
Suasana pagi ini terasa sangat tidak hangat dan nyaman seperti biasanya. Sikap Arthur pun mendadak berubah tidak semanis tadi pagi, dan Kiara tau itu karena ucapannya.
"Mas," panggil Kiara lirih.
"Sebaiknya kamu menenangkan dirimu dulu dan pikirkan semua yang sudah kita bicarakan berdua. Aku pergi dulu."
Arthur mengecup kening Kiara dan dia pergi ke parkiran mobilnya.
Di dalam mobil Arthur tampak terdiam sejenak, dia memikirkan tentang apa yang harus dia lakukan jika istrinya berubah pikiran tidak ingin memiliki anak dulu.
"Aku sangat mencintaimu Kiara, dan kehidupan kita akan lebih sempurna jika kita memiliki seorang anak," Arthur berdialog sendiri.
Di dalam apartemen Kiara pun tampak memikirkan sesuatu. Dia berusaha menenangkan dirinya dulu dan memikirkan semua yang pernah Arthur katakan.
"Kenapa sekarang aku malah memikirkan tentang mama Alexa yang pasti tidak setuju aku bersama Arthur. Ini hidupku dan Mas Arthur, aku tidak perlu mengalah hanya karena mama Alexa tidak menyukaiku." Kiara menundukkan kepalanya sembari meremas rambutnya sendiri.
"Aku minta maaf, Mas, harus mengatakan hal bodoh seperti tadi. Justru jika aku dan mas Arthur memiliki anak, pasti mama Alexa akan senang dia menjadi seorang nenek.
Kiara berencana nanti akan meminta maaf kepada suaminya dan dia akan menyiapkan sesuatu yang spesial untuk suaminya.
Siang itu setelah selesai rapat, Arthur kembali ke rumahnya dan di sana juga ada Gio sahabatnya.
"Ada masalah?"
"Aku tadi bertengkar kecil dengan Kiara."
"Apa pertengkaran kalian ini karena seseorang? Kamu pasti cemburu lagi pada istrimu. Sejak kamu menikah dengan Kiara, banyak sekali perubahan darimu, kamu sudah tidak pernah pergi ke club malam dan lebih sering menghabiskan waktu dengan istrinya. Eh, satu lagi, kamu juga sangat posesif dengan Kiara."
"Kalau itu karena Elang masih suka sekali mengganggu istriku."
"Itu karena dia belum tau tentang pernikahanmu dan Kiara. Aku yakin, kalau dia tau bisa-bisa dia pingsan berdiri."
"Aku sebenarnya ingin memberitahunya secara pribadi karena aku ingin sekali melihat ekspresinya saat tau Kiara adalah istriku " Arthur malah tersenyum miring.
"Lalu, kamu dan Kiara ada masalah apa?"
"Mamaku sepertinya ingin mengenalkan aku dengan anak dari sahabatnya yang baru saja datang ke sini, dia seorang CEO di salah satu perusahaan yang tidak bisa dibilang biasa."
"Kamu serius? Apa dia cantik, bagaimana bodynya."
"Oh ****! Aku tidak tertarik dengan kecantikannya, bagiku Kiara paling cantik dan aku seolah ingin setiap hari bercinta dengannya."
Gio langsung terkekeh. "Apa dia sangat hebat di ranjang?"
"Untuk apa aku bercerita denganmu?"
"Kamu memang tipe pria setia dan aku salut serta bangga memiliki teman sepertimu."
"Aku selalu ingat apa yang mendiang ibuku bilang. Jangan pernah menyakiti wanita yang kamu sudah pilih, sebisa mungkin bahagiakan dia. Aku yang memilih Kiara dan aku akan berusaha membahagiakannya, aku tidak mau menyakitinya."
"Oh ... andai aku bisa seperti itu, tapi wanita cantik di luar sana sangat menggodaku."
"Dasar!"
Tidak lama pintu ruangan Arthur diketuk oleh seseorang. Sekretaris Arthur memberitahu jika ada yang ingin bertemu dengannya.
"Hai, Arthur," sapa seseorang.
Gio tampak mendelik melihat seorang wanita cantik dengan body bak gitar Spanyol berdiri di sana.
"Silakan masuk, Belinda."
