Be Mine

Be Mine
Rasanya Sakit Sekali



Kiano menyuruh dia orang yang dia tau adalah mahasiswa baru yang juga kuliah di sana. Berita tentang Kiara memang sudah cepat sekali menyebar. Kiara tidak mempermasalahkan hal itu ataupun malu. Dia hanya membenci orang yang tidak tau apa-apa dan sudah dijelaskan, tapi masih saja berpikir buruk.


"Kak Kiano, terima kasih."


"Tidak apa-apa, Kiara."


"Dasar ya! Orang dari tadi sudah dijelaskan, tapi sok bener saja itu," omel Momo.


"Tidak apa-apa, Mo. Aku sudah yakin pasti akan seperti ini, tapi aku tidak takut atau malu karena memang aku tidak berbuat salah.


"Kiano, makan dulu dengan kita sebelum pulang."


"Aku mau makan dengan ibuku saja." Kiano melihat ke arah Kiara.


"Maaf, Kak. Aku sudah tau tentang Ibu Kak Kiano. Semoga Ibu Kak Kiano bisa segera pulih lagi, ya."


"Terima kasih, Kiara.


"Oh ya ini saputangan Kak Kiano. Aku sudah mencucinya. Aku membawanya terus agar tidak lupa untuk mengembalikannya."


Kiara menyerahkan saputangan itu dan Kiano menerimanya.


Arthur yang baru saja memasuki tempat itu melihat istrinya dan Kiano sedang serah terima saputangan. Kiano mendapat informasi dari orang suruhannya yang mengatakan jika Kiara ada di tempat itu dan dia langsung ke sana.


"Kiara," panggil suaminya.


"Mas Arthur?"


"Terima kasih, Kiara."


"Oh iya!"


Arthur berjalan mendekat ke arah Kiara dan dia menggandeng tangan istrinya itu. "Kita pulang sekarang."


"Hai, Suaminya Kiara!" sapa Momo.


"Halo, Momo."


"Tadi aku sedang ditraktir oleh Kiara di sini. Aku senang sekali mengetahui jika Kiara sedang hamil. Anak kalian pasti lucu nantinya." Arthur hanya memberikan senyuman tipisnya.


"Mas kenapa bisa ke sini?"


"Nanti kita bicara di apartemen."


"Oh ya suaminya Kiara. Ini kenalan, dia Kiano saudara sepupuku. Kalian pasti belum kenalan."


Arthur seketika menatap pada laki-laki yang berdiri tepat di hadapannya sekarang. Pun dengan Kiano menatap datar pada Arthur.


"Oh ya, Kiano. Terima kasih waktu itu telah menolong istriku--Kiara dan aku senang bisa berkenalan denganmu." Arthur mengulurkan tangannya dan Kiano pun membalas ukuran tangan Arthur.


"Tidak perlu berterima kasih karena sudah tugasku di kampus untuk menjaga dan memperhatikan para mahasiswa baru selama mengikuti kegiatan OSPEK."


Arthur menggandeng tangan Kiara lagi seolah dia ingin menunjukan jika Kiara miliknya sekali lagi. "Tapi sekarang istriku sudah tidak mengikuti kegiatan OSPEK lagi dan pasti kamu sudah tau kenapa, kan?"


"Iya aku sudah di beritahu oleh rektor, dan sebaiknya kamu jaga istrimu dengan baik. Momo kita pulang. Permisi semuanya."


Kiano berjalan keluar dari tempat stand bakso dan Momo pun pamit menyusul Kiano.


Kiara melepaskan gandengan tangan Arthur, dan berjalan keluar dari tempat itu.


"Kiara!" panggilan Arthur tidak didengar oleh Kiara. Arthur segera berlari menyusul dan sekali lagi menarik pelan tangan Kiara.


"Kamu kenapa?"


"Lepaskan! Aku mau pulang ke rumahku sendiri, kamu biar bisa bebas melakukan apapun yang kamu mau." Kiara mencoba melepaskan tangan Arthur, tapi hal itu bisa dicegah oleh Arthur. Arthur langsung menggendong tubuh Kiara tanpa basa-basa."


"Lepaskan, Mas! Aku bisa jalan sendiri."


Arthur tidak mendengarkan ucapan Kiara dia tetap membawa Kiara masuk ke dalam mobilnya dan mendudukkannya di depan.


"Mas!" Wajah Kiara sudah terlihat marah.


"Diam, Kiara." Arthur memasangkan sabuk pengamannya.


