
Terbit senyum kecil dari bibir Kiara dia dengan wajah bahagia beranjak dari tempat duduknya dan izin ingin membuatkan kopi untuk Arthur.
Arthur sekarang fokus pada buku pelajaran matematika milik Kiara, dia mengambil selembar kertas dan mengerjakan satu persatu beserta rumusnya.
Tidak lama Kiara datang dengan membawa secangkir kopi untuk Arthur dia meletakkan di atas meja tidak jauh dari tempat mereka belajar.
"Kiara, apa badan kamu baik-baik saja?"
"Aku baik-baik saja, Arthur, ya walaupun kadang sedikit tidak enak, tapi aku tidak mau merasakannya. Aku tidak mau manja dengan sakitku apa lagi besok adalah hari ulang tahun Mega dan aku ingin menghadiri ulang tahunnya."
"Apa kamu ingin bertemu dengan Elang di sana?" Arthur berbicara tanpa melihat pada lawan bicaranya dia yang masih fokus dengan soal matematika.
"Kalau aku ingin bertemu dengan Elang tidak perlu harus menunggu di hari ulang tahun Mega. Di sekolah aku juga bisa menemuinya, aku ingin hadir di acara ulang tahun mega karena mega adalah sahabat baikku, aku bahkan sudah menyiapkan kado untuknya jauh hari."
Arthur melihat ke arah Kiara." Apa boleh aku tahu kado apa yang kau berikan pada Mega?"
Kiara mengeluarkan sesuatu dari dalam tas sekolahnya, di sana ada sebuah kotak dengan tutup plastik tebal transparan dan ada pita di atasnya. Kiara membuka kotak itu dan ternyata ada sebuah buku. Kiara membuka buku itu selembar demi selembar, ada beberapa foto dirinya dan juga Mega yang Kiara dihiasi dengan sangat cantik, Kiara akan memberikan buku yang terdapat sebuah kenangan persahabatan antara Mega dan dirinya, di sana juga ada sebuah kalung terbuat dari emas putih yang sangat cantik yang Kiara masukkan ke dalam plastik dan Kiara lekatkan pada salah satu lembar kertas di sana.
"Aku waktu itu menabung untuk membeli kalung emas putih ini, dan memang aku ingin berikan untuk Mega karena aku tidak bisa membeli kado yang mahal. Aku harap Mega menyukai kado pemberianku."
Arthur tersenyum mendengar ucapan tulus dari istrinya itu. Mega pasti sangat menyukai kado darimu dan mungkin kado ini adalah kado yang terbaik. Semua kado yang mereka berikan pada Mega, semua hanya bernilai materi, tapi milikmu tidak karena kado itu memiliki nilai hati yang sangat besar."
"Terima kasih, Arthur. Oh ya! Kamu sendiri akan memberi kado apa pada Mega?"
"Aku akan membelikan mobil mini Cooper yang dia inginkan "
"Wah! Mobil!" Kedua mata Kira membulat karena terkejut mendengar kado yang akan diberikan Arthur untuk adiknya.
"Sebentar lagi Mega akan kuliah dan dia pasti ingin membawa mobil sendiri, aku akan memberikan mobil yang dia inginkan."
"Mega pasti akan senang menerima kado darimu. Mega pantas mendapatkan mobil itu karena dia memang sahabatku yang sangat baik."
"Nanti kalau kamu masuk kuliah aku juga akan memberikan mobil yang kamu inginkan. Kalau kamu ingin menyetir mobil sendiri aku akan mengajari."
"Siapa yang mau kuliah? Siapa juga yang mau menyetir mobil sendiri? Setelah lulus sekolah aku akan mencari kerja kalau aku mau kuliah aku akan menabung dengan uangku sendiri, tidak boleh merepotkan kamu."
"Gadis keras kepala! Sampai kapan kamu akan bersikap seperti ini terus, Kiara?"
Arthur kembali melihat pada buku Kiara, dia tidak mau berdebat dengan istrinya itu karena nanti pasti akan berakhir dengan pertengkaran
Ki mendengarkan semua penjelasan dari suaminya tentang rumus matematika yang sudah dia ikerjakan dan Kiara baru tahu jika matematika yang dia anggap sulit itu dapat dengan mudah dikerjakan oleh Arthur yang mengetahui ada cara mudah mengerjakannya.
"Kiara sudah jam delapan malam kita makan malam dulu, setelah makan nanti kamu bisa minum obat sebelum tidur."
"Sedikit lagi, Arthur, aku belum selesai, aku tidak suka menghentikan pekerjaan yang belum selesai."
