
"Arthur, kamu kenapa tidak meminta izin padaku dulu kalau mau menata bajuku?"
Arthur meletakkan sayuran yang dia pegang. "Apa seorang suami harus meminta izin pada istrinya jika ingin menyentuh benda miliknya? Kiara, aku memang mungkin belum menjadi suami yang baik, tapi setidaknya aku berusaha menjadi suami yang baik untukmu, dan setahu aku suami istri tidak harus memiliki hal privasi yang harus disembunyikan termasuk hal saat aku membuka tas kamu."
Kiara teringat tentang ibu dan ayahnya waktu itu. Mendiang ayahnya sangat terbuka tentang semua hal pada ibu Kiara. Bahkan, tidak ada hal yang mereka berdua tutupi atau sembunyikan. Ponsel pun mereka berdua saling mengetahui kata sandinya, bahkan kartu ATM ayah Kiara juga dipegang oleh ibunya dan ibunya pun bisa menjaga semua itu dengan baik sehingga jarang sekali kedua orang tua Kiara ada masalah.
"Iya, tapi aku malu kamu harus melihat sesuatu yang tidak seharusnya kamu lihat."
"Pakaian dalammu? Kenapa harus malu? Kamu harus malu jika dilihat pria lain yang bukan suamimu. Kalau mau kamu juga bisa melihat pakaian dalam milikku di lemari." Arthur menahan wajah malunya dengan berbalik badan pura-pura mencuci buah-buahan.
"Siapa juga yang mau melihatnya," gerutu Kiara yang sekarang berdiri di tempat memasak.
Kiara menyuruh Arthur berganti baju karena dia akan membuat sup ayam seperti apa yang dia bilang. Arthur berjalan menuju lantai dua kamarnya. Saat melewati ruangan yang tadi dia bilang adalah gudang, Arthur berhenti sejenak dan melihat ke arah Kiara yang tengah sibuk memasak.
"Aku minta maaf, Kiara. Aku terpaksa berbohong mengatakan kalau ini adalah gudang." Arthur tersenyum sendiri.
Ruangan itu sebenarnya adalah kamar yang Arthur memang siapkan jika ada keluarga yang mau menginap di sana, tapi saat Kiara bilang setuju tinggal di sana, seketika Arthur sulap itu menjadi sebuah gudang dengan menaruh barang-barang yang tidak terpakai yang ada di rumah mendiang ibunya.
Beberapa menit kemudian. Sup buatan Kiara sudah selesai dia buat, Kiara mencoba mencicipi masakan buatannya apa sudah pas seperti yang dia inginkan.
"Sup ini rasanya--."
Seketika Kiara meneteskan air matanya dan menangis. Arthur yang baru saja turun dari lantai kamarnya melihat heran pada Kiara yang berdiri membelakanginya.
"Dia menangis kenapa?"
Arthur berjalan mendekat dan dengan lembut dia memeluk istrinya itu. Kiara yang mendapat pelukan hangat dari Arthur seketika terkejut, tapi dia tidak memberontak sama sekali.
"Kamu kenapa?" Dagu Arthur bersandar pada pundak Kiara.
"A-Arthur, aku--." Kiara terdiam sejenak merasakan pelukan lembut nan hangat yang sedang Arthur berikan.
Pria yang sedang memeluk Kiara itu pun sekarang mengangkat kepalanya dan menyandarkan dagunya pada kepala Kiara karena memang postur Arthur yang lebih tinggi dari Kiara.
"Menangis saja dulu sampai kamu puas dan setelah itu kamu bisa bercerita denganku."
Kiara sekarang malah menangis dengan kepala menunduk. "Aku merindukan ibuku, Arthur. Saat mencoba sup dengan resep yang pernah ibuku ajarkan, aku jadi teringat tentang ibuku."
"Setelah ujian kamu selesai, kita akan pergi ke makam ibumu."
"Kamu mau mengantarkan aku ke sana?"
Arthur membalikkan tubuh Kiara menghadap ke arahnya. "Kita berdua akan ke sana karena aku juga sudah lama tidak mengunjungi ibu mertuaku itu."
