
Gio tertawa terpingkal-pingkal mendengar apa yang diucapkan oleh Kiara. Kiara yang melihat hal itu mukanya jadi bingung.
"Memangnya ada yang lucu dari ucapanku?" tanyanya polos.
Arthur menelan salivanya dengan susah saat itu. Bagaimana dia bisa membuka durian itu dan menyuapi Kiara dengan jarinya?
"Mas Gio kenapa sih?" Gio masih saja tertawa bahagia.
"Bi, Arthur menemukan pawangnya. Dia kali ini tidak akan bisa berkutik."
Kiara mengerutkan alisnya, dia bingung dengan maksud ucapan Gio.
"Sayang, aku mau jujur sama kamu," seketika Arthur berkata dengan serius.
"Ada apa, Mas? Apa ada sesuatu yang terjadi?"
"Arthur, sebaiknya kamu turuti saja, daripada nanti ada perang dunia kelima."
"Diam kamu, Gio! Kamu senang sekali melihat temannya tersiksa."
"Tersiksa? Memangnya siapa yang menyiksamu, Mas?"
"Dia yang menyiksa suaminya, malah dia yang bertanya. Kalian ini benar-benar pasangan yang cocok."
"Mas Arthur apa merasa tersiksa aku suruh membelikan buah durian?" Bibir Kiara sudah mengerucut saja.
"Sayang, aku sama sekali tidak tersiksa, tapi jujur saja aku ini sangat membenci bau buah durian, dan kenapa buah itu aku masukkan ke dalam kotak, itu karena biar tidak tercium baunya. Lalu, sekarang kamu mau aku membuka dan menyuapi kamu. Sayang, bukannya aku tidak mau, tapi ... Oh God! Aku tidak bisa Kiara, dan aku harap kamu mengerti."
Kiara tampak menundukkan kepalanya. Arthur yang melihat hal itu merasa bersalah juga. Dia bukannya yang sangat menginginkan bayi itu dan sekarang istrinya itu sedang mengidam-- hal yang memang pasti dirasakan oleh wanita yang sedang hamil.
"Kiara, apa kamu marah?"
"Tidak, tapi aku hanya kecewa saja sama Mas. Mas makan saja dan ajak Mas Gio juga, aku mau ke kamar."
Kiara berjalan menuju kamarnya dan Arthur merasa benar-benar menyesal sudah membuat istrinya seperti itu, padahal yang diminta istrinya juga bukan hal yang sangat berat, tapi dia tidak bisa melakukannya.
"Keterlaluan kamu, Arthur. Tidak kasihan kamu melihat hal itu."
"Bi, bagaimana ini?"
"Bibi sendiri juga tidak tau, tapi Kiara dari tadi berusaha menguatkan diri membuatkan masakan kesukaan kamu, walaupun dia sebenarnya menahan agar tidak muntah karena bau masakan yang tidak dia sukai."
"Kalah kamu sama istrimu."
Arthur tampak terdiam sejenak. "Aku bukannya tidak mau, Gio, tapi kamu sudah tau, kan kalau aku benar-benar tidak suka bau durian."
"Istrimu itu sedang hamil, Arthur, dan dia akan melewati masa yang berat dan sulit. Kamu hanya diminta begitu saja tidak mau."
"Kamu sok tau sekali, memangnya kamu pernah hamil?"
"Tidak pernah, tapi dokter kandungan Elena sudah menjelaskan."
"Yang dikatakan Gio memang benar, Arthur. Wanita yang sedang hamil itu pasti akan melewati fase yang sulit, tapi juga hal itu adalah moment yang sangat berharga."
Arthur akhirnya menyerah dan akan melawan rasa tidak sukanya pada buah durian. Dia naik ke kamar untuk mengajak istrinya turun dan dia akan menyuapi Kiara buah durian dengan tangannya sendiri.
"Kalau tidak mau, tidak perlu dilakukan, Mas."
"Aku mau melakukanya, aku tidak mau anakku nanti kecewa karena ayahnya tidak bisa menuruti keinginannya saat dia masih di dalam perut ibunya."
"Nak, kamu harus ingat hari ini, di mana ayah kamu mencoba melawan sesuatu yang sangat ayah tidak sukai." Arthur mengecup perut Kiara.
