Be Mine

Be Mine
Menjaga Istri



Tdak lama hasil lab Kiara keluar dan Kiara mengalami infeksi pencernaan. Dia tidak hamil.


Arthur yang mendengar hal itu ada sedikit kelegaan dan juga sedikit kekecewaan. Kalaupun dia memiliki anak dengan Kiara sekarang, Arthur sudah siap, dan dengan begitu Kiara tidak memiliki alasan kuat untuk bercerai.


Namun, jika saat ini dia dan Kiara memiliki anak, apa Kiara juga akan siapa?


"Arthur, Kiara sementara waktu ini akan dirawat di sini sampai keadaannya membaik. Apa kamu setuju? Kalau setuju aku akan segera mengurus kamar rawat inapnya."


"Lakukan yang terbaik untuk Kiara."


Malam itu Kiara di rawat di rumah sakit. Arthur pun menjaganya di sana.


Gadis yang dari tadi kedua matanya terpejam perlahan membuka dan dia melihat ada sosok seseorang yang sedang tidur di samping ranjangnya. Posisi Kiara adalah tidur dengan sedikit terduduk karena ranjangnya dibuat agak condong.


Kiara mengusap pelan kepalanya orang itu hingga Arthur yang merasa ada yang menyentuh kepalanya, perlahan mengangkat kepalanya.


"Kiara? Kamu sudah bangun?" Arthur menggenggam tangan Kiara.


"Arthur, aku di mana?"


"Kamu berada di rumah sakit. Kamu panas tinggi dan mengigau terus, aku langsung membawa kamu ke rumah sakit, dan ternyata kamu terkena infeksi pencernaan. Kiara kamu akan dirawat beberapa hari ini di sini. Sekarang apa yang kamu rasakan?"


Kiara melihat sekelilingnya. "Aku masih merasa tidak enak. Arthur, aku mau pulang saja, aku tidak bisa membayar biaya rumah sakit ini. Aku minum obat saja nanti di rumah."


"Kamu bicara apa, Kiara? Aku yang akan membiayai semua ini karena sudah menjadi tanggung jawabku. Kiara, aku mohon jangan keras kepala dan membuat aku marah sama kamu," ucap Arthur tegas.


Kiara langsung terdiam dengan menatap wajah pria itu. "Aku tidak mau menyusahkan kamu, Arthur."


"Tidak ada yang kamu susahkan di sini, malahan kalau kamu tidak menurut, itu akan menyusahkan aku dan diri kamu sendiri. Sekarang kamu fokus untuk sembuh saja dan jangan memikirkan apapun," sekali lagi Arthur berkata dengan tegas.


Kiara sekarang menatap nanar pada pria itu. Air matanya pun menetes perlahan membahasi pipi mulusnya.


Arthur seolah merasa bersalah melihat Kiara meneteskan air mata. "Aku mint maaf, jika agak keras padamu, tapi aku benar-benar khawatir tentang kamu." Arthur mengusap pipi Kiara lembut dengan menghapus air mata Kiara.


"Kamu tidak salah, aku yang salah."


"Tidak ada yang bersalah di sini. Sekarang kamu tidur saja lagi dan aku akan menjagamu di sini." Kiara menggeleng. "Ada apa? Apa kamu mau aku tidur di luar saja?"


"Aku tidak mau tidur. Aku mau belajar untuk ujian besok karena aku hari ini belum belajar, Arthur."


"Oh Tuhan, Kiara! Kamu itu sedang sakit dan jangan memikirkan masalah ini?"


"Arthur, ini ujian terakhirku dan yang menentukan aku lulus atau tidak. Aku sudah mencatat semua di ponselku dan aku tinggal membaca ulang, hanya itu."


Arthur bingung harus bagaimana sekarang. Istrinya ini memang sangat keras kepala, tapi dia memang sangat mementingkan tentang ujian sekolahnya ini.


"Apa aku besok memintakan kamu izin ke sekolah agar bisa mengikuti ujian susulan?"


"Aku tidak mau ikut ujian susulan, Arthur. Aku pasti besok baik-baik saja. Arthur, tolong ambilkan ponselku, aku akan membaca sebentar rangkuman yang sudah aku tulis di sana."


Arthur melihat pada baju Kiara yang ada di atas meja di mana waktu itu suster yang sudah menggantikan baju Kiara.


Arthur mengambilkan ponsel Kiara dan gadis itu mencoba membuka ponselnya. Kiara melihat rangkuman yang sudah dia tulis pada aplikasi catatan di ponselnya.


