Be Mine

Be Mine
Calon Ayah yang Posesif part 2



Kiara mendengar suara bel di pintu apartemennya. Seketika kedua alis Kiara menaut. "Siapa yang datang? Kalau Mas Arthur tidak mungkin menekan bel."


Kiara berjalan mendekat dan membuka pintunya.


"Halo, Kiara!"


Kedua mata Kiara langsung membulat bahagia. "Tante Maura! Kenapa Tante bisa di sini?"


"Kata Arthur kamu tadi pingsan di kampus, dan Tante disuruh datang ke sini untuk memeriksa kamu."


"Jadi, Mas Arthur tadi menghubungi, Tante? Dia itu khawatir sekali, padahal aku baik-baik saja. Sebenarnya aku tadi tidak mau memberitahu Mas Arthur, tapi Bibi Yaya yang malah bercerita."


"Kamu itu tidak boleh menyembunyikan sesuatu dari suamimu, apa lagi kamu sedang hamil. Kalau sampai ada apa-apa sama kamu dan bayimu bagaimana?"


"Iya, aku mengaku salah dan tidak akan melakukanya lagi nanti."


"Itu baru istri yang baik. Sekarang biar aku memeriksa keadaan kamu. Kamu berbaringlah di sofa saja dan buat dirimu senyaman mungkin."


Kiara menurut dan dia kemudian berbaring dengan meluruskan kedua kakinya di atas sofa.


Bibi Yaya yang sudah mengetahui ada tamu segera membuatkan minuman.


"Coba kamu ambil nafas, lalu embuskan pelan-pelan."


Kiara melakukan apa yang di suruh oleh dokter Maura. "Dok, apa keadaan bayiku baik-baik saja?"


Dokter Maura yang sedang memeriksa perut Kiara dengan stetoskop tampak hanya memberikan senyuman.


"Keadaanku baik, kan Tante?" tanya Kiara sekali lagi.


"Keadaan kamu baik-baik saja, bayimu juga, tapi aku mau memeriksa detak jantung bayi kamu. Apa kamu mau mendengarnya Kiara?"


"Bunyi detak jantung bayi kecilku, Tante?" Kiara bertanya dengan wajah yang berbinar senang.


"Iya, Kiara."


Wanita paruh baya yang adalah mamanya Morgan itu mengeluarkan sebuah alat berbentuk kotak dan ada kabel kecil terhubung pada alat itu.


Sedikit gel diberikan pada perut Kiara dan alat yang tadi dikeluarkan, perlahan ditempelkan pada perut Kiara.


Tangan dokter Maura mengusap lembut dan perlahan pada perut Kiara, dia seolah ada yang sedang dicari.


Wajah Kiara seketika berubah aneh, dia rasanya speechless saat mendengar suara Dig... Dig... yang keluar dari alat pendeteksi detak jantung.


"Tante, itu suara apa?"


"Itu suara detak jantung bayi mungil kamu."


Kiara tampak tersenyum bahagia mendengar hal itu. "Tante, aku mau mendengarkan lagi!"


Tante Maura kembali mencari detak jantung bayi Kiara, dan saat sudah mendapatkannya dia menunjukan pada Kiara.


Kiara sekali lagi tidak bisa berkata apa-apa. Dia sekarang malah meneteskan air matanya.


"Tante Maura," sapa seseorang yang baru datang.


"Arthur. Istri dan bayi kalian baik-baik saja."


"Mas! Coba kamu dengarkan suara detak jantungnya."


Arthur pun tampak mendekat dan dia dapat mendengar suara yang baru pertama kali dia dengar. "Ini suara detak jantung bayiku, Tante?" Wajah Arthur tampak sumringah.


"Iya, dia tumbuh sangat baik di dalam kandungan Kiara."


"Nanti waktu kalian kontrol, kalian bisa melihatnya. Usia kandungan Kiara ini sekitar sepuluh Minggu."


"Tapi kenapa perutku masih terlihat kecil ya, Tante?"


"Setiap wanita hamil itu berbeda-beda, Kiara. Ada yang lima bulan usia kandungannya, tapi perutnya tampak kecil."


"Apa itu berarti tidak sehat, Tante?"


"Belum tentu, Kiara. Ada yang walaupun perutnya kecil, tapi ibu dan bayinya sehat. Kamu jangan khawatir, pokoknya tiap bulan kamu harus rutin memeriksakan kandunganmu."


