
Kiara menunggu panggilannya dijawab oleh Elang, tapi tampaknya Elang tidak mendengar panggilan Kiara, buktinya sudah lima kali Kiara mencoba menghubungi Elang, tapi tidak mendapat jawaban dari Elang.
"Pasti lelaki tadi itu Elang, dia takut menjawab panggilanku karena sudah ketahuan dengan wanita lain," celoteh Kiara.
Momo yang melihat sampai mengerutkan dahinya heran. "Kiara, kamu sebenarnya cemburu kalau Elang dengan wanita lain?"
"Hah? Cemburu? Siapa yang cemburu?"
"Itu! Sikap kamu seperti orang yang cemburu tau kekasihnya selingkuh sama cewek lain."
Kiara menghela napasnya panjang. "Apa kamu itu lupa kalau Elang calon suami adik sekaligus sahabat aku? Aku itu peduli sama Mega, Momo. Kasihan Mega kalau memang benar Elang punya wanita lain apa lagi mereka besok menikah loh!"
"Iya juga sih! Eh, tapi apa Elang memang tipe cowok yang suka selingkuh waktu pacaran sama kamu dulu?"
Kiara terdiam sejenak. Dia teringat jika waktu masih pacaran dengannya, Elang pernah berselingkuh dan bahkan berciuman dengan Mega. Mungkin saja sekarang Elang juga berselingkuh, tapi Elang sekarang terlihat sangat menyukai Mega? Kiara jadi bingung.
"Bumil! Kenapa malah bengong lagi? Elang pernah ya berselingkuh? Kalau pernah, tidak salah kalau sekarang dia berselingkuh, apa lagi calon istrinya seperti Mega. Jujur saja, Kiara, aku tidak suka sama adik iparmu itu."
"Elang tidak mungkin berselingkuh. Aku tadi pasti salah melihat."
"Semoga saja. Ya sudah, sebaiknya kita pulang saja sekarang, kamu hubungi suamimu agar menjemputmu di sini."
Kiara menghubungi suaminya dan satu jam kemudian Arthur datang, dia mengajak Kiara pulang, sedangkan Momo memilih pulang sendiri karena dia mau ke suatu tempat.
Sayang, kamu kenapa dari tadi diam saja?" tanya Arthur yang melihat dari tadi istrinya hanya diam saja.
"Aku tidak apa-apa, Mas, aku hanya lelah saja."
Kiara tidak mau menceritakan jika dia melihat lelaki yang dia duga adalah Elang dengan wanita lain.
Sesampai di apartemen dia disambut oleh Bibi Yaya. Kiara duduk sejenak di sofa ruang tengah dan suaminya izin ke ruang kerja karena ada pekerjaan yang mau dia selesaikan.
"Bagaimana jalan-jalannya?" Bibi Yaya bertanya sembari memberikan segelas air minum.
"Menyenangkan dan ...." Kiara melirik pada bibi Yaya.
"Dan apa? Apa terjadi sesuatu yang kamu tidak bercerita pada Arthur?"
Kiara menganggukkan perlahan kepalanya. Bibi Yaya seketika duduk di sebelah Kiara karena dia merasa jika hal ini pasti nanti akan membuat Arthur dan Kiara bertengkar lagi.
"Bi, aku mau ceritakan sesuatu sama Bibi, tapi Bibi jangan bicara sama Mas Arthur."
"Kamu itu selalu membuat bibi dalam pilihan yang sulit."
"Tidak begitu, Bi." Kiara yang manja malah memeluk Bibi Yaya.
"Ya sudah, sekarang ceritakan sama Bibi ada apa?"
Kiara menceritakan semua yang terjadi tadi saat dia bersama dengan Momo, sampai dia juga yang hampir jatuh, tapi berhasil ditolong oleh pengawal Arthur.
"Ya ampun, Kiara! Kenapa kamu sampai ceroboh seperti itu? Bagaimana kalau tadi kamu jatuh?"
"Aku memang tadi ceroboh, tapi memang aku penasaran sama lelaki yang aku kira Elang itu."
"Iya, tapi tetap saja kamu itu harus berhati-hati karena kamu sedang mengandung!"
"Iya, Bi, aku minta maaf, lain kali aku tidak akan ceroboh, sekarang yang aku pikirkan tentang siapa wanita yang bersama Elang. Dia akan menikah dengan Mega dan tidak pantas jika Elang jalan dengan wanita lain."
