Be Mine

Be Mine
Masuk Kuliah Part 2



Arthur yang masih dalam keadaan polos, dan hanya tertutup selimut putih tampak sedang mengecupi perut Kiara.


Tangan Kiara membelai lembut rambut suaminya itu, dia tau jika suaminya ini sedang kambuh posesifnya gegara dia akan masuk kuliah untuk pertama kali.


"Apa kamu tidak capek nanti kalau kuliah dengan perut besar?"


Kiara menggeleng pelan. "Mas, ini impianku dan kamu tau sendiri, kan?"


"Apa kamu tidak mau kuliah setelah melahirkan saja?"


"Kelamaan, Mas. Mas, kamu jangan khawatir terlalu berlebih karena itu tidak baik dan satu lagi! Kamu itu harus percaya sama aku, Mas."


"Iya percaya." Arthur memeluk perut istrinya, terlukis senyum kecil dari bibir Kiara. "Sayang, kalau masuk kuliahnya ditunda besok apa tidak bisa? Aku juga nanti akan libur bekerja, dan kita bisa jalan-jalan ke luar negeri kalau perlu."


"Mas! Aku ini mau kuliah! Kenapa malah diajak pergi ke luar negeri?"


"Iya-iya. Ya sudah kalau begitu kita mandi dan bersiap-siap."


Arthur beranjak dari tempatnya dan dia menggendong istrinya. "Mas, kita hanya mandi, tidak melakukannya lagi, aku bisa telat nanti."


"Kalau telat ya tidak perlu masuk, nanti aku yang mengizinkan. Padahal aku mau minta lagi karena kita kan sudah lama tidak melakukan sejak kamu hamil dan baru ini tadi. Apa tidak boleh minta bonus tambahan?"


"Tidak boleh, aku mau kuliah. Mas sengaja mau membuatku capek sehingga aku tidak bisa masuk kuliah hari ini, kan?"


"Mahasiswi yang pintar." Arthur malah menunjukkan senyum manisnya.


"Turunkan aku sekarang, Mas, atau aku marah sama Mas karena membuat aku terlambat datang ke kampus. Ini hari pertamaku, Mas!'


Mendengar ancaman Kiara, Arthur segera menurunkan istrinya karena dis takut kalau Kiara marah, bisa-bisa dia tidak diajak bicara, dan hal yang menyeramkan dari semua itu, jatah tiap malamnya tidak akan Kiara berikan."


Kiara masuk ke dalam kamar mandi dan Arthur hanya bisa menunggu istrinya sampai selesai mandi.


Beberapa menit kemudian mereka berdua sudah siap dan mereka turun untuk makan pagi.


"Selamat pagi, Kiara. Pagi, Arthur."


"Selamat pagi, Bi."


"Kenapa aku berharap ini masih malam saja ya, Bi?" celetuk Arthur.


"Ini sudah pagi, Arthur. Kalau kamu masih mengantuk, nanti sehabis mengantar Kiara, kamu tidur kembali."


Arthur melihat pada Kiara. "Bukan itu maksud aku, Bi."


"Lalu, maksud kamu apa?"


"Dia berharap saat ini masih malam kemarin saja, Bi karena dia tidak ingin aku masuk kuliah. Posesif."


"Posesif itu artinya sama seperti cemburu, dan cemburu itu berarti aku sayang sama kamu."


"Iya, tapi harus pada tempatnya, Mas. Aku ini kuliah. Belajar bukan berkencan."


"Iya, Arthur. Istri kamu ini pergi untuk belajar, kenapa kamu malah melarang?"


"Aku itu takut, Bi, nanti ada yang suka sama istriku bagaimana?"


"Biarkan saja, itu hak dia karena kita tidak bisa mengatur perasaan seseorang, yang terpenting Kiara tidak menanggapi."


"Iya, kayak Mas tidak ada yang suka saja. Itu Selena mengejar-kejar Mas terus, tapi Mas tidak menanggapi, jadi dia sekarang menyerah."


"Awas saja kalau sampai ada yang mendekati kamu nantinya." Kedua mata Arthur melihat dengan manis, tapi terkesan sadis.


Dasar posesif."


Arthur dan Kiara sekarang berada di dalam mobil. Arthur akan mengantar Kiara ke kampus, tapi entah kenapa dia seolah enggan menjalankan mobilnya.


