Be Mine

Be Mine
Perasaan Para Lelaki part 1



Tante Maura meninggalkan Arthur dan Kiara yang sekarang saling memandang.


"Mas, ada apa? Kenapa kamu melihatku seperti itu?"


"Kiara, aku mau bertanya sesuatu sama kamu?"


"Mau bertanya saja wajahnya seperti mau menelan aku saja. Ada apa sih, Sayang?"


"Apa saja yang kamu lakukan bersama dengan Mega di kamarnya?"


Kiara agak kaget mendengar pertanyaan suaminya. "Memangnya kenapa Mas bertanya hal itu? Aku dan Mega tidak melakukan apa-apa."


"Apa yang kalian bicarakan?"


Kiara melihat heran pada suaminya. "Mas tidak boleh tau karena ini pembicaraan sesama wanita dan agak sensitif."


"Oh ... jadi mulai main rahasia sama aku."


"Bukan begitu, Sayang, tapi ini hal yang sangat pribadi dari adik kamu dan aku tidak bisa bercerita sama kamu, Mas. Memangnya ada apa sih, Mas? Kenapa Mas bertanya seperti itu?"


"Sayang, apa di acara mamaku waktu itu tidak ada hal yang membuat kamu shock atau terkejut? Aku mohon kamu bicara jujur sama aku." Tatap Arthur serius.


Kiara terdiam sejenak. Dia bingung kenapa suaminya tampak sangat serius bicara dari tadi.


"Kemarin memang aku sangat karena Mega bercanda dengan memberiku sebuah kotak yang katanya mau ditunjukan sama aku, tapi ternyata kotak itu isinya mainan boneka yang seram keluar dari kotak dengan mengejutkan. Aku sangat kaget, tapi Mega waktu itu hanya bercanda saja denganku."


Arthur melepaskan pegangan tangannya pada tangan Kiara. Dia mengambil napasnya panjang dan mengembuskannya pelan.


"Terima kasih kamu sudah mau jujur padaku." Sekarang tangan pria itu mengusap kepala istrinya.


"Mas, ada apa sih? Apa Mas marah dengan apa yang Mega lakukan? Mas, Mega hanya bercanda dan aku tidak marah dengan hal itu."


"Aku tau, aku juga tidak marah."


"Mas jangan bohong! Muka kamu saja seperti menyimpan kesal begitu."


"Aku tidak marah, Sayang." Arthur mencubit kecil hidung istrinya.


Tidak lama ponsel Arthur berdering dan dia mendapat telepon dari sekretarisnya untuk datang ke kantor karena ada dokumen yang membutuhkan tanda tangannya hari ini juga.


"Mas ke kantor saja, aku sudah baikkan di sini. Lagi pula ada Tante Maura yang menjagaku."


"Baiklah! Aku akan ke kantor dan setelah selesai aku kan kembali ke sini. Oh ya! Nanti bibi Yaya juga akan ke sini."


"Bibi Yaya sudah tau aku di sini?"


"Iya, dia kemarin dari sini dan sebenarnya ingin menginap, tapi aku tidak mau membuat dia malah repot dan kecapean, jadi aku minta dia pulang saja."


"Ya sudah! Mas sekarang ke kantor saja, dan jangan mengkhawatirkan aku dan bayimu di sini."


"Ya sudah, kalau begitu aku pergi dulu. Oh ya! Kiara, kamu jangan memberitahu Mega atau mamaku jika kamu sedang dirawat di sini."


"Kenapa tidak boleh, Mas?"


"Aku tidak mau membuat mereka khawatir dan datang ke sini, lagi pula besok kamu pulang."


"Oh iya, Mas."


"Ingat kata-kataku, Kiara," tegas Arthur.


"Iya, Mas." Kiara ini merasa suaminya agak aneh saat menegaskan tidak boleh memberitahu keadaannya pada Mega.


Arthur mengecup kening dan perut wanita yang sangat dia cintai itu kemudian dia melangkah pergi dari sana.


"Mas Arthur itu aneh sekali. Kenapa seolah Mega dan Mamanya tidak boleh tau akan aku, tapi aku lebih baik menurut saja, daripada dia nanti marah."


***


Kiara di sana ditemani oleh Bibi Yaya. Kiara tampak makan dengan lahap masakan yang dibuatkan oleh Bibi Yaya, bahkan wanita paruh baya yang sudah menganggap Kiara seperti anaknya sendiri itu menyuapi Kiara.


