
"Mo, tolong kabari aku tentang keadaan Kiara di sana, aku benar-benar ingin tau tentang dia dan bayinya," suara Elang terdengar cemas.
"Iya, nanti aku akan kabari kamu tentang keadaan Kiara."
Elang ini tidak mau menceritakan tentang siapa sebenarnya Mega pada Morgan karena dia belum memiliki cukup bukti tentang hal itu. Lagi pula. nanti jika dia bercerita, takutnya Morgan akan tidak percaya dan malah menyalahkan Elang yang jahat.
"Terima kasih, Mo."
Morgan mengakhiri panggilannya dengan e?Elang. Dia kemudian melihat gadis pelayan berjalan mendekat ke arahnya dengan membawa nampan berisi pesanannya.
"Ini pesanan Anda, Tuan."
"Namaku Morgan dan panggil saja Morgan, aku tidak suka dipanggil Tuan karena kamu bukan pelayanku."
"Tapi aku harus menghormati pelanggan yang ada di sini."
Morgan tersenyum simpul. "Menghormati tidak harus berbuat seperti itu. Kamu cukup bersikap sopan dan tidak lupa tersenyum pada pelanggan, itu sudah menghormati."
Gadis itu mengangguk. "Baiklah, Tu--. Maksud aku Morgan."
"Panggil Mas juga tidak apa-apa."Morgan tersenyum.
"Mas?"
"Terserah kamu mau manggil apa, asal jangan Tuan atau bapak. Aku berasa aneh saja kalau dipanggil itu." Gadis itu terkekeh pelan. "Jangan tertawa, ambil roti isi dan susu coklat itu."
"Apa, Mas?"
Morgan yang mendengar suara gadis itu memanggilnya Mas seketika melihat ke arah gadis yang wajahnya tampak aneh.
"Panggil aku Mas sekali lagi," perintahnya.
Gadis itu menggeleng pelan. "Maksud kamu apa menyuruh aku mengambil roti dan susu itu?"
"Suara perut kamu itu terdengar kasihan sekali, kamu pasti belum makan, jadi itu buat kamu. Jangan banyak bertanya! Segera ambil dan kembali bekerja karena aku masih harus menyelesaikan pekerjaanku."
Gadis itu tampak terdiam, dia tidak berani meneruskan kata-katanya. "Terima kasih." Gadis yang belum diketahui namanya itu mengambil roti dan susu di atas meja Morgan dan berjalan pergi dari sana.
Morgan terseyum melihat hal itu. "Manis sekali, tapi sayang aku mau bertobat menjadi pria yang baik. Menyebalkan sekali."
Morgan kembali melanjutkan pekerjaanya. Dia sedang mendapat pekerjaan membuat layout untuk sebuah bengkel dan ada cafe di dalamnya yang akan dibangun oleh temannya.
"Jadi itu mantan kekasihmu?" Morgan tiba-tiba mendengar suara seorang gadis yang duduk tidak jauh darinya. Ada pria juga di sebelah gadis itu yang tampak terseyum miring melihat ke arah gadis yang baru saja Morgan beri roti isi dan susu coklat.
Lalu tangan gadis yang duduk dengan pria itu melambaik, dia memanggil gadis pelayan yang tadi berbincang dengan Morgan.
Gadis yang sedang menikmati roti isi dari Morgan itu tampak kaget dan segera menyudahi makannya, dia menaruhnya dan berjalan menuju orang yang memanggilnya.
"Pelayan, aku mau pesan."
Gadis itu tampak sedikit bingung melayani dua orang di depannya. "Maaf, tapi saya sedang beristirahat, akan saya panggilkan waiters lainnya."
"Hei! Tidak sopan sekali. Kami ini ingin kamu yang melayani. Kamu di sini juga pelayan, kan? Jangan sok bertingkah! Sayang, kamu benar sekali sudah memutuskan pelayan ini. Lihat saja dia yang tidak punya etika dan dia cocok sekali memakai seragam itu."
"Aku memang sangat menyesal pernah berpacaran dengannya. Dia benar-benar membuatku malu saat berjalan dengannya."
"Aku juga malu pernah berteman sama dia. Kamu tau, Anna? Cris lebih bahagia menjadi kekasihku. Jadi, jangan bilang aku merebut pacar kamu karena Cris sendiri yang sudah muak denganmu."