Belinda melangkah dengan pandanga mengamati setiap benda di sana. "Ruangan kamu cukup bagus, dan aku suka sekali desain interiornya, tampak sangat elegan."
"Terima kasih. Aku kira kamu tidak jadi ke sini."
"Aku pasti ke sini karena aku tertarik ingin berbisnis dengan seorang Arthur Maxian Lucas." Belinda menatap Arthur dengan lekat.
"Oh ya! Kenalkan ini sahabatku sekaligus rekan bisnisku. Kami berdua sama-sama membuka bisnis restoran."
"Geovani Malik, tapi kamu bisa memanggilku Gio." Gio dan Belinda saling berjabat tangan.
"Arthur, apa nanti kamu mau pergi makan siang denganku, ada banyak hal yang ingin aku bicarakan berdua sama kamu?"
"Kita pergi sekarang saja, kebetulan pekerjaanku juga sudah selesai dan Gio juga mau pergi. Bagaimana?"
"Tentu saja."
"Silakan kamu berjalan keluar dulu."
Gio menarik tangan Arthur dan berbisik padanya. "Kamu serius makan siang berdua? Bagaimana kalau Kita tau?"
"Nanti aku akan ceritakan juga masalah ini dengannya."
"Okay!"
Arthur mengajak Belinda makan di restoran yang tidak jauh dari kantornya.
"Restoran di sini ternyata tempatnya sangat indah."
"Tentu saja. Banyak tempat-tempat indah di sini."
"Aku sejak lulus sekolah SMP sudah pindah ke luar negeri. Jadi, aku tidak terlalu tau tempat-tempat di sini. Arthur, apa kamu mau mengajakku jalan-jalan selama aku di sini."
Arthur terdiam sejenak dan melihat datar pada Belinda.
"I'm sorry because I can't go out with other women often."
"Why? Do you have a girlfriend?"
"Ya, aku sudah punya kekasih dan aku sangat mencintainya."
"You're serious?" Wajah Belinda tampak sangat terkejut.
"I'm serious?"
"Tapi mama kamu bilang kalau kita akan dijodohkan."
"Aku tidak pernah diberitahu masalah ini. Aku juga tidak akan mau dijodohkan dengan siapapun, walupun aku belum memiliki kekasih. Ini hidupku dan siapapun tidak bisa mengaturnya."
"Oh my God. Jujur saja, aku menyukaimu saat pertama kali kita bertemu. You are my ideal type of man."
"Aku minta maaf, tapi aku sangat menyayangi kekasihku dan sebentar lagi aku akan menikahinya."
Tangan Belinda menggenggam tangan Arthur. "Apa tidak ada hal yang bisa membuat kamu menyukaiku dan melupakan kekasihmu itu?"
"Tidak ada Belinda. Aku sangat menyukainya dan aku tidak mungkin meninggalkannya."
"Apa dia sangat cantik? Cantikan mana denganku?"
"Kamu lebih cantik dan lebih segalanya kalau dibandingkan dia, tapi bagiku dia sangat sempurna, and i love her very much."
"Oh my God! You are so romantic. That girl is so lucky to have you."
"No, I'm the lucky one to have it."
"Aku sangat sedih mendengar ini semua, tapi mau bagaimana lagi?"
"Kita tetep dapat bekerja sama dalam bisnis, tapi untuk lainnya, aku minta maaf."
"That's okay. Kamu pria pertama yang menolakku, Arthur, dan ini sangat menyakitkan." Belinda malah tersenyum kecil.
"Aku sekali lagi minta maaf, tapi lebih baik kamu tau hal ini."
Belinda berdiri dari tempatnya, begitupun dengan Arthur. "Terima kasih sudah bisa mengenalmu dan nanti akan aku pikirkan apa aku harus mengajakmu bekerja sama atau tidak?"
"Aku tunggu."
Arthur mengantar Belinda sampai ke mobilnya dan gadis itu memeluk Arthur sebagai salam perpisahan karena mungkin dia tidak ingin bertemu Arthur dulu untuk mengobati hatinya yang kecewa.
"Belinda, terima kasih karena kamu ternyata seseorang yang baik."
"Oh my God. Wajah kamu benar-benar pasti sulit aku lupakan." Belinda masuk ke dalam mobilnya dan pergi dari hadapan Arthur.
"