Be Mine

Be Mine
Menerima Semuanya



Kiara dapat mengetahui apa yang Mega berikan karena memang kado itu dibungkus dengan plastik tebal dan transparan. Kiara mendapat hadiah tiga buah cangkir dengan model-model yang lucu. Mega membelinya saat mamanya pergi ke luar negeri dan dia tau Kiara menyukai cangkir lucu-lucu itu.


Sedangkan Kiara memberi Mega dompet wanita yang sangat bagus dan Kiara tau Mega pasti menyukainya.


"Ini kamu pakai uang tabunganmu untuk membelikan aku ini?"


"Kamu sudah tau kalau aku selalu menabung jika ingin membeli sesuatu."


Mereka saling berpelukan sekali lagi. Sekarang Kiara dan Mega akan melakukan tukar kado dengan teman-temannya. Mereka berkumpul di tengah kelas dan mencampur hadiah mereka di atas meja.


Sebelumya, teman mereka memberi angka pada setiap kado yang dikumpulkan dan nanti satu persatu teman Kiara mengambil nomor mana hadiah yang bisa mereka ambil.


Hari ini tampak keseruan Kiara dan teman-temannya di sekolah. Setelah acara tukar kado selesai, mereka gantian saling memberi tanda tangan pada seragam sekolah yang dipakai sebagai kenang-kenangan.


Kiara dan Mega tampak senang dan berlarian juga ke luar kelas bergabung dengan anak-anak dari kelas lainnya, di mana mereka dulu pernah juga satu kelas


"Kiara, aku boleh tidak meminta tanda tangan gadis cantik dan pintar di sekolah ini."


"Morgan, kamu jangan berlebihan."


Kiara mengambil spidol yang Morgan tadi sodorkan dan Kiara membubuhi pada lengan seragam Morgan.


"Kamu memang cantik dan pintar. Eh, ditambah lag baik, kamu sebenarnya tidak pantas dengan Elang yang playboy."


"Elang itu tidak playboy, kamu itu yang playboy," ucap Kiara sembari dia masih menuliskan sesuatu di seragam Morgan.


Morgan malah tersenyum miring. "Kamu cinta sekali sama dia, ya? Makhlum kalau orang sedang jatuh cinta, semua hal buruk tentang pasangannya tidak akan didengar."


"Aku sudah putus sama Elang. Aku dan Elang hanya teman biasa sekarang."


"Jadi, berita kalian putus memang benar adanya? Bagus kalau hal itu terjadi." Morgan tampak senang.


Kedua alis Kiara mengkerut. "Kamu itu jangan suka menjelekkan orang lain, aku mengenal siapa Elang dan aku tau dia seperti apa."


Morgan menggeleng. "Kamu tidak mengenalnya, Kiara. Elang pernah berselingkuh di belakang kamu dengan gadis lain, dan aku melihatnya sendiri."


Kiara tampak terkejut mendengar apa yang Morgan baru saja katakan. "Kamu pasti salah melihat."


"Penglihatan aku masih sangat baik, Kiara. Dia berciuman dengan seorang gadis yang aku tidak bisa lihat jelas saat dia di dalam mobilnya karena waktu itu hujan turun sangat deras, tapi aku tau itu mobil mamanya Elang, dan di dalam ada Elang dengan seorang gadis."


Kiara tampak berpikir sejenak. Dia berpikir Morgan tidak mungkin berbohong karena untuk apa dia bohong? Morgan walaupun terkenal playboy dan rada slengean, dia itu sebenarnya lelaki yang baik. Apa lagi Morgan mengatakan pada saat Kiara dan Elang sudah dia ketahui putus.


"Ya sudah biarkan saja, aku juga sudah tidak bersama dengannya. Mungkin dia saat bersamaku selingkuh karena aku kurang perhatian sama dia." Kiara tersenyum dan berjalan pergi dari sana.


"Kiara sepertinya memang sudah tidak memiliki perasaan sama Elang."


Kiara melihat pada layar ponselnya, dan dia mendapat panggilan dari Arthur. Kiara melihat sekitarnya yang memang dia berdiri sendirian di sana.


"Halo, Mas, ada apa?"


