
Mega seolah terbang ke angkasa saat mendengar apa yang Elang katakan, tapi beberapa detik kemudian dia melihat dengan bibir mengerucut pada Elang.
"Kamu mengatakan hal ini dari lubuk hati kamu yang paling dalam atau hanya ingin agar aku merasa senang dan tidak bicara tentang sikap kamu sama mamaku?"
Elang malah tersenyum miring. "Terserah kamu mau berpikir apa, yang jelas aku memang suka melihat seorang gadis rambutnya dikuncir. Dia jadi terlihat lebih rapi dan bersih." Elang berjalan pergi dari sana, dia mau menuju kasir untuk membayar.
Mega yang terdiam sejenak kemudian dia menyusul Elang ke meja kasir. "Elang, aku mau membeli ikat rambut ini. Terima kasih atas pemberiannya."
"Sama-sama, Mega." Elang tersenyum miring kemudian dia membayar apa yang dia beli.
Di toko baju, Kiara tampak berada pada lorong yang menjual beberapa baju anak kecil.
"Baju ini lucu sekali! Gambarnya juga lucu, apa lagi warnanya aku sangat suka." Kemudian dia beralih lagi kepada celana pendek berbahan jeans yang bisa digunakan anak umur satu tahun. "Ini juga lucu sekali! Ya ampun! Kenapa baju-baju ini sangat lucu-lucu," puji Kiara gemas sendiri.
"Kiara, kamu sedang apa? Kenapa malah lihat di baju anak-anak?" Tiba-tiba suara Arthur datang dari arah belakang, sontak saja Kiara kaget sampai dia menabrak tubuh suaminya.
"Mas Arthur, kamu mengagetkan saja. Aku sedang melihat baju anak kecil karena ini lucu-lucu sekali, Mas."
Arthur kemudian melihat baju yang ada di tangan Kiara. Tangan kiri Kiara memegang baju untuk anak perempuan, dan di tangan kanannya memegang baju untuk anak laki-laki.
"Bajunya memang lucu-lucu sekali. Andai kita memiliki bayi yang lucu, akan aku beli semua yang ada di toko ini," ucapan Arthur.
"Terlalu banyak, Mas. Bayi itu akan cepat tumbuhnya. Jadi, tidak perlu baju yang terlalu banyak, nanti yang ada malah boros jatuhnya." Tetap saja sifat naluri seorang wanita.
"Kamu mau membeli baju-baju itu untuk apa, Kiara? Kamu saja belum hamil."
"Memangnya kenapa kalau cuma lihat? Apa tidak boleh?" Wajah Kiara seketika mengkerut kesal. Arthur yang melihat sikap istrinya itu hanya bisa menghela nafasnya pelan.
"Sepertinya memang istriku ini mau datang bulan, dia galak sekali," gerutu Arthur.
"Mas Arthur berbicara sesuatu?" Kiara yang sedang mengembalikan baju tidak mendengar apa yang suaminya barusan katakan.
"Aku tidak berbicara apa-apa. Kamu mau membeli baju yang mana biar aku yang membayarnya?"
"Tidak jadi beli!" serunya terdengar kesal. "Aku tidak mau membeli baju, aku mau membeli aksesoris saja untuk nanti aku berikan pada mba Tami."
"Jangan marah, Sayang, aku tadi tidak bermaksud menyinggung kamu."
"Aku tidak marah, Mas, tapi aku hanya kesel saja." Kiara berjalan keluar dari toko itu dan dari kejauhan dia melihat Elang dengan Mega sudah keluar dari toko itu, mereka sekarang masuk ke dalam toko yang menjual aneka makanan oleh-oleh khas dari tempat itu.
Kiara masuk ke dalam toko aksesoris itu dan dia melihat-lihat semua yang ada di sana.
"Kiara, kamu mencari apa?" tanya Tia
"Aku tidak tahu, Tia, di sini barang-barangnya bagus semua aku sampai bingung mau membeli apa?"
"Kamu beli saja ikat pinggang untuk kekasih kamu atau dompet di sana bagus-bagus loh."