Arthur beranjak pergi dari sana dan dia keluar dari ruang kerjanya, dia berada di dapur mencari sesuatu yang dapat dia masak untuk dijadikan makanan. Beberapa menit dia berkutat di dalam dapur dan jadilah dua piring nasi ayam hainan yang dia buat saat melihat ada stok ayam di dalam lemari es.
Arthur juga membuatkan segelas susu hangat untuk Kiara dan air putih untuknya. Dia membawa nampan berisi makanan masuk ke dalam ruang kerjanya.
"Kiara, aku sudah buatkan makanan, kamu makan dulu jangan sampai terlambat makan, Kiara, nanti sakit lagi."
"Ya ... nanti saja," Jawab Kiara tanpa melihat ke arah Arthur.
Arthur tahu kenapa Kiara sampai sakit, dia beberapa hari ini memang sibuk dengan belajarnya sampai kadang dia telat makan dan Arthur tidak mau itu terjadi lagi. Arthur duduk di samping dia dengan membawa sepiring nasi yang akan diberikan pada istrinya itu
"Iya-iya! Nanti aku makan," jawabnya sekali lagi tanpa dia tidak melihat pada Arthur.
"Kiara, buka mulutmu," titah Arthur
Dan Kiara yang refleks seketika membuka mulutnya dan satu sendok nasi masuk dengan sempurna ke dalam mulut Kiara.
Kiiara mengunyah sambil terus fokus mengerjakan jawaban matematika yang diberikan oleh Arthur
Hingga 5 suap Kiara baru sadar jika dia makan dengan disuapi oleh suaminya. "Arthur kenapa menyuapiku? Aku nanti bisa makan sendiri?"
"Tidak apa-apa, Kiara, habiskan lagi. Apa sudah selesai mengerjakan soalnya?"
"Sudah baru saja. Sini biar aku makan sendiri." Kiara mencoba mengambil piring dari tangan Arthur
"Kenapa? Apa makan dari tangan suami kamu tidak enak?"
"Kamu tidak perlu melakukan itu, kamu sendiri belum makan." Kiara melihat dari kejauhan makanan Arthur masih terlihat rapi di atas meja.
"Sebenarnya aku sudah kenyang, tadi juga aku makan sedikit makanan yang kamu makan."
"Jangan begitu, habiskan makanan kamu. Sayang sekali kalau harus dibuang nantinya."
"Aku akan menghabiskannya. Lagi pula aku juga tidak suka membuang makanan. Sekarang habiskan makanan kamu dan segera kita ke kamar, kamu pasti juga sudah mengantuk."
Kiara mengangguk dan menghabiskan sisa makanannya. Arthur pun akhirnya bisa menyantap makanannya sendiri.
Selesai membereskan semuanya alat tulisnya, Kiara yang akan mencuci piring dan alat dapur yang kotor dihalangi oleh Arthur.
"Kamu naik saja ke kamar lebih dulu, biar aku yang mencuci semua piring dan alat masaknya. Kamu jangan terlalu capek."
"Aku baik-baik saja Arthur, dan biarkan aku membantumu. Kamu pasti lelah setelah dari tadi mengantar jemput aku, harus menemui manager kamu dan sekarang membantuku belajar serta membuatkan makanan untukku."
"Kiara, jangan membantah, kamu cepat naik dan minum obat setelah itu kamu tidurlah."
"Aku tidak mau, Arthur. Aku akan membantu kamu, aku bukan gadis yang suka bermalas-malasan."
Kiara mengambil piring kotor dan mulai mengusapkan sabun pencuci piring pada semua peralatan yang kotor. Arthur benar-benar dibuat harus bersabar dengan istri kecilnya itu.
"Aku akan membantumu. Kamu yang memberi sabun dan. biar aku yang membilasnya dengan air bersih.
"Okay!"
Mereka berdua bekerja sama memberishkan piring dan alat masak yang kotor.
"Arthur, pelan-pelan membilasnya! Kamu mengenai bajuku."
"Memangnya kamu putri duyung takut dengan air." Arthur malah mencipratkan air dari kran yang mengalir ke arah Kiara. Tentu saja hal itu membuat Kiara berteriak kesal dan ingin menghindar.
"Arthur! Jangan main-main begini." Kiara pun membalas dengan mencipratkan air sabun pada baju Arthur.
Arthur pun membalasnya dan akhirnya dia insan yang menyatakan belum memiliki perasaan apapun itu saling bermain air seperti anak kecil.