Be Mine

Be Mine
Rasa Yang Tidak Nyaman



Kiara meminta maaf pada Arthur dan dia mengatakan jika trauma waktu kejadian buruk itu tiba-tiba muncul saat dirinya dan Arthur hampir melakukan hubungan suami istri.


Wajah Arthur seketika berubah. Pun tangannya yang melingkar pada pinggang Kiara terlepas.


Kiara tau jika suaminya itu pasti shock mendengar apa yang Kiara katakan. "Kejadian itu benar-benar membuat kamu masih sangat trauma. Aku minta maaf jika harus membuat kamu seperti itu.


Kiara seketika memeluk leher Arthur dan menyandarkan wajahnya pada leher pria yang sekarang sudah mengisi hatinya itu.


"Jangan meminta maaf karena aku sudah melupakan kejadian itu, hanya saja aku tidak tau kenapa bayang-bayang tentang kejadian waktu itu datang di saat kita akan melakukan hal itu." Kiara tampak takut membicarakan hal itu.


"Apa mungkin kamu memang belum siap melakukan tugasmu sebagai seorang istri? Atau kamu belum menerimaku seutuhnya?"


"A-aku .... Mas, aku sudah menerima kamu seutuhnya, tapi mungkin memang aku masih belum siap menjalankan tugas sebagai seorang istri."


Kiara dan Arthur saling memandang. Arthur dapat melihat jika wajah istrinya itu berkata dengan tulus dan tersirat juga rasa bingung di wajahnya.


"Ara, apa kamu mau berkonsultasi dengan seorang dokter yang mungkin saja bisa membantu kamu menghilangkan rasa trauma itu?"


Kiara tampak berpikir sejenak. "Aku tidak mau."


"Kenapa? Nanti aku akan mencari dokter psikolog yang terbaik. Elena kekasih Gio mungkin bisa membantu kamu."


"Aku tidak mau, nanti pasti aku harus menceritakan semuanya dan itu aku tidak mau, Mas. Aku sama saja membuka aib suamiku sendiri. Tidak lucu juga nanti kedengarannya. Aku dinodai oleh pria yang akhirnya menjadi suamiku sendiri." Kiara sekarang malah bisa terkekeh.


Senyum dari bibir Arthur pun terlukis dengan indah. "Lalu, bagaimana? Kalau trauma itu terus terbayang saat kita akan melakukannya, bagaimana dengan nasib juniorku?"


Kiara seketika mangap mendengar ucapan dengan mimik wajah lucu dari suaminya. "Mas!" Kiara sekarang wajahnya malu sendiri.


"Bukan hanya itu. Kita juga pasti lama memiliki seorang anak. Apa kamu tidak ingin memiliki bayi denganku?"


"Bayi?" Kiara sekali lagi terbengong.


"Iya, Ara. Aku mau kita segera memiliki seorang bayi yang lucu."


"Kalau aku belum siap, bagaimana? Aku sebenarnya masih ingin kuliah, Mas, atau bekerja. Pokoknya aku ingin berharga untuk hidupku sendiri.


"Tidak perlu bekerja karena aku yang akan bertanggung jawab dengan semua kebutuhan kuliah dan hidupmu, Ara.


"Apa tidak akan memberatkanmu?"


"Istriku yang sangat polos. Tentu saja tidak memberatkanku karena itu sudah tugasku."


"Kalau begitu, kita tidak perlu memiliki anak." Arthur tampak terdiam. Kiara tau jika di usia Arthur memang dia seharusnya sudah memiliki anak, tapi karena takdir yang berjalan tidak selalu seirama dengan keinginan manusia. Jadi, Arthur pun harus menerima takdirnya.


"Tapi kuliah dengan perut buncit pun tidak masalah." Kiara tersenyum dan memeluk sekali lagi suaminya.


Hari ini mereka menghabiskan waktu berdua di apartemen. Arthur tidak mau ke kantor dulu hari ini karena dia ingin merayakan sesuatu yang indah dengan istri kecilnya yang sangat dia cintai.


"Mas, nanti malam kita jalan-jalan mau tidak?"


"Jalan-jalan ke mana?"


"Terserah, yang penting kita jalan-jalan."


"Mau pergi ke luar negeri? Yang dekat sini saja."