Kiara membacanya perlahan sampai akhirnya ponsel itu terlepas dari tangannya karena memang keadaannya yang masih lemas.


"Aku sudah bilang kalau kamu itu sebaiknya beristirahat saja dulu. Ini juga sudah pukul sebelas malam, Kiara."


Arthur akhirnya menuruti apa kata Kiara. Dia duduk di samping ranjang Kiara sembari membacakan catatan yang sudah Kiara buat.


Kiara menatap terus pada Arthur dan dia mendengarkan semua yang Arthur bacakan. "Arthur, jangan pelankan suaramu."


"Nanti kalau suaraku terdengar keras, aku di marahi oleh suster." Arthur tampak berpikir sejenak.


Dia kemudian berpindah posisi dan dia naik di atas ranjang Kiara yang memang agak besar itu. Apa lagi tubuh Kiara yang mungil, jadi ranjang rumah sakit itu cukup untuk mereka berdua.


Arthur duduk bersandar dan menyandarkan tubuh Kiara pada dadanya. Kemudian tangannya melingkar dari belakang membawa ponsel milik Kiara.


"Apa begini sudah nyaman?"


Kiara mengangguk perlahan. Entah kenapa yang dia rasakan saat ini sangat nyaman dan dia menyukainya.


Arthur membacakan satu persatu setiap kalimat dengan benar agar Kiara dapat mengerti maksudnya.


"Apa kamu bisa mengerti semua yang aku bacakan?"


"Iya aku mengerti. Semoga aku besok bisa mengerjakannya dengan baik. Ulanganku kurang dua hari saja, Sayang sekali jika harus dilewatkan."


"Apa besok kamu mau masuk sekolah?"


"Iya, Arthur, aku tidak mau bolos walaupun sehari saja."


Arthur tampak berpikir sejenak. Apa besok Kiara boleh izin untuk keluar dari rumah sakit? Arthur akan mencoba bicara dengan Elena. Arthur juga tidak mau kalau sampai istrinya itu memikirkan terus tentang ujiannya dan yang ada dia malah akan tidak sembuh dari sakitnya.


"Besok aku akan berkonsultasi dengan Elena dokter yang merawatmu." Arthur mengecup kepala Kiara dengan lembut.


Kiara tampak memejamkan kedua matanya saat Arthur mengecup kepalanya dengan dalam.


Arthur kembali membacakan hingga Kiara akhirnya tertidur. Arthur sangat senang karena istrinya itu sekarang tidak risih lagi dekat dengannya bahkan dia dapat memeluk Kiara semalaman sampai akhirnya dia pun terlelap bersama Kiara.


Paginya, Kiara yang bangun karena ada suster yang sedang memeriksa suhu tubuhnya agak kaget mengetahui Arthur tidak ada di ruangannya.


Dia menanyakan pada suster di sana dan suster itu mengatakan jika suami Kiara itu menitipkan sebentar Kiara pada suster di sana karena dia harus pulang untuk mengambil beberapa barang Kiara.


"Suami kamu sangat sayang padamu. Dia juga terlihat sangat mencintaimu, bahkan dia sepertinya takut meninggalkan kamu sendirian."


Kiara hanya terdiam karena Arthur tidak mencintainya. Arthur memang perhatian pada Kiara, tapi bukan cinta. Arthur hanya melaksanakan tanggung jawabnya saja.


Kiara menganggap hal seperti itu karena memang Arthur tidak pernah mengatakan cinta padanya.


"Sus, kapan saya boleh pulang dari sini?"


"Kamu masih harus dirawat sampai nanti keadaan kamu benar-benar membaik. Suhu tubuhmu sudah normal, tapi obat masih harus aku suntikkan. Setelah makan pagi datang, cobalah untuk makan sedikit demi sedikit agar keadaanmu cepat sembuh. Aku permisi dulu kalau begitu." Suster paruh baya itu berjalan keluar dari dalam kamar Kiara.


Kiara mengedarkan pandangannya melihat sekitar ruangan di mana dia di rawat. Ruangan itu cukup besar dan ada televisi serta lemari es. Di sana juga terdapat jendela kaca besar di mana Kiara bisa melihat pemandangan diluar.


"Kalau menginap di kamar semewah ini pasti harganya sangat mahal. Arthur kenapa tidak menaruh aku di kamar yang biasa saja? Dia itu suka sekali membuang uang," omel Kiara.


Beberapa menit kemudian, pria yang dari tadi dia tunggu datang dengan membawa koper berukuran sedang yang dia seret masuk ke dalam kamar itu.


"Kamu sudah bangun?"