"Tidak ada apa-apa, aku hanya ingin mendengar suaramu saja."


"Mas, aku sedang di sekolah, tidak enak nanti kalau Mega mendengar kita berbicara."


"Aku ingin sekali segera memperkenalkan kamu pada keluargaku, Sayang, supaya kita tidak perlu lagi seperti ini."


"Mas, nanti saja dulu kita tunggu waktu yang tepat. Aku juga ingin agar pernikahan kita ini segera diketahui oleh keluargamu."


"Ya sudah, kita akan mencari waktu yang tepat. Aku sangat mencintaimu, Ara."


"Aku juga sangat mencintaimu."


Tiba-tiba kedua mata Kiara menangkap sosok Elang yang berjalan mendekat ke arahnya.


"Mas, ada Elang, nanti kita bicara lagi."


"Elang? Kenapa dia selalu mendekatimu?"


"Mas, percaya padaku."


"Ya sudah kalau begitu, nanti aku akan menjemputmu. Bye, Sayang."


"Iya, Mas." Kiara segera mematikan panggilan teleponnya dan dia hendak pergi, tapi tangannya sudah ditahan oleh Elang.


"Kiara, aku ingin bicara sama kamu."


"Lang, ada apa?" Kiara mencoba melepaskan tangan Elang.


"Aku akan bertunangan dengan Mega."


"Aku sudah tau. Selamat kalau begitu, aku turut bahagia mendengarnya."


"Jangan berbohong, Kiara! Kamu pasti marah denganku. Marah saja, Kiara karena dengan begitu aku tau kamu masih mencintaiku." Elang mendekatkan tubuh Kiara mendekat padanya.


Kiara menatap serius pada Elang. "Aku benar-benar sangat bahagia mendengarnya, Lang. Lang, aku hanya ingin berpesan sama kamu, tolong jangan sakiti Mega jika kalian nantinya akan menjadi pasangan karena Mega sangat baik dan dia pasti akan mencintaimu dengan tulus."


"Kami tidak akan bisa menjadi pasangan karena aku tidak mencintainya, bahkan Mega juga. Kita bertunangan atas perintah kedua orang tua kami, Kiara, bukan dari keinginan kami sendiri."


Kiara mendorong pelan tubuh Elang agar menjauh darinya karena Kiara sadar dia adalah istri seseorang dan tidak boleh terlihat terlalu dekat dengan pria lain.


"Apapun itu, Lang, kamu harus bisa menjaga perasaan pasanganmu."


"Untuk apa? Aku tidak mencintai Mega."


"Siapa yang kamu cintai? Gadis yang pernah berciuman denganmu di dalam mobil?"


Kedua mata Elang tampak membulat mendengar apa yang baru saja Kiara katakan. "A-apa maksud kamu, Kiara?"


"Kamu pernah berciuman dengan seseorang saat kita masih pacaran bukan? Jujur saja aku agak kecewa mendengarnya, tapi bukan karena cemburu melainkan aku kecewa karena sudah salah menganggap kamu lelaki yang setia."


"Kiara, itu tidak benar, selama aku berpacaran sama kamu, aku sangat mencintai kamu dan setia denganmu. Kamu jangan mendengarkan gosip murahan seperti itu." Elang memegang tangan Kiara.


"Lang." Sekali lagi Kiara melepaskan tangan Elang. "Aku tidak peduli sekarang akan hal itu dan aku bisa paham kenapa kamu sampai selingkuh atau berciuman dengan gadis lain. Mungkin waktu kamu berpacaran denganku, ada rasa jenuh dan kesal karena aku yang memilih kita berpacaran secara sehat."


"Kiara tidak seperti itu. Itu semua bohong."


"Lang, aku minta jika nanti kamu dan Mega bertunangan, tolong jangan sakiti dia meskipun kamu tidak menyukainya. Cobalah untuk menerima semua ini dan aku yakin suatu hari nanti kalian akan saling mencintai. Jangan sakiti hati gadis sebaik Mega."


Kiara berjalan pergi dari sana melewati Elang. Kiara saat akan naik ke lantai kelasnya, dia berpapasan dengan Mega yang sepertinya dari tadi memperhatikan Kiara dan Elang yang sedang bicara.