
Kiara merasa heran dengan pertanyaan Bibi Yaya. "Bibi kenapa? Apa tidak ingin aku tinggal di rumah utama bersama keluarganya mas Arthur?"
"Kiara, bukannya Bibi tidak ingin, Bibi senang sekali kalau kamu bisa diterima dengan baik oleh keluarganya Arthur tapi bibi merasa Ada hal yang lain dari sikap nyonya besar Alexa dan Mega terhadapmu. Bibi khawatir kamu dan bayimu kenapa-napa."
"Bi, Jujur saja aku mencoba menghilangkan pemikiran seperti yang Bibi katakan karena aku ingin sekali diterima di keluarga itu dan semoga mereka benar-benar menerimaku dengan tulus, Bi, aku ingin memiliki keluarga yang lengkap karena Bibi tahu sendiri kedua orang tuaku sudah tidak ada dan hanya Mas Arthur yang selama ini bersamaku, kalau Tante Alexa dan Mega mau menerimaku sebagai keluarga pasti aku akan sangat senang."
"Aku tahu yang ada dalam hatimu, Kiara, tapi bibi mohon sama kamu selalu berhati-hatilah kepada mereka dan andai Bibi bisa menghalangi kamu untuk tinggal di sana, Bibi akan lakukan karena Bibi masih belum yakin sebenarnya kalau mereka mau menerimamu. Kenapa harus menyuruh tinggal di sana? Kalian bisa saling berkunjung kan juga hal yang baik."
Kiara tampak terdiam memikirkan kata-kata Bibi Yaya. "Semoga saja mereka memang benar-benar berubah, tapi akan aku ingat apa yang Bibi katakan."
"Ya sudah terserah keputusan kamu. Bibi akan menyetujuinya dan menghormatinya, tapi yang jelas Bibi akan selalu mengingatkan kamu untuk selalu berhati-hati jika memang kamu akan tinggal di sana."
"Iya, Bi, terima kasih atas perhatian Bibi."
"Kalau begitu kamu makan dulu ya." Kiara mengangguk dan Bibi Yaya melayani Kiara untuk makan.
Tidak lama kemudian Arthur turun dari lantai atas, dia tersenyum melihat istrinya yang begitu menikmati makanannya.
"Sayang, nanti kita mau makan malam di rumah mama, sekarang kamu makan duluan di sini."
"Habisnya perutku lapar, Mas, lagi pula siapa yang bisa menolak masakan Bibi Yaya? Bibi Yaya masakannya enak sekal, tapi mas tenang saja nanti aku di sini juga akan makan kok."
"Ya sudah tidak apa-apa, kamu makan dulu, bagaimanapun juga di dalam perutmu ada bayi kita dan juga pasti sangat lapar karena semua makan yang masuk ke dalam tubuhmu juga diserap olehnya." Arthur mengecup kepala istrinya.
Setelah Kiara menyelesaikan makannya, mereka berdua izin pergi ke acara pesta yang diadakan oleh mamanya Arthur. Bibi Yaya masih di apartemen Arthur mengurusi hal yang belum dia bereskan.
Arthur sampai di rumah utama mereka. Di sana sudah ada beberapa mobil mewah berjejer rapi di halaman besar rumahnya.
Pesta itu di adakan di taman belakang rumah Mega. Kiara menggandeng tangan Arthur dan mereka masuk ke dalam.
"Selamat malam semua."
"Kakak, Kiara! Kalian kenapa baru saja datang?" tanya Mega sembari memeluk Kiara dan gantian pada Kakaknya.
"Maaf, apa kami sangat terlambat?"
"Tidak juga. Mama senang kalian bisa datang ke sini."
"Halo, Nak, apa kabar?" sapa Alan dan Arthur memeluk ayahnya itu. Pun dengan Kiara.
"Aku dan Kiara baik, Yah. Ayah bagaimana kabarnya?"
"Aku tentu saja baik. Cucuku, apa dia sudah terlihat jenis kelaminnya?" Tangan Alan mengusap lembut perut Kiara yang sudah tampak membuncit.
"Kami mau merahasiakannya dulu, Yah, supaya nanti menjadi kejutan." Kiara tersenyum.
Mega melihat kebahagiaan itu tampak kesal. Dia berharap dalam hatinya, jika bayi Kiara tidak akan pernah lahir di dunia ini.