Be Mine

Be Mine
Arthur Pergi Dari Apartemen part 1



Kiara yang hendak menyusul suaminya, tangannya ditahan oleh Bibi Yaya. Bibi Yaya mengatakan agar Kiara menunggu dulu sampai hati Arthur lebih tenang.


"Tapi aku tidak bisa seperti ini, Bi. Rasanya itu tidak enak melihat sikap Mas Arthur seperti itu, padahal tadi kita sudah baikkan, tapi sekarang begini lagi."


"Dia itu sedang sangat posesif dan paranoid takut akan istrinya yang cantik ini disukai oleh mahasiswa di kampusnya."


"Aku tadi sudah bilang kalau aku sudah punya kekasih, itu artinya aku mengakui dirinya dan aku tidak sendiri, tapi Mas Arthur ingin aku mengatakan jika aku sudah menikah dan sata ini hamil."


"Lantas, kenapa tidak kamu lakukan?"


"Aku mau lakukan setelah acara OSPEK selesai. Aku nanti pasti akan mengatakan jika aku sudah menikah, tapi aku menunggu waktu yang tepat, Bi."


"Ya sudah, kalau begitu Bibi akan menemui Arthur dulu dan bicara dengannya."


"Bi, katakan aku sedih melihat sikap mas Arthur yang marah seperti tadi, dan jujur aku takut melihat dia seperti itu."


"Iya, kamu tenangkan diri kamu di sini dulu dan jangan lupa kamu berganti baju dulu agar tidak masuk angin. Kamu sedang hamil Kiara."


"Iya, Bi, terima kasih."


Bibi Yaya berjalan pergi dari kamar Kiara. Bibi Yaya mencari keberadaan Arthur di ruang kerja, tapi ternyata Arthur tidak ada, kemudian bibi Yaya mencari di setiap ruangan.


"Kunci mobilnya tidak ada di tempatnya. Apa Arthur pergi dari sini?" Kedua alis bibi Yaya mengkerut. "Sepertinya kali ini Arthur sangat marah sampai dia pergi dari sini." Wajah Bibi Yaya tampak bingung, dia harus bercerita pada Kiara atau tidak, takutnya nanti Kiara malah tambah sedih.


Bibi Yaya benar-benar bingung saat ini. Kiara yang sudah berganti baju dan dia sedang duduk termenung di dalam kamar, terlihat sangat sedih.


Kiara tampak senang saat pintu kamarnya di buka oleh seseorang, dan dia mengira itu suaminya, tapi setelah tau itu hanya bibi Yaya. Keceriaan dan kebahagiaan itu berubah sedih kembali.


"Bi, apa Ini sudah berbicara dengan Mas Arthur? Lalu, apa dia masih marah padaku?"


Bibi Yaya jadi merasa bingung saat ini. "Bi, ada apa? Kenapa Bibi Yaya wajahnya seperti itu? Apa Mas Arthur masih marah sama aku? Kalau begitu biar aku yang bicara sama dia "


Kiara yang hendak melangkah pergi, tangannya terhenti untuk membuka pintu saat kata-kata meluncur dari mulut Bibi Yaya.


"Arthur tidak ada di apartemen. Dia pergi dari Apartemen "


Kiara langsung menoleh pada Bibi Yaya. "Apa, Bi? Mas Arthur tidak ada di Apartemen?"


"Iya, Kiara. Tadi aku mencarinya di apartemen, tapi suami kamu tidak ada dan aku lihat kunci mobilnya tidak ada di tempat biasanya.


Entah kenapa di dalam hati Kiara dia merasa seolah separuh dari dirinya hilang entah ke mana. "Mas Arthur apa pergi dari sini? Tapi kenapa? Apa karena salah paham seperti ini dia sudah berpikir akan meninggalkan aku?"


Kiara segera mencari ponselnya. Bibi Yaya melihat Kiara yang kebingungan mencari di mana ponselnya tampak merasa sedih.


Kiara sudah menemukan ponselnya, tapi saat dia menghubungi ponsel suaminya, Arthur tidak menjawab satu pun panggilan dari Kiara. Kiara semakin cemas karena hal itu. Apa suaminya ini benar-benar akan meninggalkan dia bersama calon bayi mereka?


Tidak terasa air mata Kiara seketika mengalir membasahi pipinya.