Gadiz yang bernama Anna itu hanya terdiam menatap datar pada dua orang yang sedang duduk dengan wajah yang terlihat menertawakannya.
"Jadi, kamu mantannya Anna?" Tiba-tiba Morgan berdiri di samping Anna. "Oh my God! Aku kira mantan pacarnya pria yang istimewah, tapi ternyata...." Morgan melihat dengan senyum meremehkan.
"Sayang, apa aku perlu berkenalan dengannya?"
Anna yang berdiri di sana tampak mendelik karena Morgan sedang menjulurkan tangannya memeluk pundak Anna. "Mas Morgan?" Anna benar-benar masih kaget dengan sikap Morgan.
"Kamu pacarnya Anna?" tanya gadis yang bersama Cris.
"Aku kekasihnya Anna. Namaku Morgan dan aku seorang mahasiswa di Kampus Persada."
"Apa? Kamu seorang mahasiswa di kampus favorite itu!" seru gadis itu terekejut.
"Biasa saja, tidak perlu terkejut seperti itu. Kampungan sekali. Oh ya! Kamu mau pesan apa? Biar aku panggilkan pelayan lainnya karena ini masih jam istirahatnya."
Morgan menggandeng tangan Anna dan mengajaknya pergi dari sana. Morgan memanggil salah satu pelayan agar melayani meja dua orang yang tadi menghina Anna.
"Mas Morgan, aku baru bekerja di sini, apa kamu pemilik tempat ini?"
"Tentu saja bukan, aku tidak suka berbisnis kuliner, aku lebih memilih membuka bengkel daripada harus membuka cafe."
"Lalu, kenapa teman aku itu menurut sama Mas Morgan?"
"Cafe ini milik saudara sepupuku dan mereka semua kenal siapa aku. Saudara sepupuku juga sedang pergi dalam beberapa hari dan aku memang disuruh mengawasi pekerjaan di sin selama dia pergi."
"Oh begitu." Gadis bernama Anna tampak mengangguk beberapa kali.
"Ya sudah, kamu lanjutkan saja makannya, aku juga masih harus menyelesaikan pekerjaanku."
"Mas Morgan!"
"Ada apa?" Morgan kembali menoleh pada Anna.
"Terima kasih sekali lagi."
"Iya. Oh ya! Kamu pulang sendirian, kan? Kalau ada yang jemput, bilang saja kalau kamu hari ini pulang denganku." Anna belum menjawab, tapi Morgan sudah berjalan saja pergi dari sana dan kembali ke mejanya, dia kembali fokus dengan laptopnya.
"Dia itu baik, tapi sepertinya suka seenaknya sendiri, tapi Mas Morgan sikapnya lebih baik daripada mantanku yang ingin sekali aku lempar ke kandang temennya, yaitu buaya." Anna dari kejauhan menatap tajam pada mantan kekasihnya dan sahabat yang mengkhianatinya.
***
Pagi itu Kiara sudah bangun dan dia senang melihat ada Arthur di depannya.
"Mas, kamu sudah bangun? Memangnya ini jam berapa?"
"Sudah jam sepuluh, Sayang."
"Apa? Ini benaran sudah jam sepuluh?" Kiara mengedarkan pandangannya mencari jam dinding dan ternyata memang sudah jam sepuluh. "Kenapa Mas tidak membangunkan aku?"
"Aku yang melarang suamimu untuk membangunkan kamu, Kiara karena kamu butuh waktu istirahat yang banyak agar keadaanmu segera pulih. Bagaimana? Apa sekarang yang kamu rasakan, Kiara?"
"Aku merasa sudah lebih baik, Tante Maura.
"Aku senang mendengarnya. Sekarang akan aku periksa keadaan kalian berdua."
Tante Maura mulai memeriksa tekanan darah dan perut Kiara. Terlukis senyum di wajah tante Maura karena melihat keadaan Kiara yang sudah benar-benar baik.
"Arthur, istrimu besok sudah boleh pulang. Kamu harus menjaga Kiara dengan lebih extra karena kehamilan trimester pertama itu memang sangat rawan, bukannya aku sudah pernah menjelaskannya sama kalian berdua."
"Iya, Tante, aku akan lebih menjaganya dengan lebih hati-hati."