Be Mine

Be Mine
Si Penghilang Masalah



Saat membuka pintu kamarnya, Arthur melihat Kiara yang sedang tidur dengan posisi membelakanginya.


"Sayang, apa kamu tidur?"


Kiara yang mendengarkan suara panggilan suaminya, seketika membalikkan badannya dan dengan cepat dia beranjak dari tempat tidurnya, berlari kecil untuk ingin segera memeluk suaminya.


"Mas!" Kiara tampak memeluk suaminya dengan erat.


"Sayang! Kamu jangan berlarian seperti itu! Ingat kalau kamu sedang hamil."


"Mas kenapa lama sekali pulangnya? Aku ingin kangen sama kamu, Mas." Kiara seolah tidak mau melepaskan pelukannya.


"Ara, aku kemarin sudah bilang sama kamu kalau aku hari ini ada banyak sekali pekerjaan."


Kiara menarik tubuhnya sedikit agar dapat melihat wajah suaminya dengan lebih jelas. "Tapi aku sedang membutuhkan kamu, Mas."


Arthur seketika mengangkat tubuh istrinya ke depan sehingga kedua kaki Kiara melingkar pada pinggangnya. Arthur dengan lembut memberikan sebuah ciuman tepat pada bibir Kiara.


"Ada apa?" tanya Arthur sesaat setelah dia melepaskan ciumannya pada bibir Kiara.


"Mas, tidak capek menggendongku seperti ini?" Kiara melingkarkan kedua tangannya pada leher Arthur.


"Terus? Kamu maunya bagaimana? Mau aku duduk dengan masih posisi seperti ini atau aku tetap berdiri dan aku sandarkan kamu pada dinding?"


Kedua mata Kiara mendelik mendengar apa yang baru saja suaminya katakan. "Mas ini! Kenapa malah mengarah pada hal yang belum boleh dilakukan?" Kiara yang kesal memukul pelan dada suaminya.


Arthur sejak kenal dan menikah dengan Kiara dia menjadi sosok yang menyenangkan dan hangat, beda sekali dengan Arthur yang dulu. Kiara pun sangat nyaman di samping Arthur karena pria itu selalu bisa membuat Kiara tersenyum di tengah masalah dan kesedihan yang Kiara rasakan.


"Mas, kamu duduk saja karena aku tidak mau kamu capek, atau turunkan aku saja."


"Kita duduk saja." Arthur yang masih menggendong Kiara membawa Kiara dan dia duduk di atas tempat tidur. "Kamu nyaman, kan? Karena aku sangat nyaman."


"Tentu saja kamu nyaman."


"Ya sudah kamu sekarang bisa bercerita ada apa? Karena sepertinya ada hal yang membuat mata kamu kembali sembab seperti ini." Tangan Arthur menunjuk pada kelopak mata Kiara.


"Apa Bibi Yaya tidak bercerita sama, Mas?"


"Bercerita, tadi bibi Yaya hanya bilang kalau kamu menangis setelah adikku dari sini. Apa kamu tidak mau bercerita pada suamimu ini?"


"Tentu saja mau, Mas. Kalau sudah bercerita sama kamu itu membuat hatiku lega, tapi janji dulu kalau Mas tidak boleh marah atau melakukan apapun."


"Aku berjanji."


Kiara akhirnya menceritakan semua yang Mega katakan padanya tadi, bahkan Kiara juga meminta maaf karena sudah menampar Mega karena Kiara sangat marah dengan ucapan Mega.


Arthur sama sekali tidak marah karena sikap Kiara masih batas wajar dan Mega juga seharusnya menjaga ucapannya pada Kiara yang sekarang adalah kakak iparnya.


Wajah Arthur masih terlihat datar, mungkin yang mengatakan hal itu adalah adiknya. Bagaimanapun juga Arthur itu sangat menyayangi adiknya, walaupun mereka bukan saudara kandung, tapi mereka pernah tumbuh bersama.


"Aku akan menemui Mega dan mengajaknya bicara baik-baik. Aku akan menjelaskan semuanya agar dia paham dan mengerti."


"Apa dia akan mau mendengarkan kamu, Mas? Aku melihat dia sepertinya sudah tidak ingin mendengar apapun tentang aku."


Jari pria itu mengusap lembut rambut Kiara yang nyempil di depan dan dia menelungsupkannya di belakang telinga Kiara.