"Semoga saja lelaki itu bukan Elang, Bi karena kasihan Mega kalau sampai Elang memiliki wanita lain."
Kiara ini sebenarnya di dalam hatinya antara tidak percaya jika Elang memiliki selingkuhan dan dia tetap berharap semoga yang tadi dia lihat bulan Elang.
"Sayang, apa kamu mau pergi ke hotel di mana acara Mega akan berlangsung?"
Tiba-tiba suara Arthur terdengar di belakang mereka. "Pergi ke hotel? Memangnya kita disuruh ke sana? Bukannya Mas bilang kita akan hadir sebagai tamu saja dan tidak ikut dalam acara Mega."
"Tadi, ayah menghubungi dan menyuruh kita ke hotel karena ingin bertemu dan makan malam bersama. Kamu tau sendiri jika ayahku sangat menyayangi menantu dan calon cucunya itu."
Kiara tampak tersenyum senang karena memang ayah mertuanya itu sangat menyayanginya seperti anaknya sendiri. "Iya aku mau, Mas."
"Ya sudah! Kamu bersiap-siap dulu karena aku masih mau menghubungi Gio untuk bertanya soal restoran."
Kiara segera bersiap-siap dan tidak membutuhkan waktu lama dia sudah siap. Arthur mengajak Kiara datang ke hotel dan di sana ayahnya sudah menunggu dengan Alexa dan Mega, dan ada beberapa keluarga juga.
"Mega, bagaimana perasaan kamu menjelang hari pernikahanmu besok?" tanya Kiara.
"Tentu saja aku merasa sangat bahagia Kiara. Akhirnya aku akan menikah dengan lelaki yang menjadi dewa penolongku dulu. Elang akan menjadi milikku selaman dan tidak akan ada yang bisa mengambilnya dariku." Mega melirik pada Kiara dan tidak lama dia pura-pura tersenyum.
Kiara yang mendengar ucapan Mega teringat kembali dengan sosok lelaki dengan wanita yang menggandengnya mesra.
"Oh ya, apa kamu sudah bertemu Elang? Bagaimana perasaan dia?" Kiara mencoba mencari tau tentang Elang apa bertemu dengan Mega.
"Kiara, aku dan Elang akan menikah, jadi kami berdua tidak boleh bertemu dulu, lagi pula Elang berada di luar kota untuk menyelesaikan sedikit urusan bisnisnya dan mengundang beberapa rekan kerjanya yang ada di sana."
"Di luar kota?" Kiara wajahnya tampak lega karena mendengar hal itu. Jadi tadi bukan Elang.
"Iya, tapi dia malam ini pulang."
Kiara mengangguk dan dia kemudian melanjutkan makannya.
Tidak lama orang yang tadi Kiara dan Mega bicara tiba-tiba datang ke restoran di mana keluarga besar Arthur berada.
"Selamat malam semuanya," sapanya ramah.
"Elang? Kamu kenapa malah datang ke sini?" tanya Alexa terkejut.
"Maaf, Mama Alexa, mungkin aku salah karena seharusnya aku tidak bertemu calon istriku sampai nanti kamu menikah, tapi aku merindukan Mega jadi, aku datang ke sini."
"Elang!" seru Mega dengan wajah malunya dan dia segera beranjak dari tempatnya memeluk Elang dengan erat. Elang pun membalas pelukan Mega.
"Kamu itu! Kenapa tidak sabar menunggu besok? Besok kalian akan dinyatakan sebagai suami istri dan kamu bisa tiap hari melihat Mega."
"Tidak apa-apa, Ma sebentar saja. Kamu ada apa ke sini, Lang?"
"Mega, aku ke sini ingin memberikan kalung ini untuk kamu, dan aku berharap kamu bisa memakainya di hari pernikahan kita."
Mega melihat kalung yang ada di dalam kotak berwarna hitam dan kalung itu sangat indah. "Ini bagus sekali, Lang."
"Sewaktu aku di luar kota, aku melihat kalung ini dan entah kenapa aku menyukainya, makannya aku belikan untuk kamu."
"Pasti akan aku pakai di hari pernikahan kita." Mega sekali lagi memeluk Elang dengan erat.
Kiara yang melihat hal itu sedikit terkejut. Bukan karena sikap Elang pada Mega, tapi baju yang dipakai Elang kenapa sama dengan lelaki yang sempat dia lihat di mall tadi.