
Manda menjelaskan jika Dean dari tadi mengigau memanggil nama papinya, tapi dia tidak mungkin bisa bertemu dengan papinya.
Manda tau jika Arthur adalah sosok yang sangat dikagumi Dean. Jadi, Manda minta tolong, siapa tau Dean keadaannya bisa lebih baik saat melihat Arthur.
"Aku akan segera ke sana."
"Pak Arthur, saya sekali lagi minta maaf sudah merepotkan."
"Tidak apa-apa, Manda."
Manda mengakhiri panggilan teleponnya dan Arthur sekarang mencoba menghubungi Kiara, tapi Kiara tidak menjawab panggilan teleponnya.
Kiara di apartemen sedang sibuk menyiapkan makan malam untuk dia dan suaminya. Ponselnya dia taruh di dalam kamar.
"Kiara ini di mana? Kenapa tidak menjawab panggilanku? Aku kirim pesan saja dan nanti aku akan menghubunginya lagi."
Arthur berangkat ke rumah sakit karena dia peduli pada si kecil Dean yang dari kecil sudah kehilangan sosok ayahnya.
Hal itu tentu saja pasti sangat menyakitkan dan menyedihkan. Arthur teringat akan dirinya yang ditinggal pergi oleh ibu yang paling dia sayangi.
"Mas Arthur ini ke mana lagi? Apa urusannya belum selesai? Bukannya tadi dia bilang mau perjalanan pulang."
Senyum yang dari tadi terlukis di wajahnya saat memasak dan menyiapkan makan malam, perlahan menghilang dan diganti dengan wajah sedih.
"Sudah jam sembilan malam dan Mas Arthur belum pulang." Kiara sampai merebahkan kepalanya di atas meja makan.
Kiara tiba-tiba tampak panik, di dalam pikirannya langsung terlintas hal buruk bisa saja terjadi dengan suaminya.
"Ponselku mana?" Kiara mencari ponselnya di saku celananya. Dia lalu teringat jika tadi dia meletakkan di atas meja di kamarnya.
Kiara yang tiba-tiba panik, langsung berlari menuju kamarnya dan mengambil ponselnya.
"Ada lima panggilan dan pesan dari Mas Arthur."
Kiara membaca pesan dari suaminya dan wajahnya tampak datar. Dia terduduk lesu di atas tempat tidur.
"Manda lagi. Aku tau Dean merindukan sosok ayahnya, tapi--."
Kiara bingung karena dia bukannya tidak ingin suaminya dekat dengan si kecil Dean, hanya saja Kiara takut hal itu akan membuat Arthur dekat juga dengan Manda.
"Aku harus bagaimana?" Kiara tampak bingung.
Tidak lama ponselnya berdering dan itu dari suaminya.
"Ara, kamu ke mana saja, Sayang? Aku dari tadi menghubungimu."
"Aku di apartemen, Mas, dan aku sedang menunggumu," ucap Kiara lirih.
"Sayang, kamu jangan marah dulu, bukannya aku sudah mengirim pesan dan menjelaskan kenapa aku datang terlambat."
"Iya, aku tau, Mas. Bagaimana keadaan Dean? Apa dia baik-baik saja?"
"Dia sudah mendingan, dan tadi aku sempat mengajaknya berbicara sebentar sampai akhirnya dia kembali tidur. Dia memanggil nama papinya terus, tapi aku sudah menjelaskan jika papinya tidak akan bisa datang. Kasihan sekali dia, Kiara."
"Katakan saja jika dia merindukan papinya, dia boleh memelukmu, Mas." Kiara berat sebenarnya mengatakan hal itu, tapi dia juga tidak tega pada bocah kecil itu.
"Aku bilang jika besok aku akan datang menjenguknya lagi dan membawakan mainan untuknya."
"Iya, Mas."
"Aku sebentar lagi pulang karena Dean juga sudah tidur dan semoga dia malam ini bisa tidur nyenyak."
"Iya, Mas. Tolong juga sampaikan salamku pada Mba Manda dan katakan aku doakan semoga Dean cepat sembuh."
"Nanti akan aku sampaikan."
Kiara mematikan panggilan teleponnya. Arthur menyampaikan apa yang Kiara pesankan. Manda mengucapakan terima kasih karena sudah perhatian dengan putranya.
"Manda, besok aku akan ke sini membawa mainan sesuai janjiku pada Dean. Kamu nanti katakan saja padanya jika dia mencariku."
"Iya, Pak Arthur. Sekali lagi terima kasih dan saya minta maaf sudah mengangguk waktu Pak Arthur dengan Kiara."
Tangan Arthur mengusap lembut pundak Manda. Arthur melihat Manda terlihat sedikit tidak baik.