Kiara duduk diam di dalam mobil, dan dia memilih melihat ke arah luar jendela. Arthur pun tidak ingin membahas masalah mereka di dalam mobil karena dia tidak ingin bertengkar di jalan.


Sesampainya di apartemen. Arthur membukakan pintu mobil, tapi Kiara hanya diam saja.


Arthur menunduk dan akan menggendong Kiara, tapi Kiara mendorong tubuh Arthur.


"Aku bisa jalan sendiri."


Kiara keluar dengan wajah marahnya dan dia berjalan menuju lift. Arthur mengikuti istrinya dari belakang karena dia tidak mau ribut di sana.


Sampai di pintu apartemen Kiara terdiam. Arthur membukanya dan menggandeng tangan istrinya masuk.


"Kiara, kamu dari mana?" Bibi Yaya memeluk Kiara dan dia terlihat cemas.


"Dari kampusku, Bi."


"Kenapa kamu ke kampus? Bukannya kamu tidak mengikuti OSPEK?"


"Lagi ingin mencari teman saja. Lagi pula aku ada janji ingin makan bakso sama Momo."


"Kiara, apa benar kamu tadi ke kantorku dan memberikan kotak makan pada sekretarisku?"


Kiara melirik dengan kesal pada suaminya. "Iya, tapi Mas sedang asik berciuman dengan wanita lain. Makannya aku pergi agar tidak mengganggu kesenanganmu."


"Apa?" Bibi Yaya tampak kaget.


Kiara yang hendak pergi dengan cepat lengan tangannya di tahan oleh Arthur. "Kita belum selesai bicara, Kiara."


"Lepas!" Kiara menepis tangan Arthur dan mendorong dada Arthur agar menjauh darinya. "Berapa banyak sih sebenarnya pacar kamu, Mas? Kamu bilang hanya Selena, tapi ternyata aku sekarang tau siapa kamu!" Kiara berteriak marah dengan air mata yang mengalir.


"Kamu salah paham, Kiara!"


"Salah paham apanya? Aku jelas-jelas melihat dengan mata kepalaku sendiri, Mas! Dia memeluk lalu menciummu."


"Kiara, dia itu temanku waktu aku tinggal diluar negeri dia dalang ke sini untuk menawarkan kerja sama saja, dan ciuman di pipi itu adalah hal biasa yang kami."


"Hal biasa? Mas! Kamu itu suami dari seseorang, dan tidak sepantasnya melakukan hal itu walaupun itu temanku dari luar negeri. Sekalian saja kalian tidur berdua dan katakan hal itu wajar."


"Kiara, bukan seperti itu maksudku. Sayang, dengarkan dulu penjelasanku."


"Aku mau kembali ke rumahku sendiri saja."


"Aku tidak akan membiarkannya, Kiara. Stevi dan aku tidak pernah memiliki perasaan apapun."


"Bagaimana kalau kamu melihat aku dicium seperti itu oleh temanku? Apa bagimu itu hal biasa?"


"Tentu saja aku akan marah, Kiara."


"Egois!" Kiara berlari menuju kamarnya dengan menangis. Jujur saja Kiara sangat sakit hatinya melihat orang yang sangat dicintai dipeluk dan dicium seperti itu. Bagi Kiara itu hal yang sangat menyakitkan.


"Arthur, biarkan saja dulu Kiara. Dia sedang sangat emosi." Tangan Bibi Yaya menahan tangan Arthur.


"Aku harus menjelaskan salah paham ini. Kiara kenapa begitu emosi? Dia seolah tidak percaya padaku."


Bibi Yaya mengajak Arthur duduk dulu dan memberikan segelas air pada Arthur. Arthur segera menghabiskannya dan dia mencoba menenangkan dirinya.


"Kiara bukannya tidak percaya, tapi karena dia sangat percaya padamu, sehingga saat melihat suaminya dipeluk, bahkan dicium oleh wanita lain, dia jadi sangat cemburu. Tidak ada seorang istri yang rela orang dicintainya dicium wanita lain walaupun itu hanya di pipi."


"Dia Stevi temanku dulu dan dia kemarin lusa datang. Dia menghubungiku dan ingin bekerja sama dengan perusahaanku. Dia juga akan menikah, Bi."


"Coba nanti kalau sudah tenang kamu minta maaf dan jelaskan pada Kiara. Setelah menjelaskan, kamu jangan lakukan hal itu lagi karena kamu bukan di luar negeri dan istrimu itu sedang sangat posesif. Sama seperti kamu."