"Mas, ayo berangkat! Kamu menunggu apa lagi, sih?" Kiara ini sekarang benar-benar kesal sama suaminya.


"Cium aku dulu."


"Tidak mau?"


Kiara mendekatkan wajahnya dan mengecup bibir suaminya. Arthur mengusap lembut wajah wanita yang sangat dia cintai itu.


"Aku menyesal sekarang mengizinkan kamu untuk kuliah."


"Oh ... begitu! Ya sudah, aku membiayai kuliahku sendiri saja, nanti aku akan mencari kerja."


"Bukan seperti itu. Iya! Aku tidak jadi menyesal, akan aku antar kamu masuk kuliah."


Kiara tersenyum melihat ekspresi wajah suaminya.


"Mas, aku nanti tidak tau pulang jam berapa, apa lagi ini masih masa orientasi. Jadi, aku tidak tau pulangnya jam berapa. Nanti kalau kamu sibuk, aku pulang sendiri saja."


"Aku yang jemput kamu."


"Tapi aku tidak mau nanti merepotkan kamu, Mas. Takutnya nanti kamu pas ada rapat atau meeting dengan rekan bisnismu."


"Bisa aku tunda waktunya. Pokoknya aku akan menjemput kamu kuliah. Titik."


Kiara yang mulutnya sudah mangap mau mengatakan sesuatu akhirnya dia tutup lagi. Kalau sudah ada kata titik, jangan sampai jadi koma."


Beberapa menit kemudian, mereka sampai di kampus di mana Kiara kuliah. Arthur membukakan pintu untuk istrinya dan sekarang mereka berdiri di depan pintu mobil.


"Aku tidak menyangka akhirnya aku bisa berkuliah juga. Ibu kalau masih hidup pasti senang melihat aku, Mas." Kiara malah meneteskan air matanya.


"Jangan menangis, kalau menangis kita pulang saja."


"Ih! Tidak mau! Aku mau masuk kuliah, aku mau berkenalan dengan para dosen dan temanku."


"Kalau berkenalan dengan teman kamu, jangan lupa bilang kalau kamu sudah menikah, terutama teman laki-laki."


"Iya, Mas. Ya ampun! Kamu tadi sudah mengatakan hal ini beberapa kali. Masih tidak percaya sama aku? Aku benaran marah sama Mas ini." Wajah Kiara sudah ditekuk kesal.


Ini Kiara mau masuk kuliah ribet sekali karena Arthur posesifnya kelewatan.


"Iya. Ya sudah kalau begitu cepat masuk ke kelas kamu."


Kiara mengecup punggung tangan suaminya, dan Arthur menyematkan kecupan yang dalam pada kening Kiara.


"Aku mencintai kalian berdua." Arthur juga menunduk dan mengecup perut istrinya.


"Aku juga mencintaimu, Mas."


Kiara melambaikan tangan dan berjalan menuju gedung utama kampusnya. Arthur masih berdiri di samping pintu mobilnya melihat Kiara sampai menghilang dari balik dinding.


"Huft! Aku harus mencoba menghilangkan rasa posesifnya ini." Arthur mengedarkan pandangannya melihat sekeliling kampus itu. "Selamat belajar, Sayang." Arthur masuk ke dalam mobil dan pergi dari sana.


Kiara mencari di mana kelasnya, dan saat menemukannya dia sangat Senna karena kelasnya ada di bawah. Kiara masuk dan dia melihat ada beberapa orang di dalam.


"Hai!" Ada seorang gadis dengan memakai kacamata putihnya melambaikan tangannya pada Kiara. Kiara berjalan mendekat ke arah gadis itu. "Nama kamu siapa?" Gadis itu mengulurkan tangannya pada Kiara.


Kiara pun membalas menyambut tangan gadis itu. "Namaku Kiara, kamu siapa?"


"Aku Momo." Gadis itu tersenyum manis pada Kiara.


"Momo? Nama kamu unik sekali."


"Sebenarnya namaku Margin, hanya saja aku lebih senang dipanggil Momo. Senang berkenalan sama kamu, Kiara."


"Aku juga senang berkenalan sama kamu. Kamu duduk di sini? Kalau aku duduk di belakang kamu boleh tidak?"


"Jangan duduk di belakangku. Kamu duduk di depanku saja karena nanti kalau aku tidak bisa menjawab pertanyaan, bisa bersembunyi di belakang kamu."


Kiara tertawa kecil mendengar ucapan gadis bernama Momo itu.