
Kiara mencoba menyembunyikan lingerie itu di dalam walk in closet di bagian atasnya, di mana di sana ada baju yang tidak terpakai dan tidak mungkin Arthur menemukannya di sana.
"Sayang, kamu sedang apa?"
Kiara yang belum selesai menyembunyikan lingerie itu sontak saja kaget dan langsung menoleh ke arah suaminya dengan tangan yang sedang menyembunyikan sesuatu.
"Aku tidak sedang apa-apa, Mas." Wajah Kiara tampak sedikit panik.
Arthur semakin penasaran karena melihat wajah istrinya yang panik. "Lalu, apa yang mau kamu ambil di atas situ? Apa ada baju yang kamu mau ambil? Aku sebenarnya mau membuang baju yang di sana, atau memberikan pada orang saja."
"Em ... tadi aku cuma ingin menatanya saja. Mas, kamu mandi dulu dan nanti akan aku siapkan bajumu."
Arthur terdiam sesaat. Dia tau Kiara sedang menyembunyikan sesuatu darinya dan Kiara tidak pernah seperti ini.
"Di belakang tangan kamu ada apa?"
"Hah? Di belakang tanganku? Tidak ada apa-apa, Mas."
"Kalau tidak ada apa-apa, tunjukkan tanganmu padaku."
Kedua mata Kiara mendelik seketika, bahkan dia dengan susah mencoba menelan salivanya.
Kiara dengan cepat menyembunyikan di belakang punggungnya baju yang harganya tidak bisa dibilang murah, tapi sekarang sama Kiara malah di remas-remas seenaknya.
"Tidak ada, Kan? Mas sekarang mandi saja setelah itu aku juga mau mandi."
Arthur berjalan mendekati dan menyusupkan tangannya pada ceruk leher Kiara. "Kenapa kita tidak mandi berdua saja?"
"Tidak mau, kamu mandi dan aku akan menyiapkan makan malam, tadi aku juga membeli kue untukmu." Kiara berjinjit dan dengan cepat mengecup bibi suaminya. "Mandi sana dulu, Mas." Kiara membalikkan tubuh suaminya dan mendorongnya sampai masuk ke dalam kamar mandi.
Dirasa sudah aman, Kiara segera berlari kecil menuju tempat yang akan dia gunakan untuk menyembunyikan lingerienya.
"Sudah aman dan mas Arthur pasti tidak akan tau akan hal ini." Kiara terkekeh sendiri. Dia kemudian menyiapkan baju tidur untuk suaminya.
Arthur keluar hanya dengan handuk yang menutupi bagian bawahnya. Arthur mengeringkan rambutnya dengan handuk satu lagi.
"Aku sudah menyiapkan bajumu di sana, Mas. Sekarang aku mau ke mandi dulu."
Kiara masuk ke dalam kamar mandi dan beberapa menit kemudian dia keluar dengan memakai kemben dari handuknya.
"Mas, kenapa kamu belum memakai baju tidurmu?" Kiara melihat suaminya yang malah duduk santai di atas sofa dengan masih memakai handuknya. "Bajumu sudah aku siapkan dia atas tempat tidur."
"Aku mau kamu yang memakaikannya,' jawab Arthur singkat.
"Apa? Ya ampun, Mas! Kenapa tidak memakai sendiri? Kamu hari kenapa manja begini?"
"Apa tidak boleh manja dengan istri sendiri?"
"Boleh. Kalau begitu sini aku pakaikan baju kamu."
Arthur menggeleng beberapa kali. Kiara jadi bingung dengan sikap suaminya.
"Mas!"
Arthur berdiri dari tempatnya dan berjalan mendekat ke arah istrinya. "Aku mau kamu memakaikan baju tidurku, tapi kamu harus menggunakan ini." Arthur menunjukkan tangannya yang memegang lingerie yang dia sembunyikan tadi.
Kedua mata Kiara membulat melihat hal itu. "Mas, kamu dapat dari mana lingerie itu?"
"Lingerie. Ternyata kamu sudah tau namanya."
"Mega yang memberitahuku. Itu aku beli untuk hadiah pernikahan mba Tami."
"Untuk Mba Tami? Tapi kenapa kamu seolah ingin menyembunyikannya?"
"Aku tidak menyembunyikannya."
"Mau belajar berbohong dengan suaminya?"
