Be Mine

Be Mine
Hari Pertunangan Mega part 3



Selena mencoba menjelaskan pada Alan kenapa dia sampai menikah dengan mantan kekasihnya dan mengkhianati Arthur dan dia menjelaskan jika sekarang dia benar-benar menyesal sudah salah memilih.


"Kamu wanita yang cantik memiliki pekerjaan yang baik. Aku hanya bisa mendoakan semoga kamu mendapatkan seseorang yang lebih baik lagi, tapi bukan putraku karena dia sudah memiliki kebahagiaannya." Alan sudah tau semua apa yang Selena perbuat, Alan tau semua itu dari Arthur. Tentang Selena yang ingin kembali padanya dan tentang foto yang Selena kirimkan ke rumahnya.


Alan yang tidak mau berlama-lama bicara dengan Selena mencari alasan dengan mengajak pergi Alexa karena ingin memperkenalkan Alexa dengan rekan bisnisnya yang juga turut diundang ke sana.


Selena terlihat kesal karena ternyata rencananya untuk menarik simpati ayahnya Arthur gagal. Pria yang sangat dekat dengan Arthur itu ternyata bisa menerima Kiara menjadi menantunya.


Kiara tampak duduk dengan bibir mengerucut dan Arthur yang duduk di depannya dengan memegang tangan istrinya.


"Mau pulang?"


Kiara menggeleng pelan. Tidak mungkin dia mengajak Arthur pulang karena mereka juga belum lama di sana, apa lagi Arthur adalah keluarga Mega.


"Mas, aku kesal saja dengan ucapan mantan kekasih kamu itu."


"Jangan dipikirkan, dia hanya iri sama kamu."


"Apa yang di irikan dariku? Dia lebih cantik, kaya dan penampilannya nyaris sempurna."


"Dia iri karena kamu memiliki suami tampan sepertiku."


"Dia bisa mendapat pria yang sangat tampan dan kaya, tapi jangan kamu, Mas."


Arthur tersenyum gemas pada wajah Kiara saat mengerucutkan bibirnya. "Kenapa kamu menggemaskan sekali kalau sedang hamil begini? Aku jadi ingin cepat-cepat berkonsultasi dengan Tante Maura."


"Ih ... Mas! Kenapa membahas itu terus? Aku sedang tidak bercanda!" Kiara terlihat manja.


"Habisnya kamu tidak perlu cemberut dan memikirkan ucapan Selena. Kamu itu calon ibu yang sabar dan aku tau kamu pasti kuat dengan semua ini. Kiara, mungkin ke depannya akan banyak yang membuat kamu marah, kesal dan sakit hati, terutama dari keluargaku, tapi aku harap kamu jangan memikirkan semuanya dengan berat.


Ingat jika ada bayi kita di dalam perutmu dan yakin aku akan selalu bersama kamu dan aku juga akan sebisa mungkin menjaga kamu dan tidak membiarkan siapapun menyakitimu."


"Iya, Mas." Kiara memeluk suaminya.


"Kiara!" seru Tia dan beberapa temannya di sana.


Kiara seketika melepaskan pelukannya dan terkejut melihat teman-temannya di sana. Mereka ternyata sudah tau jika Kiara dan Arthur sudah menikah dan Kiara sedang hamil, dan itu semua mereka tau dari Mega.


Mega sebenarnya bercerita, dan berharap Tia dan lainnya benci pada Kiara karena sudah berbohong akan hal itu, tapi Mega salah karena Tia dan lainnya juga kenal Kiara itu gadis yang seperti apa. Jadi, mereka malah ikut bahagia atas pernikahan Kiara dan Arthur.


"Aku akan meninggalkan kalian agar bisa berbicara." Arthur beranjak dari tempat duduknya.


"Ya ampun! Kak Arthur ternyata sudah sold out. Kak Arthur, apa Kakak punya teman yang sebelas dua belas lah sama kayak Kak Arthur?"


"Sebelas dua belas bagaimana maksudnya?" Arthur bingung.


"Aduh! Maksudnya yang mirip sama Kak Arthur. Gantengnya, kayanya, baik hatinya dan wanginya seperti Kak Arthur. Usia juga tidak jadi masalah. Aku mau kok dan siap menikah."


