
Arthur sekali lagi membaringkan tubuh Kiara di atas tempat tidur dengan tidak melepaskan ciumannya. Kiara pun mencoba mengimbangi suaminya itu walaupun dalam hatinya saat ini ada rasa yang dia sendiri tidak tau apa? Tapi rasanya sangat tidak Kiara sukai. Dia seolah berperang dengan sesuatu dalam dirinya.
Tangan Arthur sudah masuk ke dalam baju Kiara dan dia dengan lembut mengusap perut rata dan kecil milik Kiara.
Kiara terasa semakin sesak saat tiba-tiba kenangan buruk bersama Arthur muncul tanpa dia harapkan.
"Arthur, hentikan!" serunya dengan nada bicara tinggi.
Arthur yang mendengar hal itu seketika kaget dan langsung melepaskan ciumannya. Kedua mata Arthur menatap Kiara dengan bingung.
Terlihat dada Kiara naik turun. Pun keringatnya tampak membasahi wajah Kiara.
"Ara, kamu kenapa?" Arthur mencoba mencari tau ada apa dengan istrinya? Tangannya perlahan mengusap wajah Kiara agar istrinya itu terlihat tenang.
Kiara malah dengan cepat menangkis tangan Arthur. "A-aku mau ke kamar mandi dulu." Kiara mendorong tubuh Arthur dan setelah Arthur beranjak dari tubuh Kiara, gadis itu segera berlari ke dalam kamar mandi.
"Kenapa dia?" Arthur masih bingung dengan apa yang terjadi dengan Kiara.
Kiara menangis menyandarkan punggungnya pada daun pintu hingga tubuhnya jatuh ke lantai dan dia mencoba menahan suara tangisannya agar tidak di dengar oleh Arthur.
"Aku tidak bisa. Kenapa aku seperti ini? Arthur suamiku dan aku pun sudah menerima hal itu, bahkan aku sudah jatuh cinta padanya, tapi kenapa kejadian buruk itu masih belum benar-benar menghilang dari pikiranku?"
Arthur yang sekarang berdiri di depan pintu kamar mandi mendengar lirih suara tangisan Kiara. Dia ingin mengetahui kenapa dengan istrinya? Apa dia sudah berbuat kasar dengan perbuatannya tadi?
Tok ... Tok!
"Kiara, kamu baik-baik saja, kan? Aku minta maaf jika tadi sudah berbuat terlalu kasar sama kamu."
"Kiara, jangan seperti ini. Jujur saja aku khawatir sama kamu, tidak bisakah kamu keluar dan kita membicarakan masalah yang kamu rasakan?"
Kiara menghapus air matanya, dan segera beranjak berdiri. "Mas, aku baik-baik saja. Kamu tunggu saja di meja makan dan aku akan segera ke sana."
Arthur tidak mau membantah apa yang Kiara inginkan. Arthur turun ke lantai bawah dan dia akan menunggu Kiara di bawah.
Arthur duduk di meja pantry yang ada di dapurnya sembari menikmati kopi buatannya dan dia pun tak lupa membuatkan Kiara susu hangat yang nanti bisa istrinya itu nikmati.
" Halo, Kak Arthur," terdengar suara Isak tangis pada layar ponsel Arthur.
"Mega, ada apa?"
"Kakak di mana? Aku cari di rumah mendiang ibu, tapi Kakak tidak ada. Aku mau bicara sama kamu, Kak."
"Aku sedang tidur di apartemenku, memangnya ada apa? Dan kenapa kamu sampai menangis?"
"Kalau begitu aku ke sana saja sekarang. Aku tidak mau tidur di rumah malam ini."
"Tunggu, Mega! Aku juga mau pergi dari A
apartemenku karena di sini aku hanya mengambil sesuatu yang tertinggal. Mega, kamu tidak pernah seperti ini, ada apa?"
"Mama sudah keterlaluan, kenapa dia malah menjodohkan aku dengan Elang mantan kekasihnya sahabatku sendiri."
"Apa?" Arthur pura-pura kaget mendengar hal itu. "Apa kamu serius dengan yang kamu katakan, Mega? Bagaimana bisa?"