"Pasti, Tante. Tante Maura terima kasih sudah mau datang ke sini. Oh ya! Bagaimana kalau kita makan siang bersama?"


"Terima kasih, Arthur, tapi Tante harus segera pulang untuk menyiapkan makan siang."


Wanita itu beranjak dari tempatnya. Arthur membantu mengambilkan tasnya. "Sekali lagi terima kasih, ya Tante. Seharusnya hari ini Tante bisa santai liburan di rumah, tapi malah aku minta ke sini."


"Tidak apa-apa, kalau memang ada pasienku yang harus segera ditangani, aku akan dengan senang hati melayaninya karena kesehatan itu sangat penting. Jaga istrimu baik-baik."


Tante Maura pergi dari apartemen Arthur, dan sekarang pria yang sebenarnya dari tadi kesal pada istrinya yang bernama Kiara, tampak melihat istrinya itu dengan wajah datar.


"Mas, aku mau minta maaf," ucap Kiara lebih dulu sebelum suaminya mengomel.


"Bagus kalau sadar kamu sudah bersalah."


"Tadi itu aku tidak hanya diantar oleh Elang, tapi ada Mega juga bersama Elang, dan mereka kebetulan melihatku menunggu di bangku trotoar, jadi mereka mengajakku ikut."


"Lalu, kenapa tidak bilang kalau tadi kamu pingsan? Kenapa harus Bi Yaya yang mengatakan?"


"Itu--?" Kiara tampak bingung.


"Selesaikan di kamar saja, apa tidak malu bertengkar di depan Bibi? Bibi tidak suka melihat pasangan suami istri bertengkar seperti ini. Ayah kamu dulu kalau ada masalah mereka menyelesaikan di dalam kamar berdua."


"Kita tidak bertengkar, Bi. Ini hanya salah paham saja."


"Salah paham yang harus diselesaikan dan yang salah harus mendapat hukuman." Arthur menggendong istrinya naik ke lantai atas.


Bibi Yaya yang melihat tampak tersenyum. "Dia memang sangat mirip Tuan Besar Alan. Walaupun terlihat dingin dan tegas, tapi memilih hati yang lembut kalau sama orang yang dia cintai."


Arthur menurunkan Kiara dan sekarang mereka saling berdiri berhadapan. "Sekarang kamu jelaskan bagaimana kamu bisa pingsan? Apa kamu diberi tugas yang sangat banyak?"


"Sebenarnya bukan aku saja yang mendapat tugas yang banyak, Mas. Semua juga mendapatkan tugas. Tadi aku dan yang lainnya ikut tur kampus agar tau tata letak kampusku itu dan berkenalan dengan para dosen."


"Huft! Sayang, apa tidak mau tahun depan saja kuliahnya setelah kamu melahirkan?"


Kiara terdiam sejenak dan Arthur tau jawaban dari pertanyaannya. "Aku akan menjaga diriku baik-baik, Mas," ucap Kiara lirih.


Arthur jadi tidak tega melihat wajah istrinya yang seperti itu. Dia sebenarnya turut andil dalam dilema yang sedang dihadapi oleh istrinya.


Arthur yang sangat menginginkan memiliki bayi dan Kiara yang sangat ingin kuliah. Dia menarik Kiara dan mendekapnya dengan hangat.


"Aku bukannya ingin mencegah kamu kuliah, tapi kamu juga sedang hamil."


"Iya, Mas, tapi aku pernah lihat ada wanita yang meskipun hamil besar dia kuliah dan malah lulus dengan nilai terbaik. Mas, ini juga salah satu keinginanku dan aku ingin bisa mewujudkan, tapi bukan berarti aku egois karena tidak memikirkan bayi kita. Aku tetap akan menjaganya."


Arthur tampak bingung, dia hanya bisa memberi kecupan lembut pada kepala Kiara.


"Mas percaya sama aku, kan?"


"Ya sudah, kalau begitu kamu tetap bisa melanjutkan kuliah, tapi lain kali kalau kamu merasa keadaan kamu tidak baik, segera meminta izin dan mengatakan sebenarnya pada dosen di sana. Jangan memaksakan seperti hari ini."


"Iya, Mas, tapi memang tadi aku sendiri tidak menyangka akan pingsan, padahal aku merasa baik-baik saja."