"Momo! Kamu benaran datang ke sini!"


Momo berlari kecil dan langsung memeluk Kiara. "Senang sekali bisa bertemu sama kamu lagi, Kiara."


"Aku juga senang bisa bertemu kamu lagi."


"Aku kira hari ini kita bisa bertemu di kampus, tapi ternyata malah kamu sakit."


"Aku juga tidak tau kalau bakal seperti ini, padahal hari ini adalah hari yang aku tunggu. Aku sudah membayangkan masuk kuliah dan mulai belajar, tapi ternyata seperti ini."


"Kata Tanteku orang hamil memang sering sakit, apa lagi kehamilan semester pertama."


"Kok semester sih! Trimester pertama, Momo!" Kiara sampai terkekeh.


"Iya itu maksudku. Aku kan memang belum pernah hamil, jadi tidak tau sebutannya itu."


Kiara sekarang menjatuhkan pandangannya pada lelaki yang berdiri terdiam di dekat pintu sembari melihat ke arahnya.


"Kiano, kamu juga datang ke sini?"


"Iya, dia tadi aku ajak untuk mengantarkan aku setelah aku menghubungi kamu dan tau kamu dirawat di sini. Kiano, kenapa kamu malah berdiri di sana?"


Kiano berjalan perlahan mendekat pada Kiara dan Momo. "Hai, Kiara, bagaimana keadaan kamu saat ini?"


"Aku dan bayiku baik, Kiano. Terima kasih sudah mau datang menjengukku."


Kiano menganggukkan kepalanya perlahan. "Oh ya! Ini untuk kamu, Kiara." Kiano memberikan paper bag pada Kiara.


"Ini apa?" Kiara menerima dan melihat isi di dalamnya. "Cup cake? Aku suka sekali cup cake!" seru Kiara senang.


"Syukurlah kalau kamu suka, soalnya tadi aku pusing memikirkan membawa apa untuk menjenguk kamu, tapi Kiano bilang coba bawakan saja cup cake karena dia sendiri juga suka cup cake dan ternyata selera kalian sama, tapi sayang kalian tidak berjodoh." Momo malah terkekeh.


"Momo, jaga bicara kamu," ucap Kiano terdengar kesal.


"Aku hanya bercanda, Kiano. Kenapa kamu serius sekali? Kiara saja tau kalau aku hanya bercanda. Kiara memang lebih pantas dengan om ganteng Arthur itu." Kedua alis Momo naik turun dan dia tunjukan pada Kiara. Kiara hanya bisa tersenyum lebar.


"Kiara, Bibi akan belikan kalian minuman sebentar. Kalian silakan berbincang dulu."


"Terima kasih ya, Bi."


"Bibi tidak perlu repot-repot."


"Tidak apa-apa, Kiano. Kalian mengobrollah."


Bibi Yaya keluar dari ruangan Kiara untuk pergi ke supermarket yang ada di dekat klinik milik mamanya Morgan.


"Bibi Yaya, Kiara apa benar dirawat di sini? Dia kenapa?" Tiba-tiba Bibi Yaya disapa oleh Mega yang datang dengan Elang.


"Iya, Kiara dirawat di sini karena ada masalah dengan kandungannya, Mega." Bibi Yaya ini terlihat tidak welcome melihat Mega di sana.


"Apa Kiara keguguran, Bi?" tanya Mega dengan wajah penasaran dan seolah-olah khawatir.


"Kiara dan bayinya baik-baik saja. Mereka berdua sangat sehat."


Mega seketika mengubah ekspresinya. "Syukurlah kalau begitu. Aku sangat khawatir saat diberitahu Elang jika Kiara dirawat di klinik mamanya Morgan."


"Bi, apa kami bisa bertemu Kiara?"


"Tentu saja, kalian cari saja ruangan dengan nomor 2, di situ Kiara dirawat, di sana juga ada teman kuliah Kiara yang baru saja datang untuk menjenguknya."


"Teman kuliah Kiara?"


"Iya, tadi mereka menghubungi Kiara karena seharusnya hari ini Kiara masuk kuliah, tapi Kiara tidak masuk. Saat mereka tau Kiara sakit, mereka datang ke sini."


"Oh ya sudah! Terima kasih, Bi. Mega, ayo kita ke sana." Elang menggandeng tangan Mega berjalan menuju kamar Kiara. Bibi Yaya yang melihat hal itu tampak memikirkan sesuatu.