Kiara ingat isi lemari milik suaminya yang banyak sekali ikat pinggang dan juga dompet beserta koleksi jam tangan yang tertata sangat rapi dalam walk in the closet milik Arthur.
"Dia tidak membutuhkan itu, Tia, dia sudah memiliki banyak sekali aksesoris, tapi aku ingin membelikan sesuatu yang lain yang sekiranya dia belum punya. Apa ya?" Kiara tampak berpikir."
"Berikan saja cintamu," celetuk Tia sembari tertawa.
"Kalau itu sudah aku berikan dari dulu."
Tia seketika mendekat pada Kiara. "Ara, aku ingin bertanya sama kamu," suara Tia tiba-tiba menjadi lirih.
"Bertanya apa?"
"Kamu dan kekasih kamu pernah apa saja?"
Kedua alis Kiara mengkerut, dia pun agak menjauh dari wajah Tia.
"Maksud kamu?"
"Itu apa?" tanya Kiara yang memang tidak paham maksud Tia.
"Kiara! Hal seperti itu saja tidak tau. Sudah pernah tidur dan melakukan hubungan suami istri dengan kekasihmu."
"Oh itu."
"Iya, pernah tidak?"
Kiara bingung mau menjawabnya karena Kiara memang pernah melakukan hal itu secara tidak sengaja, tapi sekarang dia sudah menikah dan malah sering.
Kiara menggeleng pelan. "Serius belum pernah?"
"Nanti kalau aku dan dia sudah menikah, aku baru melakukannya."
"Kalau itu memang harus dan karena itu adalah kewajiban kamu."
"Kalian sedang bicara apa sih? Kenapa terlihat serius? suara Arthur mengagetkan mereka berdua.
"Kak Arthur, bikin kaget saja. Kita ini sedang membicarakan hal yang sangat serius."
"Nanti saja dilanjutkan, kita harus kembali ke hotel karena kata Mega kalian sudah ditunggu untuk makan pagi bersama dengan yang lainnya."
"Ya ...! Aku tidak jadi bicara hal penting dengan Kiara."
"Kalian mau di sini apa mau terkena omelan guru kalian?"
"Iya, Kak."
Tia berjalan di lebih dulu di depan Kiara. Arthur menggandeng tangan Kiara untuk mengajaknya berjalan menuju hotel.
"Mas, jangan bergandengan seperti ini, nanti kalau mereka lihat, apa yang harus aku katakan?"
"Katakan saja kamu sedang digandeng oleh suamimu."
"Andai semudah itu."
Mereka berdua akhirnya hanya berjalan beriringan sampai di hotel. Di sana guru mereka sudah menunggu untuk sarapan pagi bersama dan terakhir sebelum mereka besok pulang ke kota asal.
Semua duduk di satu meja panjang dan saling menikmati makanan sembari bersenda gurau dan saling bercerita.
Kiara melihat dari kejauhan, suaminya sedang duduk sendirian menikmati makannya. Dia ingin sekali duduk di sana menemani suaminya, tapi tentu saja hal itu tidak bisa dia lakukan.
"Selamat pagi."
Arthur mendongak melihat seorang wanita berdiri di depannya. "Pagi, kamu siapa?"
"Perkenalkan, namaku Jennifer. Apa aku boleh duduk di sini?"
Arthur mengedarkan pandangannya melihat bahwa di restoran itu masih banyak tempat duduk yang kosong.
"Bukannya di sini masih banyak tempat duduk yang kosong. Kenapa malah meminta duduk di mejaku?"
"Aku tertarik ingin berkenalan denganmu sejak kemarin aku melihatmu."
"Aku sudah menikah," ucap Arthur tegas.
Dari kejauhan Tia yang melihat Arthur di dekati oleh seorang wanita bertanya pada Mega yang duduk sebelah Kiara.
"Mega, apa itu kekasih kakak kamu? Cantik sekali."
"Mana?" Mega langsung mengedarkan pandangannya. Pun dengan Kiara juga langsung melihat ke arah meja suaminya dengan cepat.
"Aku tidak mengenalnya, tapi memang kakakku belum pernah mengenalkan aku dengan kekasihnya. Kalau dulu aku hanya tau dia punya kekasih bernama Selena, tapi mereka sudah putus."