermaid yang cantik, Ara."


"Jangan memanggilku, Ara. Lagian kamu lancang sekali mengambil dan melihat foto-foto pribadiku ini. Tidak sopan."


"Aku tidak sengaja menemukannya saat akan membersihkan lemarimu."


"Iya, tapi seharusnya kamu jangan asal melihat, Arthur!"


"Kenapa? Malu? Lebih baik foto itu dilihat suamimu sendiri, atau kamu mau dilihat oleh orang lain? Elang misalnya?"


"Jangan membawa-bawa naman Elang karena aku tidak suka hal itu, Arthur!"


Tami dan Banni saling melihat. Mereka berdua merasa tidak enak kalau harus menyaksikan pertengkaran suami istri di sana.


"Kalian kalau masih mau bertengkar terus, kami lebih baik pergi saja dari sini," kata mba Tami.


"Suami istri itu seharusnya tidak boleh sering bertengkar, Kiara. Kalau kalian bertengkar terus, nanti kalau punya anak bakal kasihan jika anaknya sering melihat kedua orang tuanya bertengkar. Jika kalian ada masalah, ya lebih baik dibicarakan sewaktu kalian berada di dalam kamar."


Arthur melihat pada Banni dan Tami. Dia kemudian berjalan pergi dari sana.


Kiara tampak terdiam di tempatnya. Mba Tami berjalan menghampiri Kiara dan mengusap pundak Kiara dengan lembut aku.


"Aku tidak tau lagi harus menasihatimu bagaimana lagi, Kiara?"


"Mungkin lebih baik kami memang berpisah, Mba karena hal itu akan bisa membuat hidupku dan mungkin bahkan hidup Arthur lebih bahagia dan tenang nantinya."


"Aku tidak yakin. Kalian ini saling membutuhkan, terutama kamu, Kiara. Kamu saja yang belum sadar sekarang."


Mereka kemudian melanjutkan untuk membereskan toko kue itu, kemudian pulang untuk menyiapkan acara pengajian.


Setelah selesai acara itu. Mba Tami izin pergi sebentar dengan Banni karena dia harus membeli sesuatu.


Kiara berbaring di atas tempat tidurnya dengan memandang langit-langit rumahnya.


"Kalau ibu masih ada, aku tidak akan mengalami hal ini, palingan hanya nangis karena putus dengan Elang, tapi tidak perlu memikirkan masalah pernikahan dengan Arthur itu." Kiara tidur dengan memeluk gulingnya.


Baru saja Kiara memejamkan kedua matanya, dia mendengar suara ketukan di pintu rumahnya.


"Siapa yang datang ke sini malam-malam begini? Kalau mba Tami pasti tinggal masuk saja, dia sudah membawa kunci duplikat rumahku."


Kiara beranjak dari tempat tidurnya dan berjalan menuju pintu rumahnya. Kiara mengintip dari balik jendela rumahnya dan dia terkejut melihat siapa yang ada di depan rumahnya.


"Elang? untuk apa dia ke sini?" Kiara tampak bingung. Dia harus membuka pintu atau tidak kalau begini?


"Kiara ... Kiara ...! Aku mau bicara sebentar sama kamu. Kiara, aku mohon buka pintunya dan kita bicara sebentar saja."


Kiara yang tidak mau tetangganya melihat Elang yang menggedor pintunya malam-malam begini akhirnya dia membukakan pintu untuk Elang.


"Elang, ada apa?"


Blup


Elang tiba-tiba malah memeluk Kiara dengan erat. Kiara yang mendapat pelukan secepat itu tampak kaget.


"Elang, lepaskan! Jangan seperti ini. Aku tidak mau menjadi bahan pembicaraan tetanggaku."


"Kiara, kembalilah padaku," ucapnya sedih.