
Kiara menyipitkan kedua matanya melihat pada suaminya, Kiara curiga kenapa Arthur bertanya mana yang bernama Kiano?
"Memangnya Mas mau apa?"
"Aku tidak mau apa-apa, aku hanya ingin tahu saja. Di Itu pria yang seperti apa?" Mereka berdua melihat ke arah meja Kiano, dan Kiano yang tahu diperhatikan oleh Kiara dan juga Arthur bersikap seolah dia tidak tau.
"Apa Kiano yang memakai baju hitam itu?" Kiara mengangguk perlahan. "Tampan juga dia. Kiara, menurut kamu tampan Kiano, atau aku?" tanya Arthur pada Kiara.
Kiara melihat ke arah Kiano, kemudian berpindah pada suaminya.
"Tampan Kiano, dia juga masih muda, baik, lembut tidak suka marah-marah seperti Mas," ujar Kiara panjang.
"Apa? Jangan bercanda, Sayang." Wajah Arthur sudah mulai tidak enak dipandang.
"Aku serius. Dia memang tampan, tapi sayang aku tidak tertarik karena bagiku di dunia ini hanya wajah suamiku yang tertampan."
"Kamu sejak kapan pandai merayu seperti itu?"
"Aku tidak sedang merayu. Aku mengatakan hal yang serius."
"Apa kamu juga sangat mencintai pria yang bagimu sangat tampan ini?"
"Tentu saja, Mas, kenapa harus bertanya?"
"Buktikan kalau kamu benar-benar mencintaiku."
"Bukti? Mas tidak percaya selama ini aku mencintai Mas?"
"Cium aku, maka aku akan lebih percaya lagi."
"Nanti di apartemen aku akan mencium setiap inchi tubuh Mas."
"Cium aku di sini, Kiara," ucapnya terdengar tegas.
"Apa? Di sini? Tapi ini di tempat umum, Mas."
"Memangnya kenapa? Kita sudah menikah, apa salahnya?"
"Mas ini! Jangan bercanda!"
"Aku serius, apa salahnya kalau kita berciuman sedikit untuk memperlihatkan betapa sayangnya kamu sama suamimu?"
Arthur ini ingin Kiano ataupun Elang melihat jika Kiara itu miliknya. Dia benar-benar masih cemburu terutama pada Kiano.
"Tidak mau, Mas! Aku malu. Nanti saja saat kita pulang."
"Kalau begitu, biar aku yang mencium kamu."
"Mas!" Kiara agak takut, tapi dia juga tidak bisa menolak suaminya.
Arthur mengecup lembut kening Kiara. Kiara yang merasakan ciuman lembut di keningnya tampak tersenyum haru.
"Mas ini, buat aku takut saja."
"Memangnya kamu kira aku mau mencium apa? Bibir kamu? Nanti saja di apartemen, aku akan mencium setiap inchi tubuh kamu."
"Itu kan kata-kataku, Mas."
Di meja keluarga Arthur. Kella tampak tersenyum meremehkan melihat apa yang Arthur lakukan pada Kiara.
"Alexa, sepertinya putramu itu sudah benar-benar tersihir oleh gadis miskin dan tidak tau diri itu."
"Aku tidak tau, apa yang ada di dalam pikiran Arthur sampai mau menikahi gadis itu? Banyak wanita kelas atas dan cantik-cantik yang ingin menikah dengannya, tapi putraku benar-benar bodoh bisa memilih gadis seperti Kiara." Alexa melihat ke arah meja Arthur dengan tatapan nyalang.
"Lalu, soal wanita yang bernama Selena itu bagaimana? Apa kalian tidak jadi kerja sama untuk membuat Arthur meninggalkan Kiara?"
"Gadis itu benar-benar akan hidup bahagia menjadi Nyonya Arthur." Kella tersenyum sinis.
Mega pun merasa ada hal yang membuatnya kesal melihat Kiara dan kakaknya yang tampak bahagia. "Bukan ini yang aku inginkan sebenarnya. Aku ingin Kiara menderita karena kejadian itu, tapi kenapa dia malah bahagia ?" gerutunya lirih.
Di meja Kiano, Delia tampak terkejut melihat saat Arthur mengecup kening Kiara. "Kiano, itu gadis si ijo lumut yang sering kamu tolong, Kan? Apa aku salah lihat?"