Kiara dan yang lainnya sampai tertawa mendengar ucapan Tia.


"Kalau seperti aku persis. Ada."


"Beneran, ya?" Kedua mata Tia mendelik.


"Ada, tapi usianya terpaut sangat jauh dari kamu."


"Tidak masalah! Terpaut sepuluh tahun juga tidak apa-apa. Lebih matang juga lebih enak."


Kiara ini harus mengelus-elus perut kalau dekat dengan temanya yang agak somplak ini.


"Tapi pasti dia tidak mau sama kamu karena dia pas umur 20 tahun kamu sudah tuwa."


"Hah? Maksudnya?"


"Calon anakku. Kalau kamu ingin yang sangat mirip denganku, tentu saja itu calon anakku, kalau anakku laki-laki."


"Ih ... Kak Arthur! Aku ini serius!"


Kiara dan teman-temannya menertawakan Tia yang malah dikerjain oleh Arthur. "Aku benarkan?"


"Iya, Mas, kamu benar," jawab Kiara.


"Ya sudah, aku permisi dulu dan kalian bisa bicara dengan istriku. Oh ya! Tolong jaga dia, ya."


"Okay, Kak!" jawab kedua teman Kiara.


"Suami kamu itu ternyata bisa becanda juga, aku kira dia pria yang kaku. Eh Kiara, bagaimana rasanya menjadi ibu hamil?"


"Menyenangkan sekali, Tia. Pokoknya rasanya itu sulit sekali di jelaskan."


"Kamu akan tetap kuliah, kan?"


"Iya, aku tetap akan masuk kuliah. Minggu depan aku ada tes di tempat kuliahku dan aku tidak sabar merasakan duduk di bangku kuliah, apa lagi ada bayiku yang nanti akan ikut kuliah denganku." Kiara mengelus elus perutnya.


"Em ... kamu terlihat bahagia sekali, Kiara," ucap salah satu teman Kiara di sana.


"Aku sangat bahagia dan lega sekali rasanya saat semua orang sudah mengetahui tentang pernikahanku dengan Mas Arthur."


Tidak lama Tia melihat ada seseorang berjalan menuju arah meja di mana Kiara sedang duduk.


"Elang itu ada apa ke sini?"


Semua melihat ke arah Elang yang berjalan mendekati mereka.


"Kiara, apa bisa kita bicara sebentar saja. Ada sedikit hal yang aku ingin sampaikan sama kamu."


"Kalau mau menyampaikan sesuatu di sini saja, Lang. Aku tidak mau kalau sampai ada yang salah paham jika melihat kita hanya berduaan."


"Iya, Lang, apa lagi kamu sekarang adalah tunangannya Mega," lanjut salah satu teman Kiara.


"Tidak bisa, Kiara. Bagaimana kalau kita bicara saja di sana. Kan, di sini ada Tia yang lainnya. Jadi, kita tidak akan dikira hanya berdua."


Kiara tampak terdiam sejenak. "Kalau di situ, sih, tidak apa-apa, Kiara. Bukannya ada kita di sini. Jadi, kalian tidak akan dikira berdua," terang Tia.


Kiara kemudian beranjak dari tempat duduknya dan berjalan mendekati pohon di sana yang jaraknya tidak jauh dari meja tempatnya tadi. Mereka ini ada di taman yang berada di luar gedung acara utama. Tema pertunangan Mega ini bernuansa out door dan in door. Jadi, acara utama di dalam gedung, tapi di luar juga ada taman yang indah karena dihias sangat apik agar para tamu undangan lebih nyaman.


"Ada apa, Lang?"


"Terima kasih sudah mau datang ke acara pertunanganku hari ini. Jujur saja aku sangat bahagia dengan hari ini karena aku akan memiliki Mega yang sangat mencintaiku. Aku juga senang melihat kamu bahagia bersama Arthur. Kiara, aku sudah benar-benar ingin menjadi Elang yang baru karena aku sadar semua sudah berubah."


"Syukurlah kalau begitu, Lang. Aku senang kalau kamu mau menerima segalanya, dan aku harap kamu serius kali ini."