"Ke luar negeri? Tidak mau, besok aku harus masuk sekolah karena besok adalah moment yang sangat indah. Semua temanku tadi di what's up grup sekolah sudah heboh menyuruh besok harus masuk sekolah karena kita mau saling tukar kado untuk kenangan-kenangan."


"Oh ya? Memangnya kamu sudah menyiapkan kadonya?"


"Tiga? Untuk siapa saja?"


"Untuk temanku yang nanti akan diundi siapa yang dapat, untuk Mega dan ...." Kiara langsung terdiam.


"Elang," jawab Arthur kemudian.


"Iya, tapi tidak akan aku berikan karena aku tidak mau nanti dia salah paham."


"Kalau mau memberikan juga tidak apa-apa. Nanti kita ambil kadonya di rumah kamu."


Kiara menggeleng. "Aku hanya akan memberikan untuk Mega dan temanku saja. Hadiah untuk Elang biar aku berikan orang lain saja."


"Baiklah kalau itu maumu." Arthur sangat senang mengetahui Kiara sudah melupakan Elang. Dia berharap bisa benar-benar menjadi keluarga yang utuh dan bahagia bersama Kiara.


***


Malam itu Kiara sudah siap dengan baju kasualnya. Dia hanya menggunakan sweter lengan panjang yang dia padukan dengan celana jeans dan sepatu kets. Arthur melihat Kiara dari bawah sampai atas.


"Kenapa? Ada yang salah?"


"Kamu manis sekali. Istri kecilku yang manis."


"Kamu Om suamiku yang tampan."


"Om? Apa aku setua itu?"


Kiara berjalan mendekat dan merangkulkan tangannya pada pinggang Arthur. "Bukan tua, tapi aku yang kelihatan masih seperti anak-anak, makannya mereka mengira aku sedang jalan dengan sugar daddyku."


Arthur menunjukkan senyumnya. "Kamu memang sugar babyku." Arthur menempelkan kepalanya pada dahi Kiara yang sedang mendongak melihat suaminya.


"Enak saja, aku istrimu."


"Istri yang sangat aku cintai."


Arthur memberikan kecupan pada bibir Kiara dan dengan cepat dia pun mengangkat tubuh Kiara sampai gadis itu reflek mengalungkan kedua kakinya pada pinggang Arthur, dan tangannya pun melingkar pada leher Arthur dengan erat.


"Mas Arthur, aku nanti jatuh."


"Aku tidak akan membiarkannya." Arthur kembali mengecup bibir Kiara, dan gadis itu pun tidak menolaknya.


Arthur memposisikan dirinya duduk di atas tempat tidur dan dengan Kiara yang masih ada di pangkuannya sekarang.


"Aku tidak dapat menjabarkan bagaimana sekarang dengan perasaanku, Kiara?" Kiara hanya menatap lembut wajah Arthur.


"Kalau aku rasanya seperti baru merasakan jatuh cinta, dan itu dengan kamu. Jujur saja, sejak aku merasakan semua yang sudah kamu lakukan dan berikan padaku, aku merasakan kamu pria yang tulus dan hal itu membuatku jatuh cinta padamu."


Kiara gantian mencium Arthur dengan penuh kelembutan, dan Arthur pun membalasnya.


Beberapa menit kemudian Arthur melepaskan ciuman Kiara. Dia menempelkan dahinya pada dahi Kiara sembari mengatur napasnya yang naik turun. Arthur seolah sedang menahan sesuatu yang rasanya sangat tidak nyaman, tapi dia harus menahannya.


Kiara hanya memperhatikan wajah suaminya yang sekarang memejamkan kedua matanya. "Kiara." Arthur membuka kedua matanya dan menatap datar Kiara. "Kamu sebaiknya menungguku di bawah saja karena aku mau berganti baju dulu."


Kiara tau apa yang sedang terjadi dengan suaminya. Dia beranjak dari tubuh Arthur dan berjalan pergi dari kamarnya.


"Dia pasti sedang ingin tadi, tapi ...." Kiara tampak terdiam di balik pintu kamarnya.


Di dalam Arthur duduk dengan menggenggam erat sprei tempat tidurnya. "Ayolah, Arthur! Kamu pasti bisa, walaupun ciuman Kiara memang seperti magnet yang dengan kuat menariku untuk berbuat lebih dari sekadar ciuman itu," Arthur berdialog sendiri untuk menenangkan dirinya sendiri.