"Iya, itu Kiara," jawab Kiano tanpa melihat ke arah Kiara dan Arthur.
"Oh my God! Itu kekasihnya? Wow! Pandai sekali dia mencari pacar. Pacarnya itu seperti orang kaya, tapi yang membuat aku kaget, pacarnya sangat tampan."
"Apa acaranya sudah selesai? Kalau sudah selesai, aku mau pergi dulu." Kiano beranjak dari tempat duduknya.
"Kamu mau ke mana sih, Kiano? Kenapa terburu-buru?" Wajah Delia sudah terlihat kecewa.
"Aku harus pergi karena aku ada urusan yang lebih penting. Lagi pula kamu ada yang lainnya dan pacar kamu. Terima kasih sudah mengundangku. Bye, semua." Kiano berjalan pergi dari sana. Dia tampak terlihat dingin keluar dari restoran itu.
"Kiano kenapa, Del?" tanya salah satu teman mereka.
Delia hanya bisa mengangkat bahunya ke atas. "Aku tidak tau." Delia sekarang melihat ke arah meja Kiara. "Apa dia cemburu atau patah hati mengetahui Kiara sudah punya pacar?"
***
Pagi itu Kiara yang sudah bangun tampak kaget melihat jam. "Ya ampun! Aku telat ini. Mas Arthur sih! Kenapa semalaman malah mengajak bermain-main dengan mengecupi seluruh tubuhku? Mana dia membuat leherku ada tanda merahnya," omel Kiara marah.
"Kamu kenapa marah-marah?" Arthur jadi terbangun mendengar omelan pagi-pagi istrinya."
"Lihat ini, Mas! Leherku ada tanda merahnya, aku pasti malu kalau nanti masuk kuliah."
"Kamu lupa kalau aku sudah mengizinkan kamu tidak mengikuti OSPEK?"
Kiara yang baru sadar akan hal itu, melihat kaget pada suaminya. "Oh iya! Aku lupa kalau aku tidak dibolehkan Mas ikut OSPEK. Lalu, aku harus ngapain seharian di sini?" Wajah Kiara terlihat murung.
"Bagaimana kalau kita bercinta lagi saja?" Arthur menidurkan lagi tubuh Kiara.
"Mas! Tidak mau, aku capek! Mas lupa kalau aku sedang hamil dan kata Tante dokter aku tidak boleh dibuat terlalu capek."
"Berciuman saja kalau begitu."
"Aku mau membuat sarapan saja untuk kamu. Apa Mas lupa kalau hari ini ada rapat penting?
Arthur melihat ke arah jam tangannya dan dia tampak kaget. "Sayang, aku mandi dulu." Arthur segera berlari ke kamar mandi setelah memberikan ciuman kilat pada bibir Kiara."
"Sukurin!" Kiara tampak kesal dengan suaminya itu. Dia kemudian mencuci mukanya dan turun ke dapur. Di sana ternyata ada Bibi Yaya yang sudah menyiapkan sarapan pagi buat mereka.
"Pagi Kiara."
"Pagi, Bi. Aromanya harum sekali."
"Bibi membuatkan sup yang sehat untuk kamu dan calon cucu Bibi. Mau makan sekarang?"
"Nanti saja, Bi. Aku sebenarnya mau membuatkan nasi goreng buat Mas Arthur soalnya semalam dia bilang ingin dibuatkan nasi goreng untuk sarapan pagi. Dia kangen nasi goreng buatanku."
"Tapi nasinya sudah Bibi buat camilan, Kiara. Maaf, Bibi tidak tau."
"Tidak apa-apa, Bi. Kita sarapan ini saja. Lain kali bisa aku buatkan."
Arthur yang turun dari kamarnya mengatakan minta maaf karena dia tidak bisa ikut sarapan pagi. Dia ada rapat dua kali hari ini dan keduanya adalah rapat yang sangat penting.
"Sayang, aku pergi dulu, ya. Kamu jangan ke mana-mana. Jika ingin pergi harus meminta izinku dulu." Arthur mengecup dahi Kiara dan berpamitan pada Bibi Yaya.
"Hati-hati, Mas."