"Kamu tidak perlu khawatir, selama aku bisa membantumu, aku akan membantumu dan Dean. Kalau begitu aku permisi dulu."
"Andai aku bertemu dia dulu sebelum Kiara bertemu dengannya, aku akan berusaha untuk mendapatkan hatinya. Dia benar-benar pria yang baik."
Arthur yang sudah sampai apartemen langsung naik ke lantai atas. Dia masuk ke dalam dan saat melewati ruang makan, Arthur melihat makan malam yang sudah Kiara siapkan.
"Dia sepertinya juga tidak menyentuh makanannya sama sekali."
Arthur berjalan masuk ke dalam kamarnya dan melihat Kiara yang sedang tertidur membelakanginya.
"Ara, kamu sudah tidur?" Arthur mencoba bertanya, tapi dia tidak mendapat jawaban.
Arthur mendekat dan dia melihat istrinya sudah memejamkan kedua matanya. Arthur mengecup kening Kiara dan menutupi tubuhnya dengan selimut.
Arthur masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri. Kiara yang tau Arthur berada di dalam kamar mandi membuka kedua matanya. Dia sebenarnya belum tidur, tapi hati dan pikirannya sedang tidak karuan. Jadi, dia memilih untuk pura-pura tidur saja agar malam ini mereka berdua tidak bicara dulu.
Arthur yang baru keluar dari kamar mandi dia kemudian berbaring di atas tempat tidur dan tidur dengan memeluk Kiara dari belakang.
"Aku minta maaf jika hari ini membuatmu merasakan hal yang tidak nyaman, tapi asal kamu tau jika aku sangat mencintaimu dan ingin sekali membuat kamu selalu bahagia di sampingku."
Kiara hanya diam dengan kedua mata yang terbuka. Dia masih mencoba menenangkan hatinya.
"Kiara, aku tau kamu marah padaku karena itu kamu malam ini tidak ingin bicara padaku dan memilih berpura-pura tidur. Mungkin tidur akan membuat pikiran kita menjadi lebih tenaga."
Arthur ternyata tau jika Kiara belum tidur. Kiara perlahan berbalik dan melihat pada suaminya.
Arthur sekarang dapat tersenyum kecil. "Kenapa kamu tersenyum? Ada yang lucu?"
"Tidak ada, hanya saja aku senang melihat wajahmu yang tampak malu karena ketahuan sedang berpura-pura tidur."
"Ih!" Kiara malah memukul dada Arthur karena kesal diledek oleh suaminya itu.
"Kenapa berpura-pura tidur?"
"Aku tidak berpura-pura, tapi memang aku tidak bisa tidur dari tadi."
"Kenapa tidak bisa tidur?"
"Banyak sesuatu yang sangat mengganggu di atas kepalaku, Mas."
"Katakan! Apa yang bisa aku lakukan supaya kamu bisa tidur dengan nyenyak?"
Kiara terdiam sembari menatap Arthur dengan lekat. "Semua karena kamu, Mas."
"Kenapa aku?"
Kiara berbalik badan dan mengambil ponselnya. Kiara tampak sibuk dengan ponselnya.
"Siapa yang kamu peluk seenaknya itu, Mas?"
"Oh God! Bagaimana kamu bisa memiliki foto itu?" Arthur tidak percaya jika kegiatannya dengan Belinda akan di abadikan oleh seseorang tanpa sepengetahuannya.
"Jelaskan saja siapa dia, Mas? Kamu tidak sedang mencari alasan karena ketahuan berselingkuh di belakangku."
"Kalau aku berselingkuh, aku akan dengan rapi, Serapi-rapinya agar kamu tidak akan tau."
"Ih! Menyebalkan!" Kiara kembali memukul Arthur dengan manja untuk melampiaskan kekesalannya.
"Dia Belinda, Kiara."
"Apa? Dia Belinda anak dari sahabat mama kamu?"
"Iya, dan apa yang kamu pikirkan tentang dia memang benar."
"Maksud kamu?"
"Dia memang akan dijodohkan denganku, dan itu salah satu tujuannya datang ke sini selain ada urusan pekerjaan."
"Apa? Kamu serius, Mas? Lalu, apa yang kamu katakan?"
"Aku mengatakan kalau aku setuju jika akan dijodohkan dengannya karena bagaimanapun juga Belinda gadis yang cantik dan bisa dibilang idaman setiap pria."
"Mas, aku membencimu!" Kiara yang tiba-tiba menangis dan ingin berbalik badan, dengan cepat ditahan oleh tangan Arthur. "Tangan Kamu minggir, Mas!" isaknya.