Kiara melihat suaminya itu membuka kotak dan mengeluarkan buah durian dengan terus menahan baunya. Sesekali dia membuang mukanya untuk mengambil napas.
Arthur kemudian membelah durian itu. "Oh my God! Baunya kenapa membuatku semakin pusing?"
"Baunya enak sekali." Kiara tampak tersenyum sangat senang, dia menusukkan jarinya pada salah satu daging durian dan mencicipinya. "Enak sekali, Mas!" serunya senang.
"Oh God!" Arthur mencoba membuang mukanya melihat istrinya begitu menikmati durian itu.
"Mas Gio, mau? Bibi juga boleh mengambilnya karena aku sudah tidak mau. Sedikit saja sudah cukup."
"Apa? Kamu sudah tidak mau? Jadi, kamu hanya ingin mencicipi durian seujung jari itu saja?" Gio tampak terkejut.
Kiara mengangguk. "Iya, dan aku sudah puas. Bayiku juga, sekarang aku mau ganti baju dulu karena bau masakan yang tadi aku makan."
"Ya Tuhan!" Gio menepuk jidatnya.
Kiara berjalan kembali ke dalam kamarnya dan Arthur segera ke wastafel untuk mencuci mukanya.
"Istri kamu benar-benar--." Gio tidak dapat berkata-kata.
Bibi Yaya segera membereskan buah durian itu karena dia tidak mau Arthur pingsan. "Sabar saja karena bagaimanapun juga Kiara nanti akan mengalami hal yang lebih berat karena ada orang-orang di sekitarmu yang ingin menjauhkan kamu dengannya." Bibi Yaya memberikan amplop berwarna coklat yang dia sembunyikan dari Kiara.
"Ini apa, Bi?"
"Buka saja sendiri dan kamu akan mengetahuinya."
Arthur membuka amplop itu dan dia sangat terkejut melihat isinya. "Apa-apaan ini? Kenapa bisa ada foto ini? Bi, Kiara tidak tau masalah foto ini, kan?"
"Kalau dia tau, pasti dia akan langsung pergi dari sini."
"Ini kamu sama Selena? Kamu selingkuh, Arthur?" Gio melihat satu persatu foto yang ada di tangan Arthur.
"Enak saja! Selena waktu itu datang ke kantorku tiba-tiba, dia ingin kembali denganku, bahkan dia mau menjadi yang kedua dan tidak akan mengatakan pada Kiara."
"Apa? Keterlaluan! Aku akan menemuinya nanti. Dia itu selalu berbuat semaunya sendiri."
"Jika Selena mengatakan hal seperti itu, berarti dia akan berusaha untuk terus mendekati kamu."
"Lalu, aku harus bagaimana, Bi? Apa aku tawarkan saja dia sejumlah uang untuk dia bisa pergi dari negara ini dan aku menjamin hidupnya."
"Dia itu tidak hanya menginginkan uang kamu, tapi juga dirimu, Arthur. Kita tau siapa Selena itu."
"Mulai sekarang akan aku perintahkan agar penjaga di kantorku bahkan di apartemen ini tidak membiarkan dia masuk untuk mendekatiku ataupun Kiara."
"Semoga saja hal itu bisa membuat Selena sadar jika kamu memang tidak ingin dekat dengannya lagi. Aku akan membawa foto-foto ini dan membakarnya."
"Mas, kamu dan Mas Gio kok belum makan?" Kiara yang tiba-tiba ada di sana membuat mereka terkejut.
"Em ... kita menunggu kamu, Sayang."
"Aku tadi sudah makan sup, dan tidak mau makan lagi. Oh ya, Mas, terima kasih untuk buah duriannya." Kiara memeluk suaminya. Arthur pun membalas pelukan istrinya dan menghadiahi sebuah kecupan manis pada dahi Kiara. Arthur seketika teringat ucapan bibi Yaya yang tadi mengatakan jika cobaan untuk Kiara pasti sangat berat saat bersamanya.
"Kiara, aku minta maaf karena tidak bisa ikut makan. Aku harus pergi karena ada urusan penting." Gio menyembunyikan amplop coklat itu.