Kiara menatap Arthur dengan dalam. Dia sekali lagi dapat melihat wajah tulus dari pria di depannya itu.
Saat melihat Kiara seperti ini, kenapa dia ingin sekali mencium gadis di depannya ini? Perlahan tangannya yang seolah tidak bisa dia kendalikan menarik dagu Kiara, dan dia perlahan mengecup bibir gadis itu. Kiara pun tidak tau, kenapa dia malah tidak berusaha menolak ciuman itu. Tubuhnya seolah tidak bisa dia ajak kerja sama untuk menolak ciuman Arthur. Dia malah diam saja merasakan ciuman lembut dari pria yang ternyata selalu ada untuknya.
Tiba-tiba terdengar suara nada dering dari ponsel Arthur. Kiara yang mendengar hal itu seketika mendorong tubuh Arthur hingga ciuman mereka terlepas.
"Aku mau mengambil ponselku di kamar." Kiara berlari kecil dari sana.
"Oh my God!" Arthur mengusap wajahnya kasar. "Siapa yang menggangguku?" Arthur merogoh sakunya dan wajahnya seketika tampak semakin kesal melihat nama yang ada di layar ponselnya.
"Halo, ada apa, Gio?" tanya Arthur malas.
"Kamu kenapa? Tadi bertemu aku kelihatan bahagia, kenapa sekarang suara kamu terdengar sedih? Apa Kiara tidak mau kamu ajak bercinta?"
"Apa kamu menghubungiku hanya untuk menanyakan hal itu? Gara-gara kamu, hal yang aku inginkan jadi tidak tercapai."
"Arthur... Hai Arthur! Apa hal yang sudah aku ganggu?" Arthur mematikan panggilannya. Gio sekarang yang tampak kesal karena rasa penasarannya tidak terjawab.
Arthur melihat ke arah anak tangga dan berharap Kiara segera turun untuk makan siang. "Jangan-jangan dia malah tidak turun karena hal tadi? Apa aku menyusulnya saja?" Arthur tampak berpikir sejenak dengan masih melihat ke arah anak tangga.
Kiara yang di dalam kamar tampak mondar-mandir bingung. Dia apa harus turun dan makan malam dengan Arthur setelah kejadian barusan.
"Aku tidak jatuh cinta padanya. Ciuman tadi hanya hal yang tidak di sengaja. Aku hanya terbawa suasana saja. Kiara, hanya tiga bulan dan tiga bulan akan berlalu dengan cepat." Kiara menarik napasnya dalam.
Tok... Tok
Kiara kaget mendengar suara ketukan pada pintu kamarnya dan dia tau siapa yang mengetuk pintu itu.
"Kiara, ayo kita makan siang bersama, aku sudah lapar dari tadi," ucap Arthur dari balik pintu.
"Kamu makan saja dulu, dan nanti aku akan menyusul kamu. Aku sedang mencari di mana ponselku."
"Apa mau aku bantu mencari atau mencoba menghubunginya?"
"Tidak perlu. Mungkin tertinggal di lemari besarmu. Arthur Sebaiknya kamu makan saja dulu."
"Aku tidak akan makan sampai kamu ikut makan bersamaku." Arthur berjalan pergi dari sana.
Kiara yang mau mengatakan sesuatu, tapi tidak jadi karena dia tau jika Arthur sudah pergi dari sana. "Dia itu benar-benar ingin membuatku malu sepertinya, atau dia penasaran ingin mengetahui reaksiku setelah aku diam saja saat dia menciumku. Aku sebaiknya keluar dan ikut makan siang dengannya, aku akan menunjukkan padanya kalau ciuman tadi hanya hal yang tidak berarti bagiku."
Kiara ini coba menunjukkan bahwa dirinya tidak lemah di mata Arthur, dan dia tidak merasakan apa-apa dengan ciuman yang Arthur tadi berikan.
Namun, sebenarnya dalam hati kecil Kiara, dia merasakan hal yang tidak pernah dia rasakan sebelumnya saat bersama dengan Elang.