"Mas, aku tidak mau melihat kamu dan Mega bertengkar. Kamu tidak perlu memaksanya jika dia tidak mau menerimaku karena aku akan mencoba memahami dirinya. Lagi pula aku tidak akan mau meninggalkan Mas walaupun mereka menawariku uang yang sangat banyak karena uang mas Arthur lebih banyak dari mereka." Kiara tersenyum genit setelah mengatakan hal itu, dia sengaja menggoda suaminya agar suasana di sana tidak terlalu tegang.


"Oh... Jadi ini maksud utama kamu mau menikah denganku?"


"Tentu saja, Mas! Memang Mas mengira apa lagi selain aku mencintaimu, apa lagi aku akhirnya bisa mengandung calon pewaris Lukas," kata Kiara dengan menunjukkan wajah sombongnya.


"Baiklah, kalau begitu aku pasrah saja dan menerima semuanya. Aku tidak menyesal sudah menikahimu, asal jangan pernah meninggalkan aku."


"Tidak akan, Mas." Kiara mengecup bibir suaminya dan mereka berciuman selama beberapa menit.


"Arthur... Kiara," panggilan bibi Yaya dari depan pintu membuat dua orang itu seketika melepaskan kecupannya.


"I-iya Bi," jawab Kiara cepat. Dia juga segera beranjak dari pangkuan Arthur. Kiara yang akan berlari ke arah pintu ditahan perutnya oleh tangan Arthur.


"Jalan, Kiara. Kamu jangan berlarian seperti itu, kalau kamu tidak mendengarkan, aku akan menyuruh bibi Yaya menjaga kamu agar jangan sampai turun dari tempat tidur."


"Iya, Mas, maaf aku terburu-buru."


Kiara seketika mendekat ke arah pintu dan di sana ada bibi Yaya yang berdiri di depan pintu kamar yang tidak tertutup rapat.


"Kiara, kamu belum makan dari tadi. Sebaiknya sekarang kamu dan suamimu turun karena bibi sudah menyiapkan makanan untuk kalian."


"Iya, Bi, aku dan Mas Arthur akan segera turun. Terima kasih ya, Bi."


"Sama-sama. Oh ya! Kalau mau berciuman atau melakukan hal yang romantis, jangan lupa tutup pintunya." Bibi Yaya tersenyum lalu berjalan pergi dari sana.


Wajah Kiara seketika merona malu mendengar apa yang barusan Bibi Yaya katakan.


Saat Kiara dan Arthur makan bersama, bel pintu apartemennya berbunyi. Bibi Yaya bergegas membuka pintunya.


"Kalian siapa?" tanya bibi Yaya melihat ada tiga wanita berpenampilan rapi dan tampak seperti wanita kelas menengah.


"Apa benar Kiara tinggal di sini? Kalau iya, kami ingin bertemu dengannya," ucap salah satu dari mereka.


"Memangnya kalian siapa dan mau apa bertemu dengan Kiara?" Bibi Yaya ini curiga jika ketiga wanita ini nanti mengaku sebagai kekasih Arthur agar Kiara marah dan cemburu.


"Kami ingin bertemu Kiara karena kami ingin minta maaf sama dia."


"Minta maaf? Memangnya kalian sudah berbuat apa pada Kiara?"


Arthur yang penasaran siapa tamu yang datang segera menyusul bibi Yaya, tapi dia tidak memperbolehkan Kiara untuk ikut. Kiara disuruh menghabiskan dulu makannya. Arthur benar-benar sangat menjaga istrinya dari segala hal.


"Ada apa, Bi, dan siapa mereka?"


"Kami orang-orang yang sudah berbuat buruk pada istrimu saat di pesta pertunangan adikmu dan kami datang ke sini untuk meminta maaf."


Rahang tegas Arthur seketika mengeras mendengar pengakuan para wanita itu. Sorot matanya menatap tajam seolah ingin ******* para wanita di depannya itu. Jika saja mereka bukan seorang wanita, Arthur pastikan mereka akan dihajar habis-habisan oleh Arthur.


"Jadi, kalian berani juga datang ke sini?"


"Kami ingin minta maaf sama istri kamu, Arthur."


"Arthur? Panggil aku Pak atau Tuan Arthur, dan panggil istriku dengan sebutan yang baik dan terhormat karena dia wanita yang terhormat."