Be Mine

Be Mine
Aku Bersamamu



Kiara tidak mau menceritakan di telepon tentang apa yang tadi mamanya katakan semua pada Kiara. Kiara tidak mau Arthur nanti marah dan langsung menegur mamanya. Kiara tidak mau membuat kedua orang yang adalah mama dan anak bertengkar.


"Mas, kalau kamu masih ada keperluan dengan keluargamu, aku bisa pulang sendiri."


"Kamu pulang dengan mobil online dan aku mengikutimu di belakang. Jangan pulang sendirian!" Arthur harus sedikit tegas pada Kiara karena dia tau sifat istrinya yang keras kepala itu.


Akhirnya Arthur pamit pada keluarganya untuk pulang karena dia besok pagi ada rapat penting.


"Arthur, besok lusa mama ingin mengajak kamu datang ke acara penggalang dana untuk orang-orang penderita kanker, di mana mama yang menjadi ketua di acara itu, bukannya kamu tidak pernah melewatkan acara itu, Arthur."


"Aku akan datang, Ma, tapi mungkin aku tidak bisa lama seperti biasanya." Tentu saja sekarang Arthur tidak bisa sering pulang larut karena ada istrinya yang menunggunya di rumah.


"Iya, tidak apa-apa, Sayang, tapi kamu harus datang karena kamu juga salah satu donatur terbesar di sana."


Arthur mengangguk. Alan menghampiri putranya itu dan mengajaknya berjalan agak menjauh dari istri dan anaknya.


"Ayah, kapan kembali ke Kanada?"


"Malam ini juga ayah akan kembali, Nak."


"Take care, Dad."


"Kamu juga, jaga dirimu dan Kiara. Arthur, dad wants to hear happy news from you soon."


"Aku dan Kiara masih berusaha dalam hal itu, Yah." Arthur tersenyum kecil dan mereka berdua saling berpelukan dengan hangat.


Arthur segera beranjak pergi dari sana karena tidak mau Kiara sampai menunggunya.


"Sayang, apa yang kamu dan Arthur bicarakan?" tanya Alexa penasaran.


"Hanya urusan bisnis. Alexa, sebaiknya kita pulang sekarang karena aku harus segera menyiapkan keberangkatanku."


Kiara naik mobil online dan dia benar ternyata Morgan mengawasi Kiara. Dia ingin tau Kiara pulang dengan siapa, dan saat dia mengetahui Kiara naik mobil online rasa penasarannya terjawab.


Kiara berhenti di suatu tempat dan dia segera turun kemudian naik ke mobil Arthur yang mengikutinya.


"Hai, Sayang." Arthur mengusap lembut pipi Kiara, tapi Kiara hanya menanggapinya dengan senyum kecil. "Kita pulang."


Mereka sampai di apartemen dan Kiara langsung naik ke kamarnya. Dia ingin mandi air hangat dan kemudian tidur.


Kiara berdiri di bawah guyuran air hangat yang keluar dari shower di kamar mandinya. Dia teringat dengan semua apa yang diucapkan oleh ibu mertuanya.


"Apa mau bercerita padaku tentang yang sedang kamu pikirkan?" Kiara merasakan sebuah tangan menyentuh punggungnya yang polos.


Tangan Arthur sekarang menarik lembut perut rata Kiara dan mendekatkan tubuhnya dengan tubuh polos Kiara.


"Mas, apa kamu akan meninggalkan aku jika orang yang kamu sayangi tidak menyukai aku bersamamu?"


"Kiara, ini hidupku dan aku bukan anak kecil lagi yang harus diatur segala sesuatunya. Aku yang menentukan hidupku sendiri." Arthur menyematkan kecupan kecil pada pundak Kiara yang membuat Kiara tampak merasa geli dengan kecupan bertubi-tubi Arthur.


"Mas, tapi kalau dia orang yang kamu sayangi dan sangat berharga buatmu, bagaimana?"


"Apa maksudmu dengan bertanya seperti itu? Apa kamu mau meninggalkan aku, Kiara?"


Kiara seketika menoleh dan menggelengkan kepalanya dengan cepat. "Aku tidak mau jauh darimu, Mas.