Kiara tidak punya alasan lagi kalau begini. "Iya, itu aku membeli karena saat di toko itu aku melihat patung menggunakan itu dan dia tampak cantik sekali, tapi saat sudah membeli, aku belum siap memakainya."
"Malu dan aku merasa tidak pantas saja. Takut terlihat aneh. Aku simpan dulu saja dan kapan-kapan aku akan pakai." Kiara yang mau mengambil lingerie dari tangan Arthur, tapi dengan cepat Arthur menghindarinya.
"Pakai ini sekarang."
"Apa? Mas! Kapan-kapan saja aku pakai."
"Kiara, pakai ini sekarang," titah Arthur.
"Tidak mau, Mas! Nanti saja kalau aku sudah siap," rengek Kiara.
"Mau membantah perintah suami? Mau kualat? Kalau ibu kamu masih ada pasti kamu ditegur karena membantah perintah suami."
"Kenapa jadi bawa-bawa mendiang ibuku?" Kiara bibirnya tampak manyun.
"Mau pakai tidak?" Tatapan Arthur membuat Kiara tidak bisa melawan suami yang sangat dia cintai itu.
Kiara mengambil lingerie berwarna hitam dan dia dengan malas berjalan ke dalam kamar mandi.
"Mau ke mana, Kiara?"
"Mau ke kamar mandi, katanya aku harus memakai ini."
"Kenapa harus di dalam kamar mandi? Pakai saja di sini, nanti aku bantu memakainya."
"Tidak mau! Dasar mesum," gerutu Kiara sembari tetap berjalan masuk ke dalam kamar mandi.
Arthur yang sekarang berdiri dengan berkacak pinggang tampak tersenyum bahagia melihat sikap istirnya.
Tidak lama Kiara keluar dari dalam kamar mandi dengan menutup tubuhnya dengan handuk. Arthur entah kenapa jantungnya bisa berdetak dengan cepat.
"Mas, jujur saja ini aku baru pertama kali memakai baju seperti ini. Kita bisa melakukannya seperti biasa saja tidak perlu memakai lingerie."
"Buka, Kiara, aku mau melihat kamu dengan lingerie itu."
Kiara sedang mengambil napas panjang dan mengembuskannya pelan. Ini kenapa seolah seperti mau perang saja?
"Malu, Mas." Kiara masih memegang erat handuk yang dia pakai.
Arthur sekarang perlahan mendekat dan memberi kecupan lembut pada bibir Kiara, dia sendiri ingin untuk menghilangkan rasa yang tiba-tiba membuat dia tampak gerogi.
Ciuman itu yang akhirnya membuat Kiara tidak sadar jika handuknya sudah terlepas dari tubuhnya.
"Wow! Indah sekali," puji Arthur yang sekarang dia bisa melihat tubuh istrinya dalam balutan lingerie yang ternyata sangat pas dipakai oleh Kiara.
"Apa aku tidak terlihat aneh?"
Arthur mendekatkan bibirnya pada telinga Kiara. "Aku akan membelikanmu lebih banyak lagi, pakai tiap malam untukku. Apa kamu mau?"
Kiara hanya bisa mengangguk menurut dengan apa yang suaminya perintahkan.
Makan malam pun ditunda dulu karena sepertinya Mas Arthur ingin sekali membuat Kiara secepatnya mengandung. Arthur memang sangat ingin memiliki seorang anak, apa lagi Kiara juga sudah setuju ingin memiliki seorang baby kecil.
"Mas, kenapa menyobek lingerienya tadi?"
"Aku tadi reflek, besok beli lagi saja." Arthur mengecup kecil hidung Kiara.
"Mas, besok kamu jadi pergi menghadiri acara amal itu?"
"Iya, apa kamu mau ikut?"
Kiara menggelengkan kepalanya. "Ada mama kamu dan tidak mungkin aku ikut ke sana."
"Kapan kamu siap aku kenalkan dengan keluargaku? Ayahku sudah tau akan hal ini, tapi dia akan tetap diam sampai aku memperkenalkan kamu secara terbuka kepada semuanya."
Kiara menarik tangan Arthur dan berbaring pada lengan tangan suaminya itu. Mereka berdua masih di atas tempat tidur dengan hanya menutup tubuh mereka dengan selimut.
"Aku tidak tau kapan aku siap." Kiara teringat dengan apa yang mamanya Arthur katakan.