"Kalau begitu, tidak perlu memperdulikan apa yang orang lain katakan. Kamu akan terus dan selamanya menjadi milikku, bahkan jika ibuku yang melarang, aku akan tetap bersamamu."


Arthur mulai perlahan ******* lembut bibir Kiara. Tangan Kiara pun merangkul leher Arthur dengan kaki berjinjit.


"Aku mencintaimu, Mas," ucap Kiara saat ciuman mereka terlepas.


***


"Ini semua gara-gara Mas Arthur! Aku jadi bangun kesiangan. Kenapa dia suka sekali membuat aku tidak bisa menolak saat diajak bercinta?" Kiara malah mengomel sendiri.


Dia segera bangun dan berdiri bingung mau melakukan apa? Kiara segera mengambil bajunya yang semalam dibuang Arthur seenak.


Setelah memakai bajunya dia pergi ke dapur untuk membuat sarapan pagi. Kiara hanya membuat nasi goreng dan telur mata sapi, dia juga tidak lupa membuatkan teh hijau untuk suaminya.


"Mas Arthur ini belum bangun? Apa dia lupa kalau ada rapat penting hari ini?"


Kiara segera kembali ke dalam kamar dan benar saja kalau suaminya itu masih tertidur nyenyak.


"Ya ampun! Dia biasanya bangun sendiri kalau sudah mendekati jam kerjanya." Kiara mencoba membangunkan suaminya, tapi Arthur masih saja tidur dengan nyenyak. Sepertinya semalam benar-benar membuatnya lelah.


"Tidak ada cara lain lagi. Aku harus menggunakan cara itu untuk membangunkannya."


Kiara mengecupi bibir Arthur dengan perlahan-lahan, dia juga memainkan tangannya seperti apa yang Arthur biasa lakukan padanya. Kiara yang polos ini sebenarnya tidak pintar dalam hal itu, tapi suaminyalah yang secara tidak langsung mengajarinya.


Kiara terkekeh sendiri melihat wajah aneh dari suaminya dan akhirnya pria di bawah Kiara itu membuka kedua matanya.


"Oh God! Kamu mau lagi? Apa masih kurang semalam?"celoteh Arthur.


"Siapa yang minta lagi? Aku hanya ingin kamu bangun, Mas. Lihat sekarang jam berapa? Kamu tidak ke kantor, katanya ada rapat penting."


Arthur melihat jam di kamarnya dan seketika dia langsung terbangun. Arthur dengan cepat masuk ke kamar mandi. Kiara menyiapkan baju untuk Arthur.


Kiara melayani suaminya dengan sangat baik Mereka pun makan pagi bersama. "Mas, nanti aku boleh pergi bersama dengan Mega?"


"Mau ke mana?"


"Belanja. Mega tadi mengirim pesan ingin mengajak aku belanja kebutuhan yang akan dia bawa waktu acara rekreasi sekolah kami."


"Oh iya! Kamu mau pergi berekreasi ya." Arthur tampak berpikir sejenak.


"Kenapa? Jangan bilang kamu melarang aku untuk ikut."


"Tidak, kamu boleh ikut."


"Hanya tiga hari, Mas, setelah itu aku akan bersama kamu di sini sampai nanti kuliah aku masuk."


"Iya, Ara, kamu boleh ikut acara itu, kamu nanti juga boleh belanja dengan Mega. Gunakan uang yang aku berikan sesukamu."


"Tidak mau, Mas."


"Kenapa?"


"Nanti Mega curiga aku bisa belanja semua kebutuhan itu dari mana?"


"Bilang saja sisa uang tabungan yang disimpan ibumu."


"Oh iya, Mega 'kan, taunya aku masih ada sisa uang tabungan dari ibu."


Arthur kemudian melihat Kiara dengan pandangan yang membuat Kiara seketika bingung.


"Ada apa, Mas?"


"Kiara, nanti kalau belanja, kamu jangan lupa membeli baju yang bisa digunakan tiap malam saat kita mau tidur.


"Baju? Bukannya baju tidur kamu masih banyak, Mas?"


"Bukan untukku, tapi untuk kamu."


"Aku? Aku tidak membutuhkan baju tidur lagi, Mas, punyaku yang dari rumah masih bisa digunakan dan aku nyaman memakai itu."